RABU, 19 OKTOBER 2016

PONOROGO --- Menanam padi yang biasanya dilakukan oleh manusia kini bisa lebih cepat dilakukan dengan menggunakan mesin namun tetap memerlukan tenaga manusia untuk menjalankannya. Penggagas alat menanam padi manual, Subagyo Edi Sasmito berhasil memproduksi sendiri alat tersebut.


Warga asal Desa Jenangan Kecamatan Jenagan, Probolinggo mengatakan, karyanya merupakan asli karya anak negeri. Tidak seperti yang lain yang meniru produk impor mesin penanam padi.

"Kalau ini benar-benar saya usaha sendiri," ujarnya kepada Cendana News, Rabu (19/10/2016).

Mesin yang ia ciptakan ini dibanderol dengan harga Rp 3 juta tergolong murah dan mudah didapat jika dibandingkan dengan mesin penanam padi impor yang harganya mencapai puluhan juta Rupiah.

"Kekurangannya hanya menentukan irama putaran tangan dan kaki harus simultan, seperti posisi narik dan posisi bibit," tuturnya.

Meski dirinya sudah berusaha membuat video cara menggunakan alat ini namun masih banyak masyarakat yang bingung. Subagyo menegaskan, dirinya akan langsung turun ke lapangan dan memberi arahan kepada para pembeli.

"Lebih mudah kalau diajari langsung, supaya kalau ada masyarakat lain yang ingin menggunakan bisa dibagi ilmunya dari yang sudah belajar istilahnya 'getok tular'," tandasnya.

Subagyo berhasil menyabet juara dalam ajang Inovator Teknologi Tepat Guna. Selain Subagyo asal Ponorogo juga ada dua inovasi lain asal Lumajang yakni mesin parut kelapa dan asal Lamongan membuat alat tepung dari pepaya muda.

"Sekarang alat penanam padi kami sudah mulai banyak pemesannya, kami sampai kewalahan," jelasnya.

Subagyo pun berharap ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo. Ia tidak meminta modal berupa uang atau bahan namun meminta modal alat kerja mesin las dan bubut. "Karena itu yang paling mahal," tukasnya.


Inovasi karya Subagyo ini mampu untuk menanam padi di luasan lahan 2000 meter persegi. Untuk lahan padi dengan sistem menanam jajar legowo sekitar 20 meter sedangkan yang bukan jajar legowo bisa mencapai 40 meter.

"Alat ini tetap menggunakan manusia sebagai penggerak dan keunggulannya beda tipis sekali dengan impor," pungkasnya.
Jurnalis : Charolin Pebrianti / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Charolin Pebrianti

Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: