RABU 30 NOVEMBER 2016

Oleh Thowaf Zuharon*

JAKARTA----Sebuah Upaya Membuat Surat Jenaka Kepada Pak Presiden

Pak Jokowi yang baik,



Jika diperkenankan, saya sebagai adik kelas jauh di Universitas Gadjah Mada (UGM) ingin berupaya membuat surat jenaka kepada Bapak di Istana Negara. Upaya saya untuk jenaka ini, bisa jadi, hanyalah upaya untuk mencairkan suasana politik negeri kita yang terlalu jenaka membahas kasus Ahok. Dalam kondisi saat ini, bangsa ini butuh banyak tulisan jenaka, agar masyarakat bisa banyak tersenyum dan tertawa. Semoga, Pak Jokowi sebagai kakak kelas saya berkenan. Misal pun usaha saya ini tidak terasa jenaka, saya mohon maaf sedalam-dalamnya.

Dari berbagai pantauan saya di berbagai media sosial (Facebook), Whatssapp, Twitter, Instagram, dan berbagai aplikasi sosial media lainnya, semua orang membuat guyonan tentang Ahok. Seakan, Ahok lebih penting untuk dibahas daripada jalannya pemerintahan. Bahkan, kasus Ahok lebih diikuti dibanding dinamika kehidupan berbangsa-bernegara. Apakah Ahok menjadi sosok yang terlalu jenaka, sehingga popularitasnya menggungguli Pak Jokowi sebagai Presiden?

Fakta Lucu Bahwa Ahok Lebih Populer daripada Pak Jokowi

Pak Jokowi,

Ketika saya mengetik kata “Jokowi” di mesin pencari Google, tertulis ada 58.200.000 hasil berita dan obrolan tentang Bapak. Sedangkan ketika saya mengetik kata “Ahok” di mesin pencari Google, malah tertulis 65.100.000 hasil berita dan obrolan tentang Ahok. Sesuai rumus Google, ini membuktikan, Indonesia dan dunia lebih sering membahas Ahok daripada Pak Jokowi. Meskipun, popularitas tidak menunjukkan orang tersebut benar atau salah, lebih dicintai atau lebih dibenci.

Yang saya lihat dari berbagai pengamatan saya di media sosial, persepsi masyarakat mengenai Ahok cukup lucu dan jenaka. Berulangkali, dengan wajah jenaka, Ahok menyatakan sebagai nasionalis penjunjung Pancasila. Tapi, reaksi masyarakat ada yang jenaka. Malah ada yang menertawai dan menganggap ungkapan Ahok tersebut sebagai Lawakan.

Karena ada yang menganggap Ahok sebagai pelawak, akhirnya saya juga ikut tertawa sendiri. Setelah Ahok dipersoalkan dengan Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu, berbagai guyonan tentang Ahok semakin meluas. Ada yang menyampaikan lawakan, bahwa sepanjang sejarah nusantara, Ahok dan kelompoknya pernah melakukan pengkhianatan kepada berbagai suku bangsa di Nusantara. Ada yang menyampaikan kalimat lucu, bahwa perilaku lawakan Ahok semakin menambah kebencian terhadap kelompok Ahok.    

Banyolan Masyarakat atas Cengkeraman China pada Tanah Indonesia

Pak Jokowi yang bijak,

Dari berbagai gunjingan di media sosial, ada banyak lontaran jenaka dari masyarakat, bahwa Ahok telah semena-mena melakukan penggusuran. Sehingga, Ahok yang jenaka dianggap sebagai tiran dan penindas yang dikendalikan oleh China daratan (RRC). Bahkan, ada imajinasi jenaka salah satu masyarakat, Ahok adalah boneka buldoser dari China daratan (bahaya kuning) untuk menghancurkan kemerdekaan dan kedaulatan pribumi Indonesia. Padahal, kita tahu, yang menyimpan warna kuning adalah Traffic Light dan Bendera Partai Golkar. Apakah ini cukup lucu bagi Bapak? 

Lebih lucu lagi, ada pihak yang semakin dendam kepada kelompok Ahok ketika mendengar ungkapan Yusril Ihza Mahendra ; 74% tanah di Indonesia telah dikuasai oleh segelintir kalangan dari etnis Tionghoa yang jumlahnya hanya 0,2% dari total penduduk Indonesia.

Berbagai dagelan tentang Ahok terus berkembang. Apalagi, sejak mendengar uraian Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di ILC TV One pada 8 November 2016 lalu atas kondisi kritis kedaulatan Indonesia, banyak elemen masyarakat yang membulatkan perlawanan agar Ahok segera ditangkap. Masyarakat telah telanjur menuding Ahok sebagai jejaring runcing bahaya kuning RRC (Kolonialisasi Penjajahan Negara China atas Indonesia) yang ingin menghancurkan kedaulatan Indonesia. Apakah tudingan ini cukup lucu bagi Pak Jokowi?

 Di sisi lain, tetap ada obrolan serius atas kelompok Ahok. Misalnya, Kivlan Zen juga menandaskan, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Republik Rakyat China menyebut, kewarganegaraan RRC berdasarkan azas Ius sanguinis (law of the blood). Ini adalah asas keturunan atau pertalian darah. Sebuah hak kewarganegaraan yang diperoleh seseorang (individu) berdasarkan kewarganegaraan ayah atau ibu biologisnya. Semua keturunan Tionghoa di berbagai negara dan benua lainnya, tetaplah warga negara China daratan juga. Baik yang ada di negaranya sendiri maupun di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Saya sendiri bingung, entah ini jenaka, entah tidak, Pak Jokowi. Tapi, ada berita, Perdana Menteri Republik Rakyat China (RRC) sempat menyatakan akan mengirim tentara ke Indonesia apabila Aksi Bela Islam menyebabkan terancamnya keturunan Tionghoa di Indonesia. Pemerintah RRC menganggap, semua ras China di Indonesia merupakan warga negaranya yang harus dilindungi. Kalimat Perdana Menteri RRC ini, telanjur dianggap banyolan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Guyonan yang berkembang di masyarakat, fakta-fakta tersebut semakin mendorong banyak kalangan untuk membuat banyolan tentang Ahok diberbagai media sosial. Lebih lucu lagi, Ahok telah banyak dianggapsebagai agen (PROXI) RRC yang dilindungi 9 Naga (9 Taipan China di Indonesia) dan melaju dalam Pilkada Jakarta. Banyolan lainnya, Ahok juga dianggap berkesempatan dalam kancah pemilihan Presiden 2019.

Pada percakapan komedi lainnya di masyarakat, ada yang melontarkan kalimat bercanda, mayoritas media massa besar telah dikangkangi oleh 9 Taipan. Sehingga, apa pun yang dilakukan oleh Ahok selalu hebat dan luhur bagi media massa mainstream. Kondisi ini membuat masyarakat berpikir lucu, Indonesia akan dijadikan seperti Tibet, Singapore,Korea Utara, dan berbagai negara lain yang telah dikangkangi oleh RRC. Lebih jenaka lagi, Indonesia diprediksi hilang dari peta dunia dan berganti menjadi salah satu provinsi dari Negara RRC.

Antara Ahok yang Jenaka dan Ratusan Juta Pengangguran RRC Siap Merangsek ke Indonesia

Ketika mendengar paparan Dr. Aviliani (Ekonom Institut Pertanian Bogor) dalam acara penutupan Konferensi Internasional Federasi Asosiasi Ekonomi Asean (Federation of Asean Economic Association/FAEA) ke-41 di Yogyakarta, Jumat (25/11/2016), masyarakat mengaitkan analisa Aviliani dengan sosok Ahok yang membuat masyarakat tertawa. Secara gamblang, Aviliani mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinaneksodus 400 juta pengangguran China ke Indonesia. Sebab, menurut amatan Aviliani, saat ini di negara RRC, terdapat 400 juta pengangguran yang akan bekerja ke Indonesia. Para pengangguran dari China daratan ini merupakan tenaga kerja terlatih atau terampil (skilled labour). Lucunya, masyarakat langsung mengaitkan sosok Ahok dengan penduduk China Daratan.

Nasionalisme Kertanegara dan Raden Wijaya, serta Ingatan Jenaka atas Ahok

Jika berangkat dari sejarah masa silam, bisa jadi, masyarakat yang terpingkal-pingkal dengan perilaku Ahok, mereka mengaitkan nasionalisme Kertanegara (Raja Singosari) ketika mempertahankan kedaulatan bangsa dan rakyatnya dari kelompok China Daratan. Ahok terus
dikaitkan dengan China daratan.

Bisa jadi, ada yang masih merasa sebagai keturunan dari prajurit Singosari dan Majapahit yang gigih melawan penindasan kerajaan China-Mongol pimpinan Kubilai-Khan. Saat itu, pada suatu tarikh penanggalan 1292 Masehi, Kubilai Khan (penguasa kekaisaran Mongol dan Kaisar Dinasti Yuan China Daratan) mengirim utusan bernama Meng-Qi untuk meminta upeti kepada Kertanegara.

Setelah tahu maksud utusan Kubilai Khan itu, Kertanegara merasa terinjak harkat dan martabatnya. Seketika itu juga, Kertanegara langsung merusak wajah Meng-Qi dengan timah panas, lalu memotong kuping Meng-Qi, sembari mengusir dengan sadis, “Bilang kepada rajamu, Singosari tidak sudi dijajah Bangsa China. Minggat kau!”

Keberanian Kertanegara terhadap Kaisar China yang ingin menindas Singosari, telah membuat Kubilai Khan menyerang Singosari. Akibatnya, kerajaan Singosari hancur lebur dan Kertanegara terbunuh. Pasukan Kubilai Khan menang dengan dibantu Jayakatwang, Raja Kediri yang dendam kepada Kertanegara. Bagi rakyat Singosari, Jayakatwang yang menjadi Jongos Kubilai Khan adalah pengkhianat bangsa sendiri.

Paska peristiwa itu, yang perlu kita catat, semangat nasionalisme dan rasa tak sudi ditindas bangsa Cina, terus dirawat oleh Raden Wijaya bersama sebagian besar rakyat Singosari yang melarikan diri ke Hutan Tarik. Diam-diam, mereka merawat nasionalisme itu dan menuntut balas kepada Jayakatwang dan tentara Kubilai Khan sang Kaisar China-Mongol.

Pada akhirnya, Jayakatwang malah digantung oleh pasukan Cina-Mongol di tepi pantai utara Jawa. Tapi, yang lebih menarik lagi, ketika tentara Kubilai Khan mabuk dan pesta pora kemenangan setelah menggantung mati Jayakatwang, di saat itulah, para tentara Kubilai Khan dihabisi oleh Raden Wijaya dan pasukannya.

Kisah perlawanan Raden Wijaya terhadap tentara China-Mongol ini masih mendekam cukup dalam ingatan masyarakat Nusantara. Apalagi, pada pemerintahan Prabu Jayanegara (putra Raden Wijaya), tentara China-Mongol kembali menyerang Majapahit. Berbagai perilaku Koh Ahok selama ini, masih mengingatkan luka batin rakyat Nusantara seperti situasi batin rakyat masa Majapahit. Tapi, ada sebagian masyarakat yang menganggap, ingatan atas perlawanan kepada China-Mongol dan keterkaitan kepada sosok Ahok sebagai sesuatu yang lucu. Memang, selera humor masing-masing orang berbeda. Ada yang menganggap Ahok sebagai ancaman, ada juga yang sekadar menganggap Ahok sebagai pribadi yang lucu.  

Kisah Pengkhianatan Cina Membantu Agresi Militer Belanda, Ada yang Menganggap sebagai Drama Guyonan Belaka

Pak Jokowi yang ceria,

Dalam amatan saya di berbagai media sosial, ada kelompok masyarakat yang menganggap, kisah pengkhianatan sebagian kalangan Tionghoa terhadap Indonesia pada 1948, hanyalah banyolan belaka. Hanya dianggap cerita Dagelan Srimulat.

Padahal, ketika itu, rakyat pribumi berjuang mempertahankan kemerdekaan RI dari serangan Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, sejarah mencatat dengan sangat tebal, etnis  Tionghoa lebih memilih membantu pasukan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Saat itu, bantuan kalangan China kepada Belanda berupa material uang dan berbagai sarana lainnya. Saat itu, sangat kentara, etnis China yang ada di Yogyakarta justru berpihak dan memberikan sokongan ke Belanda. Jika ini hanya dianggap bualan dagelan, bukankah ini sangat lucu, Pak Presiden?

Melihat pengkhianatan Etnis China saat itu, Kanjeng Sultan Hamengkubuono IX langsung mencabut hak kepemilikan tanah terhadap etnis Tionghoa di Yogyakarta. Tahun 1950, ketika NKRI kembali tegak dan berhasil dipertahankan dengan keringat dan darah, Pemerintahan Soekarno-Hatta telah meminta etnis China segera eksodus dari Yogyakarta  dan Indonesia. Dua pahlawan revolusi tersebut tidak bisa memaafkan etnis China yang melakukan pengkhianatan. Tapi, sekali lagi, tetap ada kalangan masyarakat yang menganggap sejarah pengkhianatan Etnis China ini sebagai kisah Banyolan. Kebetulan, mereka selalu mati-matian  membela Ahok. Bukankah sikap yang demikian itu sangat lucu, Pak Jokowi?

Sultan HB IX : Tak Ada Hak Etnis Cina untuk Memiliki Tanah di Yogyakarta, Selamanya


Pak Jokowi yang kami hormati,

Untungnya, yang memimpin Yogyakarta dan menjadi Menteri Pertahanan di Indonesia adalah Kanjeng Sultan HB IX. Ngarso Dalem IX masih berbaik hati. Saat itu, Etnis China tidak diusir dari Yogyakarta dan masih diperkenankan tinggal, tapi hanya diperkenankan sebagai tetangga.

Karena, bagaimanapun, Etnis China telanjur berkhianat. "Tinggallah di Jogja. Tapi maaf, saya cabut satu hak anda, yaitu hak untuk memiliki tanah," tegas Sultan HB IX.

Keputusan Sultan HB IX berlaku tetap hingga kapan pun. Bisa dibuktikan, hingga tahun 2016 ini, tak ada satu pun pengusaha China yang memiliki hak milik atas tanah di berbagai pusat bisnis di Yogyakarta. Etnis China hanya bisa memiliki hak guna atau hak pakai hingga tahun tertentu. Meskipun Sultan IX sangat humanis, tidak membeda-bedakan, namun urusan kebijakan pemerintahan kepada etnis China yang telah berkhianat, ia sangat tegas.

Kebijakan pengharaman China atas tanah di Yogyakarta diperkuat lagi pada 1975. Yaitu saat Paku Alam VIII menerbitkan surat instruksi kepada bupati dan wali kota untuk tidak memberikan surat hak milik tanah di Yogyakarta kepada warga negara non pribumi. Surat tersebut masih berlaku hingga saat ini.

Surat instruksi tersebut mengizinkan warga keturunan memiliki tanah dengan status hak guna bangunan (HGB), bukan hak milik (SHM). Bila tanah tersebut sebelumnya dimiliki pribumi, lalu dibeli warga keturunan, maka dalam jangka tahun pemakaian tertentu, tanah itu status kepemilikannya dialihkan kepada negara.

Kalangan investor dan cukong dari kalangan etnis Tionghoa sudah beberapa kali menggugat aturan itu dan mengadukan hal itu ke Presiden Indonesia. Aturan tersebut dianggap rasis dan tidak adil. Para penggugat itu telah menyuruh dan mendanai berbagai gerakan Hak Asasi Manusia (HAM) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Namun, Mahkamah Agung tetap tidak mengabulkan, karena hal itu bagian dari keistimewaan DIY. Sayangnya, konsep keistimewaan DIY dalam kepemilikan tanah yang tidak bisa dimiliki kalangan etnis Tionghoa, dianggap banyolan konyol oleh sebagian masyarakat. Bukankah masyarakat yang menganggap itu sebagai banyolan, merupakan orang-orang
berwatak lucu?

Presiden Soekarno Menghapus Monopoli Etnis China dengan PP nomor 10, Ditentang PKI


Pak Jokowi,

Semuanya menjadi merasa lucu dengan berbagai perilaku politik Ahok. Karena, sosok Ahok malah membangkitkan kenangan pahit pribumi kepada etnis China pada 19 Maret 1956. Saat itu, pada Kongres Importir Nasional Seluruh Indonesia di Surabaya, Asaat Datuk Mudo, Mantan Pejabat Presiden Republik Indonesia mengatakan, orang-orang China telah bersikap monopolistis dalam perdagangan dan tidak membuka jalan bagi penduduk pribumi untuk ikut berdagang. Asaat meminta pemerintahan Soekarno membuat perlindungan khusus di bidang ekonomi kepada warga negara Indonesia asli.

Fakta di lapangan, pada era 1950-an, hampir semua toko di Indonesia dimiliki pengusaha keturunan Cina. Mulai dari toko kelontong, toko bangunan, hingga toko makanan. Desakan Asaat kepada Pemerintah tersebut telah memicu "gerakan pribumisasi" yang berpengaruh besar pada gerakan anti-China.

Melihat gejolak sosial Anti China yang semakin membesar, maka pada  November 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan PP Nomor 10 tahun 1959 yang berisi larangan untuk orang asing berusaha di bidang perdagangan eceran di tingkat kabupaten. Para pengusaha China wajib mengalihkan usaha mereka kepada warga negara Indonesia dan harus menutup perdagangannya sampai batas 1 Januari 1960. PP No.10 ini dimaksudkan untuk menyehatkan perekonomian nasional dan nasionalisasi di bidang ekonomi. Kebijakan ini telah membuat Pemerintah China, pada 10 Desember 1959, memanggil warga China perantauan untuk kembali ke RRC. Saat itu, dari 199 ribu etnis Cina yang mendaftar pulang, hanya 102 ribu yang terangkut ke Cina menggunakan kapal pemerintah RRC.

Gerakan pribumisasi dengan PP 10 tersebut merupakan penyelamatan atas ekonomi pribumi pada waktu itu (setelah kemerdekaan) yang lemah, terkatung-katung, dan tidak ada yang membela. Sementara sejak masa kolonial, kedudukan ekonomi orang Cina selalu di atas pribumi. Gerakan pribumisasi ini justru menginspirasi Tunku Abdul Rahman dan Mahathir Mohammad membuat kebijakan ekonomi yang melindungi mayoritas melayu di Malaysia, hingga sekarang.

Satu-satunya partai di Indonesia yang tidak mendukung gerakan pribumisasi melalui PP Nomor 10 hanya Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan DN Aidit. Padahal, PKI adalah partai yang memimpin pengkhianatan G30S/PKI dan membunuh enam Jenderal Angkatan Darat.

Celakanya, PKI pimpinan Aidit ini sangat mesra dengan Partai Komunis China (PKC) di RRC saat itu. Bukankah perilaku PKI ini terasa begitu lucu ketika kita renungkan? Kelucuan yang tak bisa dielak, keterkaitan antara PKI dan PKC di China daratan, telah membuat masyarakat berprasangka, bahwa sosok Ahok berkaitan dengan PKC di Cina daratan sekarang. Faktanya, hingga saat ini, Partai yang berkuasa di RRC adalah Partai Komunis Cina. Apalagi, ada video di Youtube yang merekam pernyataan Ahok bahwa Agama adalah candu. Hal ini semakin menambah kecurigaan masyarakat kepada Ahok.Lama-lama, masyarakat akan semakin tertawa dengan berbagai sikap lucu
dari Ahok.

Menciptakan Perlindungan Ekonomi Terhadap Pribumi, Gagasan Luhur atau Komedi? 

Pak Jokowi,

Dari amatan saya di berbagai media sosial, dengan berbagai kejadian di masa lalu tersebut, ada yang menganggap sebagai hal serius, ada juga yang menganggap sebagai komedi. Pada kalangan serius menganggap, jika pemerintah sekarang tidak hati-hati atas situasi yang memanas terhadap Ahok, dan malah justru tebang pilih dalam penyelesaian masalah hukum kasus Ahok, bisa memicu bangkitnya kembali gerakan Anti Cina di Indonesia. Dampaknya bisa sangat buruk bagi persatuan nasional.

Bagi rakyat yang serius, sejarah pergesekan antara etnis China dengan pribumi di masa lalu, tak bisa dielak, menjadi bumbu yang menambah pedas ketika munculnya kasus Ahok menista Al-Maidah. Berbagai prasangka buruk rakyat Indonesia atas etnis China bisa semakin memanjang karena perilaku Ahok. Kecuali, kalau kalangan etnis Tionghoa bisa memberi nasihat kepada Ahok untuk semakin santun. Mereka ingin Ahok menjadi pribadi yang luhur.

Menurut mereka yang serius, proses silaturahmi antara Etnis Tionghoa dengan pribumi akan semakin membaik, ketika etnis Tionghoa bisa membaur dengan alamiah, melebur dalam budaya pribumi, dan tidak melakukan eksploitasi ekonomi tanpa aturan. Ketika kepentingan ekonomi pribumi dilindungi oleh negara, sehingga terjadi kesetaraan status ekonomi antara pribumi dan etnis China, maka, Keadilan Sosial yang kita idamkan dalam sila ke lima Pancasila akan segera terwujud. Tak ada jalan lain!

Bagi mereka yang melihat semuanya sebagai komedi, penyelesaian perkara penistaan yang dilakukan oleh Ahok atas Al-Maidah 51, hanya dianggap lawakan picisan. Mereka selalu menganggap demo tangkap Ahok sebagai sebuah banyolan lucu dan layak diejek. Sehingga, ketika kasus penistaan Ahok sudah masuk P-21 di Kejaksaan sejak 30 November 2016, mereka tetap yakin, bahwa Jaksa dan Hakim di pengadilan hanya akan membuat drama banyolan.

Bukankah sikap-sikap para pembela Ahok yang gelap mata tersebut, juga merupakan dagelan yang lebih lucu dari Srimulat? Saya memohon petunjuk Pak Jokowi, yang benar-benar bisa kita anggap sebagai kelucuan dan dagelan itu seperti apa. Tiba-tiba, saya merasa goblok, tidak tahu mana yang betu-betul serius, mana yang betul-betul lucu.

Thowaf Zuharon adalah penulis buku "Ayat-Ayat yang Disembelih" dan Penyuka Komedi
Foto: Koko Triarko
Editor: Irvan
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: