RABU, 12 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Umat Hindu yang beribadah di Pura Penataran Agung Kertha Bumi Taman Mini Indonesia Indah (TMII) selain berasal dari wilayah sekitar taman mini seperti daerah jatiwaringin, lubang buaya, juga banyak datang dari daerah pondok gede, jatiasih, kranggan, dan beberapa wilayah Jabodetabek lainnya.


Tata kehidupan umat Hindu di Pura Penataran Agung Kertha Bumi berjalan Seperti layaknya kehidupan masyarakat asli pulau Bali pada umumnya dimana budaya dan agama menjadi satu kesatuan utuh didalamnya.

Masyarakat Hindu di Pura tersebut membentuk Banjar atau semacam RT/RW (Rukun Tetangga/Rukun Warga) yang akhirnya berkembang menjadi sebuah yayasan bernama Yayasan Banjar Hitakarma di daerah Pondok gede Bekasi dengan beranggotakan kurang lebih 200 kepala keluarga. Dan yayasan inilah yang mengelola Pura Penataran Agung Kertha Bumi TMII dari mengurus kegiatan sehari-hari, peribadatan, sampai masalah renovasi dan lain sebagainya.

Tercatat pada tahun 2007 Pura Penataran Agung Kertha Bumi dinyatakan mengalami beberapa kerusakan fisik dan memerlukan renovasi dengan biaya cukup besar. Maka dengan swadaya umat serta sumbangan donatur yang dikoordinir oleh Yayasan Banjar Hitakarma maka pada tahun 2008 Pura berhasil di renovasi untuk kemudian diresmikan tanggal 14 Oktober 2008 dalam sebuah sakramen upacara suci yang cukup besar sebagai ungkapan rasa syukur.


" Mulai dari kegiatan keagamaan sehari-hari, kebersihan, renovasi, dan lain sebagainya kami lakukan bersama dan atas swadaya kami semua serta dengan bantuan para donatur dari umat Hindu se-Jabodetabek," terang I Gusti Made Priksa Pengurus Pura dari Banjar Pondok gede sekaligus Dewan pengawas Yayasan Banjar Hitakarma.

Yayasan Banjar Hitakarma juga memiliki sebuah lembaga pendidikan agama Hindu berbentuk sekolah dari tingkat SD sampai SMA.

" Sesuai makna dari nama Pura ini maka kami berpendapat bahwa kami harus bisa pula mengayomi umat Hindu yang ada disini dengan memberikan fasilitas pendidikan dan keagamaan sekaligus," lanjut Made Priksa.

Selain kegiatan-kegiatan diatas, ada satu kegiatan rutin yang terus dijaga kelangsungannya oleh Yayasan Banjar Hitakarma bersama Pura Penataran Agung Kertha Bumi, yaitu Paguyuban lintas agama. Forum komunikasi antar para pemeluk agama ini rutin mereka adakan sebagai wujud dari membina keharmonisan antar pemeluk agama yang ada.

Keanggotaan paguyuban terdiri dari masyarakat, ulama, dan simpatisan lain yang memang perduli akan pentingnya terus menjaga keharmonisan khususnya antar pemeluk agama di indonesia khususnya wilayah Jabodetabek.

" Pertemuan kami rutin setiap minggu dan biasanya diadakan bergiliran di tempat peribadatan masing-masing. Tidak ada sekat diantara kami, dan semua berjalan dengan lancar sejauh ini," jelas Made Priksa.

Bagi Made Priksa dan umat Hindu, khususnya umat Pura Penataran Agung Kertha Bumi, yang menjadi kunci dari sebuah keharmonisan diantara masyarakat berbeda suku dan agama adalah bagaimana menghormati satu sama lain.

Apa yang dilakukan oleh Yayasan Banjar Hitakarma bersama Pura Penataran Agung Kertha Bumi dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama merupakan wujud pengamalan falsafah hidup umat Hindu itu sendiri yakni Tri Hita Karana yang berarti sebuah keharmonisan dari manusia dengan Tuhan, alam sekitar, dan sesama manusia. Atau dengan kata lain, manusia sebagai seorang makhluk sosial ciptaan Tuhan dalam keyakinan Hindu harus bisa menjaga keseimbangan hubungannya dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

" Tanpa adanya kesadaran dari manusia untuk terus menjaga keseimbangan hubungan tersebut maka tidak akan pernah tercapai keharmonisan. Manusia tidak boleh jahat terhadap sesamanya, terhadap alam, terlebih lagi terhadap Sang Pencipta," lanjut Made.

" Manusia adalah titik pusat bagaimana keharmonisan itu bisa terwujud," pungkasnya.

Derajat manusia dihadapan Tuhan adalah sama. Tuhan tidak pernah membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Dan sudah sepantasnya manusia menjawab anugerah Tuhan tersebut dengan menjaga apa yang menjadi titipan Tuhan bagi manusia itu sendiri, yakni bumi dan seisinya dimana manusia juga hidup didalamnya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: