SABTU, 15 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Dua siswa SMAN 1 Karangmojo, Gunungkidul yang berhasil menyabet medali emas dalam ajang Festival Inovasi Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) menyebutkan, pakan ayam yang dibuatnya dengan bahan undur-undur laut dan limbah kulit ari kedelai merupakan potensi lokal Gunungkidul yang tersedia melimpah.


Fauzan Diki Romadhon dan Albertus Tuhu Setyo Nugroho, keduanya siswa Kelas XII Sekolah Menengah Atas Negeri Karangmojo, Gunungkidul, berhasil memformulasikan undur-undur laut dan limbah kulit ari kedelai menjadi pakan ayam berprotein tinggi dengan mencampurnya dengan bahan-bahan lain seperti tetes tebu dan daun pepaya.

"Undur-undur laut yang oleh warga disebut jingking, sangat banyak ditemukan di pantai-pantai yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Ini merupakan potensi lokal kami yang pemanfaatannya belum maksimal," ujar Fauzan Diki Romadhon yang didampingi rekan timnya, Albertus Tuhu Setyo Nugroho di Yogyakarta, Sabtu (15/10/2016).


Fauzan mengatakan, ide membuat formula inovasi pakan ayam dengan bahan utama undur-undur laut dan limbah kulit ari kedelai itu terilhami oleh sebuah berita di media massa yang menceritakan tentang warga Gunungkidul yang memanfaatkan undur-undur laut sebagai pakan ayam alternatif. 

Berdasar pengetahuan yang sedikit itu, Fauzan bersama Albertus lalu mengadakan percobaan dan penelitian kecil-kecilan untuk membuat pakan ayam dari undur-undur laut dengan formula yang lebih tepat dan mencampurnya dengan bahan lain yang juga biasa dijadikan pakan ayam seperti daun pepaya.

Setelah beberapa kali melakukan percobaan sejak Februari 2016, Fauzan dan Albertus lalu berhasil menemukan formula yang tepat. Fauzan mengatakan, komposisi pakan ayam buatannya itu setiap 1 Kilogramnya terdiri dari undur-undur laut sebanyak 12 Persen, limbah kulit ari kedelai 12 Persen dan sisanya merupakan daun pepaya, tetes tebu, tepung jagung dan bahan-bahan lainnya.

"Berdasar uji lab, formula pakan yang kami temukan ini kandungan proteinnya lebih tinggi dari pakan ayam pabrikan yang selama ini ada", ungkap Fauzan.

Pakan ayam buatan Fauzan dan Albertus diberi nama Undurla, dijual seharga Rp. 8.000 Perkilogram. Harga tersebut, menurut Fauzan juga lebih murah dari pakan ayam pabrikan lainnya.

Fauzan dan Albertus mengaku setelah lulus sekolah nanti akan mengembangkan pakan ayamnya sebagai bidang wirausaha yang mampu mengangkat potensi lokal daerahnya. 

"Jika sedang musimnya undur-undur laut di bulan Juli-Agustus, sekali tangkap dengan jaring bisa mendapatkan 8 Ton. Padahal, selama ini undur-undur laut hanya dimanfaatkan untuk membuat peyek", pungkasnya. 
[Koko Triarko] 

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: