KAMIS, 17 NOVEMBER 2016

BANDUNG --- Angklung adalah salah satu alat musik tradisional Indonesia yang mampu bicara banyak di level internasional. Itu setelah diputuskan sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO, pada 2010 lalu.


Rupanya membuat alat musik khas Sunda, Jawa Barat ini membutuhkan proses yang panjang dan ketelitian ekstra, apabila hasilnya ingin baik.

Pembuat angklung di Saung Angklung Udjo (SAU), Ahmad Rosidi menyampaikan ada dua jenis angklung, yaitu untuk alat musik dan pajangan. Namun untuk membuat angklung berkualitas, ada tiga kriteria. Apa itu?

"Harus punya kriteria 3E, yaitu enak dipandang bentuknya bagus, enak dipegang karena halus dan enak didengarkan," ujar Ahmad, di SAU, Jalan Padasuka, Kota Bandung, Kamis (17/11/2016).

Soal bahan dasar ada tiga jenis bambu yang biasa digunakan untuk angklung, yaitu bambu temen, bambu apus dan bambu gombong. Diantara ketiganya, dikatakan, bambu temen hitam yang paling terbaik.

"Karena dari warnanya juga bagus, terus lebih mudah kalau diraut karena tidak keras dan lebih awet tidak mudah dimakan hama," katanya.

Disampaikan, usia bambu pun harus disesuaikan. Dimana pohon berusia lima tahun adalah yang paling pas untuk dijadikan angklung. Tak hanya itu, penebangan bambu pun harus dilakukan pada musim kemarau.

"Setelah itu dikeringkan selama satu tahun dan dipotong-potong untuk bakalan atau bahan setengah jadi," katanya.

Lantas, sambung Ahmad, nada angklung pun disesuaikan baik itu dengan nada pentatonik (da-mi-na-ti-la) maupun diatonik (do-re-mi-fa-sol-la-si). Pada proses ini dia lebih memilih memadukan cara moderen dan dan tradisional. Kendati menggunaka alat tunner, namun pendengaran dan perasaan pun tetap dilibatkan.

"Setelah itu dirangkai dan diikat oleh rotan supaya saat digoyangkan tidak lepas. Dan dari segi estetika juga menarik, karena dari bahan alami semua bambu dan rotan," katanya.
Jurnalis : Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Rianto Nudiansyah
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: