JUM'AT, 7 OKTOBER 2016

YOGYAKARTA --- Seiring dengan mulainya musim penghujan di wilayah DI Yogyakarta, warga yang tinggal di kawasan lereng Gunung Merapi diminta lebih waspada. Selain curah hujan yang diprakirakan akan tinggi, juga karena masih adanya ancaman banjir lahar dingin dari puncak gunung tersebut. 


Terkait dengan musim penghujan kali ini yang diprakirakan berpotensi meningkatkan frekuensi terjadinya bencana hidrometeorologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengingatkan agar warga yang tinggal di kawasan lereng dan dekat dengan aliran sungai yang berhulu di Gunung Merapi, terutama Sungai Gendol, agar lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.  

"Pasalnya, di puncak Gunung Merapi saat ini masih menyimpan sebanyak 6 Juta Meter Kubik material Gunung Merapi sisa hasil erupsi tahun 2010 silam. Material itu bisa sewaktu-waktu meluncur mengakibatkan banjir lahar dingin atau banjir bandang akibat curah hujan yang tinggi di kawasan puncak", jelas Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksanaan BPBD Sleman, Kunto Riyadi, Jumat (7/10/2016)

Dikatakan Kunto, para penambang pasir di lereng Gunung Merapi harus ekstra waspada, karena banjir bisa saja terjadi mendadak dan tidak terduga. Menurutnya, seringkali banjir tidak terduga karena di kawasan bawah tidak terjadi hujan, namun tanpa disadari kawasan puncak gunung terjadi hujan ekstrim.

Sementara itu, BPBD Sleman pun telah berupaya mengantisipasi terjadinya bencana, salah satunya dengan memasang alat peringatan dini (Eearly Warning Sytmem/EWS) di beberapa titik rawan. Alat tersebut akan membunyikan sirine jika ada ancaman banjir bandang. Beberapa alat EWS saat ini dipasang di Sungai Gendol  Sungai Kuning, dan Sungai Boyong.

Namun demikian, Kunto mengakui masih terbatasnya jumlah EWS yang telah terpasang, sehingga peran relawan bencana sangat dibutuhkan guna memantau kondisi sungai di saat terjadi hujan. 

Jurnalis : Koko Triarko / Editor ; Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: