KAMIS, 13 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Pesona batik kuno asal Bante
n, Jawa Barat, yang disebut batik bubur atau simbut, telah membuat seorang warga asal negeri Belanda rela menghabiskan masa mudanya di Indonesia untuk belajar dan melestarikan teknik batik bubur yang tanpa canting dan malam.



Adalah Philip Boas, seniman asal negeri kincir angin yang sejak tahun 1980 terpesona dengan keindahan batik Indonesia. Ia pun kemudian mencoba belajar membatik di negaranya, namun suasana dan segala hal yang dibutuhkannya untuk bisa membatik tak bisa didapatkan di negaranya. Lagi pula, ia pun juga tak bisa membatik dengan canting.

Philip yang ditemui di studionya di Dusun Dalem, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Kamis (13/10/2016), menuturkan, suatu ketika ia mendapatkan sebuah referensi tentang batik yang dianggapnya sangat unik, yaitu batik simbut asal Banten, Jawa Barat. Batik simbut itu tidak dibuat dengan malam dan alat yang disebut canting. Melainkan dengan kuas dan bahan semacam pasta yang terbuat dari bubur ketan merah dan gula aren yang diekstrasi dengan kulit akar pace.

Pada abad ke-17 Masehi, kata Philip, batik simbut atau batik yang menggunakan bubur sebagai penghalang warna itu mulai dikenal oleh Suku Badui di Banten. Namun dari referensi lain, ia menemukan jika batik tersebut juga dibuat di Norwegia.


Philip mengatakan berdasarkan referensinya itu, batik yang dibuat dengan bubur tersebut bagi Suku Badui bukan sekedar batik biasa. Melainkan semacam simbol yang dipercaya memiliki kekuatan magis yang bisa mencegah pengaruh negatif.

"Batik itu harus digunakan oleh orang Badui ketika melakukan ritual mengikir gigi dan ketika seorang anak akan disunat", ungkapnya.

Semakin banyak mempelajari beragam referensi tentang batik, Philip mengaku keinginannya untuk bisa membatik kian besar. Maka, dengan berbagai daya, ia berupaya agar bisa ke Indonesia untuk belajar batik. Lalu, pada tahun 1988, ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, sayang, ternyata di ISI itu ia tak boleh belajar membatik.

"Waktu itu orang asing tidak boleh belajar batik, karena batik dilindungi. Saya hanya dibolehkan belajar melukis batik", ujarnya.


Kendati merasa aneh karena dilarang, saat itu Philip mengaku tetap antusias belajar melukis batik di ISI. Selama setahun Philip belajar di ISI, lalu dengan dana sponsor yang diperolehya ia tetap bisa meneruskan tinggal di Indonesia. 

"Selama ini saya tinggal dengan visa kunjungan sosial, sehingga saya tidak melakukan kegiatan komersial, kecuali mempelajari batik sebagai pekerjaan sosial, dengan mengajarkan ilmu batik saya kepada warga di sini", ungkap Philip, sembari mengimbuhkan, jika ia pun mengantongi izin dari dinas terkait untuk mengajarkan keahliannya.

Menurut Philip, batik bubur sangat unik. Kendati sudah tahu jika batik simbut dibuat dari bubur ketan merah, namun untuk membuatnya ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Bahkan, ketika pertama kali mencobanya, Philip mengaku berkali-kali mengalami kegagalan.

Namun, pada akhirnya Philip menemukan formula yang tepat untuk membuat bubur batik itu, yaitu dengan menambahkan tawas dan bensoat sebagai pengawet bubur. Dengan cara itu, Philip akhirnya bisa membuat batik simbut.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: