MINGGU, 9 OKTOBER 2016

JAKARTA --- Para tokoh pemimpin bangsa dan para pakar ekonomi Indonesia sesungguhnya sudah lama telah berusaha untuk menata suatu sistem perekonomian yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.


Namun ternyata rupanya hingga saat ini berbagai upaya untuk mewujudkan impian tersebut belum berhasil terlaksana dengan baik, salah satu sebabnya mungkin karena adanya perbedaan soal pendapat, perbedaan soal konsep dasar yang tentu saja mempunyai tujuan yang berbeda pula.

Ada baiknya pada saat seperti sekarang ini, tokoh-tokoh nasional bersama dengan beberapa  Perguruan Tinggi atau Universitas yang selama ini telah memperjuangkan Pancasila. Hal tersebut sesuai dengan tugas daripada Perguruan Tinggi yang dikenal dengan Tri Darma nya, yaitu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masayarakat.

Perguruan Tinggi atau Universitas hendaknya harus mampu menunjukkan eksistensinya dan jangan hanya berfungsi sebagai "Manara Gading" saja, yaitu hanya mampu menjadi simbol berbagai teori namun kurang memberikan kontribusi saran dan pemecahan masalah.

Indonesia selama ini dikenal kaya akan berbagai sumber daya alam luar biasa yang terkandung didalamnya sehingga memberikan kesempatan untuk menjadi negara yang adil dan makmur. Di masa yang lalu mungkin kemampuan teknologi dan sumber daya manusia yang kita miliki belum cukup memadai, sehingga hasil yang dicapai juga belum optimal.

Namun setelah Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 atau 71 yang lalu tahun, perlahan tapi pasti seharusnya Bangsa Ibdinesia sudah waktunya mampu membenahi sistem ekonomi sendiri dan kita kembangkan sendiri sesuai dengan perkembangan jaman.

Tentu saja tingkat kemampuan dewasa ini terus dikembangkan sesuai dengan kondisi yang dihadapi aar tingkat kemampuan yang dicapai terus mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan yang diharapkan di tengah perekonomian global yang cukup sulit akhir-akhir ini

"Indonesia mungkin harus mampu memberikan contoh suatu model Sistem Ekonomi Pancasila sebagai suatu alternatif terhadap kekurangan yang ada pada sistem ekonomi liberal dan sosialis dalam menjawab tantangan jaman yang semakin kompleks, pada awal abad ke 21 kita melihat betapa semakin kuatnya tuntutan berbagai isu global dalam masalah lingkungan hidup di samping  masalah Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokratisasi" kata Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia saat berpidato di Kampus Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta, Sabtu (1/10/2016).

"Sebenarnya Sistem Ekonomi Pancasila mampu memenuhi kriteria menjawab tantangan jaman dengan membangun teori dan model yang tepat sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, maka Indonesi dapat memperkenalkan sistem ekonomi yang ramah lingkungan dan memberi solusi berbagai masalah isu global terutama tentang HAM melalui kemanusiaan yang adil dan beradab demikian juga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" kata Try Sutrisno, yang tercatat pernah menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Try Sutrisno juga menjelaskan bahwa yang perlu dirumuskan dan dikembangkan adalah strategi ekonomi atau bisnis ekonomi yang ramah lingkungan dan berdasarkan Pancasila. Selanjutnya dengan mengambil pelajaran dan hikmah berbagai kesulitan ekonomi masa lalu maupun masa kini, maka bukan tidak mungkin akan dapat dirumuskan strategi dasar dan strategi kontemporer untuk mengatasi berbagai kesulitan baik masa maupun masa yang akan datang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Try Sutrisno juga menambahkan bahwa untuk itu sangatlah penting menyamakan sikap yang sama bagi kita semua untuk berpikir ulang apabila ingin mengkaji rencana perubahan UUD 1945. Karena dengan adanya perubahan terhadap terhadap UUD 1945 yang tercatat pernah terjadi pada tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002 maka sesungguhnya sistem ekonomi yang selama ini kita anut kurang sesuai dengan Sistem Ekonomi Pancasila.

Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Eko Sulestyono
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: