SELASA, 8 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Sebanyak 175 warga kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur meninggal sejak tahun 2003 sampai bulan Juni 2016 akibat terserang penyakit HIV dan  AIDS. Dari total penderita sejak bulan Januari sampai Juni 2016 sebanyak 44 orang, penyakit ini telah merenggut nyawa sembilan orang.

Pertemuan anggota tim pokja pencegahan penularan melalui transmisi seksual di kabupaten Sikka

Demikian disampaikan Sekertaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Sikka Yohanes Siga saat ditemui Cendana News di kantornya, Selasa (8/11/2016).

Dikatakan Yohanes, tahun 2015 jumlah penderita sebanyak 75 orang dimana dari jumlah tersebut 16 orang meningal dunia sementara di tahun 2014 dengan jumlah penderita sebanyak 80 orang, penyakit ini merenggut nyawa 25 orang.

“Jumlah orang yang terinfeksi penyakit ini paling banyak terjadi tahun 2014. Korban meninggal dunia pun paling banyak terjadi pada tahun ini sejak pertama kali dilakukan pendataan tahun 2003,” terangnya.

Sementara itu lanjut Yohanes, warga Sikka yang diketahui positif HIV dan AIDS berdasarkan data selama kurun waktu 2003 hingga Juni tahun 2016 berjumlah 537orang. Penderita terbanyak berasal dari kaum heteroseksual sebanyak 483 orang.

Dari 537 orang tersebut, lanjutnya, pengidap HIV sebanyak 152 orang atau 28 persen sementara AIDS sebanyak 385  orang atau 72 persen. Kecamatan Alok di kota Maumere menempati peringkat pertama dengan jumlah penderita sebanyak 86 orang.

“Pemahaman masyarakat tentang penyakit HIV masih rendah. Masyarakat masih mengaitkan orang yang terkena penyakit ini dengan moral dan akibat terserang ilmu hitam,” sebutnya.

Dari 362 orang yang selamat dari maut, ungkap Yohanes, terdapat sekitar 200 orang sedang mengalami pengobatan dari pihak medis yang bekerja sama dengan KPA Sikka. Persediaan obat Antri Retro Viral (ARV) di Sikka masih mencukupi.

Yohanes Siga, Sekertaris KPA kabupaten Sikk
KPA Sikka lanjutnya, biasa membantu kabupaten lain yang membutuhkan bantuan obat ini. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) di masyarakat, juga masih sangat tinggi.

“Mereka pun tidak dapat mengakses fasilitas jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah karena tidak ada biaya. Kurangnya akses layanan yang berkualitas juga menjadi salah satu kendala dalam penanganan penyakit ini, “ paparnya.

Para lelaki beristeri pinta Yohanes, sebaiknya menjauhi hubungan seks bebas dengan wanita lain di luar sehingga tidak menularkannya, bukan saja kepada sang isteri tetapi bayi dalam kandungannya.

Dalam data yang didapat Cendana News di kantor KPA Sikka merincikan, sebanyak 124 ibu rumah tangga di kabupten Sikka menderita HIV dan AIDS  sehingga menempatkannya pada peringkat pertama jumlah penderita menurut jenis pekerjaan.

Peringkat kedua dan ketiga ditempati oleh wiraswasta dan petani dengan jumlah masing-masing 87 dan 67 orang. Sopir dan buruh menyusul di belakngnya dengan jumlah penderita sebanyak 39 dan 38 orang.
Peringkat ke enam ditempati wanita tuna susila sebanyak 28 orang dan karyawan 23 orang. Sementara itu sebanyak 18 tukang ojek, 14 balita,11 PNS/TNI/Polri dan sembilan orang dari kalangan pelajar.

Penyakit ini pun diderita oleh sembilan mahasiswa, tujuh waria, tujuh satpam,  enam orang anak buah kapal serta lima orang nelayan. HIV dan AIDS pun menjangkiti masing-masing1orang dari profesi nara pidana, perawat dan koki.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: