SABTU, 8 OKTOBER 2016

MAUMERE --- Tim Pembela Demokrasi Indonesia wilayah provinsi NTT (TPDI NTT) mendukung penuh penghapusan hukuman mati di Indonesia sebab hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.



Demikian disampaikan Kordinator TPDI NTT Meridian Dewanta Dado,SH kepada Cendana News, Sabtu (8/10/2016).Dikatakan Meridian, praktek eksekusi hukuman mati adalah merupakan tindakan penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan harkat martabat seseorang. 

Dengan model sistem peradilan pidana di Indonesia yang masih rapuh dalam pengawasannya serta penuh manipulasi dalam proses pembuktiannya maka menurut TPDI NTT adalah sangat beresiko sekali untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap seseorang pelaku tindak pidana. 

Oleh karenanya melalui keberadaan Herman Jumat Masan alias Herder dan Gaudensius Resing alias Densy selaku para Terpidana Mati di Provinsi NTT maka hal itu harus menjadi tonggak bagi masyarakat Provinsi NTT dan Gereja Katholik setempat dalam memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati di Indonesia.


“Keberadaan 2 terpidana mati kasus pembunuhan berencana di provinsi NTT haruslah dijadikan sebagai momentum untuk memperjuangkan penghapusan dan penolakan penerapan hukuman mati dalam stelsel hukum pidana di negeri ini,” ujarnya.

Terpidana Mati atas nama Herman Jumat Masan adalah seorang Pastor (Rohaniwan Katholik) yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2014 karena terbukti membunuh kekasih gelapnya di Kabupaten Sikka yaitu seorang Suster bernama Merry Grace serta menghabisi nyawa 2 anak hasil hubungan gelap keduanya. 

Sementara Gaudensius Resing adalah terpidana mati yang telah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Agung RI pada tahun 2003 karena terbukti melakukan pembunuhan di Kabupaten Sikka pada tahun 2002 terhadap istrinya Etropia Salviana, adik iparnya Esmarion Kondradus dan ibu mertuanya Bernadeta Bi. 

Semua masyarakat kata TPDI NTT tentunya sangat mengutuk dan mengecam keras pembunuhan keji yang dilakukan oleh kedua terpidana mati tersebut, bahkan kita pun harus sepenuhnya memahami riuhnya tuntutan keluarga korban pembunuhan yang mati-matian mendukung hukuman mati.

Namun demikian jelas TPDI NTT,kita juga harus menyadari bahwasanya seberat apapun sanksi pemidanaan berupa hukuman mati sekalipun tidak akan pernah bisa menimbulkan efek jera bagi sistem penegakan hukum kita.

“Disamping itu pandangan Gereja Katholik secara tegas menolak penerapan hukuman mati tanpa kualifikasi apapun sebab hidup dan kehidupan manusia adalah suatu hal yang suci serta harus dijaga dan dihormati oleh siapapun juga,” papar Meridian.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary 

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: