SABTU, 15 OKTOBER 2016

LAMPUNG --- Limbah sabut kelapa dari sisa pengolahan kelapa kopra mulai dimanfaatkan oleh warga Desa Blora Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Limbah sabut kelapa yang selama ini ada sebelumnya hanya dimanfaatkan oleh para pengrajin batu bata sebagai bahan bakar untuk membakar di tobong bata serta tobong genteng, sebagian bahkan hanya digunakan sebagai bahan bakar memasak. Seiring dengan adanya pemanfaatan limbah sabut kelapa yang diolah menjadi butiran, serabut cocopeat. Cocopeat menurut Rusmini (45) merupakan pengolahan dari sabut kelapa kering yang dihaluskan dengan alat khusus sehingga sebagian menghasilkan serat dan cocopeat yang saat ini dijemurnya. Ia mengaku mendapat kiriman cocopeat sebanyak 2 ton dalam satu bulan yang selanjutnya dijemur untuk proses pengeringan.


Rusmini mengungkapkan cocopeat yang sebagian dijemurnya merupakan milik perusahaan penggemukan sapi (cattle feedlot) skala besar yang akan dimanfaatkan untuk sarana penghangat sebagai alas tempat tidur bagi ternak sapi. Sebanyak 2 ton cocopeat tersebut diletakkan dalam rumah khusus untuk proses pengeringan dengan cara dijemur di tempat terbuka dan setelah kering proses selanjutnya akan dimasukkan dalam karung karung berkapasitas sekitar 25 kilogram.

"Saya hanya bertugas menjemur sementara pengiriman dilakukan oleh anak saya yang bekerja di tempat penggemukan sapi selanjutnya akan digunakan sebagai alas tidur bagi ternak sapi, sisanya dimanfaatkan untuk pupuk,"ungkap Rusmini saat ditemui Cendana News di Desa Blora Kecamatan Palas, Sabtu (15/10/2016).


Cocopeat yang dikeringkan oleh Rusmini merupakan kiriman dari beberapa tukang kopra yang telah diolah di pabrik khusus pembuatan cocopeat. Selanjutnya oleh perusahaan penggemukan sapi berton ton cocopeat dititipkan ke warga sekitar salah satunya Rusmini untuk proses pengeringan dengan sistem upah sebesar Rp1000 per karungnya. Ia mengaku proses pengeringan memperhitungkan cuaca pada hari tersebut dan selama beberapa bulan terakhir dengan kondisi cuaca yang sering hujan terpaksa digunakan terpal khusus untuk menutup jemuran cocopeat yang ada di dekat rumahnya.

Menggunakan penggaruk garpu yang digunakan untuk meratakan jemuran cocopeat, pekerjaan tersebut dilakukan oleh Rusmini sebagai pekerjaan sambilan selain dirinya merupakan peternak kambing. Ratusan karung yang tersimpan di gudang miliknya sengaja diangin anginkan di bekas lokasi penjemuran genteng yang kini sudah tak beroperasi lagi. Rusmini dan suaminya mengaku banting stir dari usaha pembuatan genteng akibat semakin susahnya bahan baku dan minat masyarakat menggunakan genteng dari tanah liat menurun akibat adanya genteng metal. Beruntun sang anak diterima kerja di tempet penggemukan ternak sapi sehingga bisa menjadi penampung untuk pengerjaan penjemuran cocopeat.

Meski sebagian bisa kering namun cocopeat yang sudah tak terpakai dari penggemukan sapi bisa didaur ulang dicampur dengan kotoran sapi menjadi pupuk kompos untuk lahan pertanian. Ia mengaku selama hampir enam bulan sebagian cocopeat yang sudah tak terpakai digunakan untuk pupuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman palawija dan hasilnya cukup memuaskan karena ditambah dengan kotoran sapi.


"Fungsi utama cocopeat memang sebagai pupuk tapi saat masih kering bisa dimanfaatkan di peternakan sebagai alas ribuan sapi yang diternak setelah itu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik,"ungkap Rusmini.

Salah satu warga yang memanfaatkan cocopeat sisa dari peternakan diantaranya Suhadi (45) ia menggunakan cocopeat sebagai pupuk tanaman cabai dan tomat. Selain sebagai pupuk cocopeat menurutnya hanyalah sebuah media tanam seperti saat menanam dengan tekhnik hidroponik. Coco fiber atau coco coir didapat dari sisa sisa hasil pengolahan limbah kopra. Suhadi yang juga sering mengangkut cocopeat untuk kebutuhan peternakan sapi dengan mengirim sebanyak 3 ton perminggu mengaku masih banyak orang yang belum memanfaatkan cocopeat untuk media pertanian.


Cocopeat yang dimanfaatkan petani ungkapnya digunakan sebagai media tanam karena mampu menahan unsur kimia dari pupuk maupun kandungan air serta mampu menetralkan kondisi keasaman tanah. Selain ramah lingkungan cocopeat sering digunakan sebagai bahan pupuk kompos dan sering digunakan dalam budidaya tanaman hias seperti anthurium, anggrek, dahlia serta tanaman bunga lainnya. 

Meski demikian ia mengungkapkan cocopeat masih mengandung nutrisi tanaman yang rendah sehingga kerap dicampur dengan tambahan pupuk organik lain diantaranya kotoran kambing, kotoran sapi serta kotoran kerbau. Sebagian bahkan memanfaatkan pupuk kompis sisa pembusukan daun sebagai tambahan untuk pemanfaatan cocopeat.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Rayvan lesilolo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: