SABTU, 12 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Banjir bandang yang sering menerjang kali Nangagete, menyebabkan puluhan hektar kebun warga kampung Wairbou desa Nebe kecamatan Talibura tergerus air sehingga lahan kebun semakin berkurang.


Demikian disampaikan Maria Dua Lodan dan Wilhelmus Wolor yang ditemui Cendana News di kampung Wairbou, Jumat (11/11/2016) siang.

Dikatakan Maria, kebun milik orang tuanya yang berbatasan dengan kali Nangagete sejak tahun 90-an kian menyempit akibat abarasi. Kondisi saat ini kebun kelapa, mente dan singkong ini sudah tergerus sekitar 10 meter.

“Dulunya kebun kami yang berbatasan dengan kali dipenuhi pohon kelapa tapi saat banjir dan air kali Nangate meluap, semua pohon kelapa dan tanah tersapu banjir, “ ujarnya.

Bila terjadi banjir terang Maria, ketingian air kali Nangagete bisa mencapai 45 sentimeter dan terus meningkat. Bila kondisi normal, ketinggian air kali biasanya hanya berkisar antar 10 hingga 30 sentimeter.

“Akibat meningkatnya debit air, saluran air dari bendungan Nangagete yang mengairi sawah di desa Nebe penuh dan meluap menggenangi tanaman kakao, padi dan sayuran, “ ungkapnya.

Bahkan air di saluran papar Maria, meluap hingga ke jalan negara Trans Maumere – Larantuka yang berada sekitar  5 meter dari saluran. Banjir  terjadi bila curah hujan di gunung di daerah hulu sangat lebat.


Wilhelmus warga kampung Wairbou menyebutkan, dahulunya lebar kali Nangagete hanya sekitar 20 meter saja, tapi sejak tahun 90 – an, saat terjadi banjir, beberapa areal kebun di sebelah utara kali ikut tergerus dan tersapu air.

 “Saat ini lebar kali Nangagete sekitar 100 meter. Bila terjadi banjir, bendungan Nangagete yang berada di sebelh timur pun tidakbisa menampung air dan meluap, “ paparnya.

Banyak pohon kakao dan kelapa yang sudah puluhan tahun kami itanam hilang terbawa banjir. Kebun milik warga pun berubah jadi areal kali yang dipenuhi bebatuan dan kerikil. Debit air yang meningkat dan banjir terlihat dari warna air kali yang jernih berubah menjadi coklat.


Disaksikan Cendana News, bagian sisi selatan kebun warga yang berbatasan dengan kali terlihat jelas bekas tergerus air. Warga mulai menanam pohon gamal di pinggir kebun sebagai penahan abrasi.

Beberapa pohon yang tumbuh di pinggir kali pun tidak terlalu banyak. Rerumputan terlihat mendominasi di pinggir kali yang saat dilitansi dalam kondisi normal hanya sekitar 50 meter saja yang digenangi air.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Ebed De Rosary
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: