SABTU, 12 NOVEMBER 2016

TANGERANG --- Tangerang Selatan bukan hanya mampu mengadakan perhelatan acara festival besar seperti BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016, dan bukan juga sebatas mampu menggalang para musisi Jazz muda demi memuluskan jalan regenerasi musisi Jazz Indonesia, akan tetapi juga memiliki barisan relawan muda yang berjuang demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Logo '1000 Guru Tangsel'
Turut serta dalam pameran kreatif di BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016, komunitas yang menamakan diri sebagai '1000 Guru Tangsel' ini adalah himpunan relawan muda yang didirikan tanggal 25 Oktober 2015. Komunitas '1000 Guru Tangsel' sudah memiliki anggota kurang lebih 1.000 orang relawan muda sebagai tenaga pengajar dari berbagai profesi. Mereka rata-rata siap sedia diterjunkan di desa-desa terpencil wilayah Tangerang dan sekitarnya.

Menurut Humas 1.000 Guru Tangsel, Lia Septiarini, mereka memang membidik hanya untuk daerah-daerah terpencil saja, dan khusus bagi Sekolah Dasar (SD). Dasar pemikiran yang membuat mereka mengambil langkah tersebut adalah karena pendidikan di desa-desa atau daerah terpencil kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah.

" Fasilitas pendidikan di daerah terpencil baik itu sarana maupun prasarananya masih sangat buruk. Kami ingin menunjukkan kepada pemerintah bahwa masih banyak sekolah-sekolah khususnya Sekolah Dasar yang tidak layak fasilitasnya," tutur Lia kepada Cendana News.

" Walaupun begitu, tapi semangat belajar anak-anak tersebut tetap tinggi. Itulah yang membuat kami bersemangat untuk turun menemui mereka sebagai tenaga pengajar. Kami ingin memberikan motivasi kepada mereka, bahwa mereka tidak sendirian, ada yang perhatian kepada mereka, yaitu kami," lanjut Lia.

Salah satu contoh adalah SD di daerah Rumpin, Tangerang. Kondisi gedung sekolah benar-benar sudah tidak layak dikarenakan jika hujan sedikit saja maka sekolah akan kebanjiran. Namun semangat baik murid maupun para guru disana tetap tinggi untuk terus melakukan kegiatan belajar mengajar.

Lia Septiarini (tengah baju merah) beserta dua rekannya
Mekanisme kerja para relawan yang tergabung dalam '1000 Guru Tangsel' adalah mereka akan membuka rekrutmen jika memang ada daerah yang akan dituju. Satu ekspedisi pendidikan biasanya berjumlah sekitar 30 orang relawan. Mereka berangkat dengan modal sendiri baik transportasi, konsumsi, dan akomodasi. Bahkan tidak jarang demi menghemat biaya, terkadang rombongan memilih untuk berkemah di kebun atau hutan yang tidak jauh dari sekolah yang mereka datangi.

Komunitas '1000 Guru' secara nasional sudah ada sejak tanggal 22 Agustus 2012 dengan daerah komunitas pertama berada di Jakarta. Dari Jakarta kemudian gerakan ini menyebar ke seluruh Indonesia sampai 25 Provinsi. Komunitas '1000 Guru' juga sudah ada di daerah-daerah rawan ketertinggalan pendidikan seperti Aceh, Lampung, dan Pulau kalimantan.

" Saya sendiri bingung, dana pendidikan ada, tapi mengapa pemerintah tidak bisa membangun sekolah yang layak di daerah? jangan hanya memperhatikan kota-kota besar lalu daerah terpencil dilupakan. Bagaimana pemerataan pembangunan di dunia pendidikan bisa terwujud jika seperti itu caranya. Setiap menteri pendidikan sama saja keadaannya," keluh Lia.

Dokumentasi kegiatan-kegiatan yang diadakan '1000 Guru Tangsel'

Menutup pembicaraan singkat dengan Cendana News, Lia dan rekan-rekannya juga sangat prihatin dengan perkembangan anak-anak dewasa ini yang begitu diarahkan untuk menggunakan teknologi digital. Menurut mereka, cara belajar secara digital membuat anak-anak menjadi malas membaca buku kedepannya.

" Tapi harus diakui masing-masing metode memang ada kelebihan serta kekurangannya, namun harus juga dibuat berimbang antara teknologi dan kebiasaan membaca buku. Oleh karena itu dalam setiap kunjungan kami ke sekolah-sekolah maka kami selalu menyuarakan untuk membangkitkan kembali budaya membaca buku terutama bagi anak-anak usia sekolah dasar di daerah terpencil," pungkas Lia.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: