JUMAT, 18 NOVEMBER 2016

CATATAN KHUSUS---Menjelang makan siang pada 16 November 2016, punokawan Bagong, Petruk, dan Gareng, saling jotos antara satu dengan lainnya. Mereka berkelahi setelah mendengar bersama pengumuman resmi Mabes POLRI di televisi, kepastian status Ahok sebagai tersangka penistaan agama.

Gara-gara Gareng berjingkrak senang dan tertawa ngakak atas tersangka Ahok, Petruk sebagai pendukung Ahok tidak terima. Bogem mentah langsung mendarat di pipi Gareng.

Sedangkan Bagong yang abstain alias golput, tak mau berpihak, malah langsung diserang secara bersamaan oleh Gareng dan Petruk. Si gendut Bagong dianggap plinplan. Bagi Gareng dan Petruk, sikap Bagong yang golput bertentangan dengan Demokrasi Pancasila. Bagong langsung pingsan tak sadarkan diri karena diserang hingga terjengkang.

Setelah babak belur dan ngos-ngosan, barulah Petruk dan Bagong berhenti berkelahi. Damai dan ngobrol kembali, seperti biasa. 

“Ahok telah tersangka, Bung Petruk! Penista agama harus hancur hidupnya!” kata Gareng.


Thowaf Zuharon


Lelaki Politisi dari Bangka itu memang telah dijerat Pasal 156 a KUHP juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Bahkan, Ahok dicekal untuk pergi ke luar negeri!

Hari itu, Gareng dan siapa pun yang merasa dinistai oleh Ahok langsung sujud syukur. Mereka membuat perayaan kenduri kemenangan Islam. Meski sebenarnya, masih banyak pihak yang tidak terima ketika Ahok tidak ditahan di penjara. Karena, kenyataannya, banyak pendemo 411 dan penghujat Ahok dipenjarakan tanpa proses peradilan. Kenyataannya, Ahok bisa melenggang kangkung bersafari kampanye ke berbagai sudut Jakarta, dengan penuh tawa. 

Di pihak lain, status tersangka ini telah membuat para fanatik Ahoker semacam Petruk menangis, sedih, geram, dan dendam. Sebagian massa Ahoker pelaku mistik pun berupaya melakukan ritual-ritual mistik bagi keselamatan Ahok. Ada yang bakar kemenyan. Ada yang mengolesi kepala Ahok dengan minyak keselamatan. Sedangkan Petruk, berencana membuat ritual pengorbanan tujuh kerbau demi keselamatan dan kemenangan Ahok di Pilkada DKI Jakarta.

Petruk Akan Menghalalkan Berbagai Cara Agar Menang di Pengadilan.


“Kamu boleh senang dulu, Gareng. Tapi, aku dan kawan-kawan akan menghalalkan berbagai cara demi bebasnya Ahok dan kemenangan Ahok. Tawamu hanya semu, Reng!,” kata Petruk sambil mengelus-elus bangga atas hidungnya yang terlalu mancung.

“Itu kejahatan demokrasi, Petruk. Masuk neraka kamu!”

“Neraka itu gombal, Reng. Aku mau menyuap semua hakim dan jaksa di pengadilan demi bebasnya Ahok! Semua aparat hukum mau kubeli! Biar kamu gak bisa tertawa lagi, Reng.”

“Kamu itu beli beras saja masih kesusahan. Mau menyuap pakai apa, Truk? Kalau sinting jangan kebablasan!” 

“Saya sudah dapat warisan duit dari Dhimas Kanjeng, Reng! Gak usah cerewet kamu! Saya pasti akan memenangkan Ahok, Reng. Karena salah satu klienku sudah telanjur pesan kapling di Pulau Reklamasi. Sehingga, Ahok sebagai pendukung Reklamasi harus jadi Gubernur lagi.”

“Kita lihat nanti saja, Truk. Kawan-kawanku yang ahli dalam ilmu intelejen juga akan bergerak menghancurkan strategi kotormu itu, Truk. Ha ha ha ha…”

“Pokoknya kalau kamu macam-macam, kamu bisa jadi sasaran penculikan dari skema kotor kami, Reng. Awas kamu. Hati-hati! Sebagai Koordinator Demonstran, namamu sudah kutandai agar diculik dan dilenyapkan, Reng!”

“Terserah kau, Truk! Saya tidak takut. Yang jelas, kalau Ahok tidak dipidana dengan proses pengadilan nanti, maka kedamaian di Indonesia ini akan sulit diwujudkan! Catat itu, Truk. Otakmu jangan goblok dan dikasih dengkul!”

“Jadi, kamu ingin menghancurkan NKRI, Reng? Mau memecah belah?!”

“Bukan begitu, Reng. Coba kamu bayangkan, misalnya hasil persidangannya, Ahok ternyata bebas dari jeratan pidana tidak dipenjara. Suasana toleransi antar umat beragama akan hancur.”

“Sok tahu kamu, Reng!”

Perayaan Penistaan Bisa Terjadi Jika Ahok Tidak Segera Dipenjarakan

“Kalau ucapan Ahok yang mengatakan Dibohongi pakai Al-Maidah 51 tidak dianggap pidana, maka semua orang di Indonesia juga berhak untuk merayakan pola kalimat itu tanpa ada jeratan pidana, Reng!”

“Maksudmu merayakan, contohnya bagaimana?” tanya Petruk.

“Misalnya, setiap umat Muslim boleh bilang ke umat Kristen dengan kalimat Anda Dibohongi Pakai Injil. Itu boleh dilakukan, karena Ahok juga melakukan kalimat semacam itu, tapi tidak dipidana. Umat Kristen boleh bilang ke umat Hindu dengan kalimat Anda Dibohongi Pakai Weda. Yang mengatakan itu tak bisa dijerat hukum, karena Ahok bebas dan tidak dipidana gara-gara permainan kotormu dalam hukum, Truk! Selanjutnya boleh juga dirayakan kalimat Anda Dibohongi Pakai Tripitaka, Anda Dibohongi Pakai Darmogandul, Anda Dibohongi Pakai Kitab Konghucu, Anda Dibohongi Pakai Pancasila, Anda Dibohongi Pakai UUD 1945, Anda Dibohongi Pakai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Anda Dibohongi Pakai KUH Perdata, Anda Dibohongi Pakai Surat Keputusan Presiden, dan seterusnya…dan seterusnya”

“Edan juga logikamu, Reng. Tapi masuk akal itu. Kalau itu terjadi, tatanan nilai dan etika sosial pergaulan antar umat beragama akan rusak semua, Reng. Itu sangat mengerikan. Rakyat Indonesia bisa saling bunuh. Tak ada yang percaya lagi kepada Polisi dan Pengadilan. Yang berlaku adalah hukum rimba kalau sampai itu terjadi, Reng,” tandas Petruk.

“Makanya, kalau mau bertindak, otak dan hati dipakai, Truk. Jangan asal menyuap dan menyulap hukum dengan uang. Lihat akibatnya kalau itu terjadi!”

“Iya, Reng. Aku minta maaf. Sebaiknya, Ahok segera dipenjarakan dengan hukuman seberat-beratnya, Reng. Karena perilaku mulutnya membahayakan persatuan dan kesatuan NKRI. Harusnya tidak usah menunggu Pilkada Jakarta selesai, Ahok sudah masuk bui, Reng. Agar keamanan Nusantara tercipta dan terpelihara.”

“Makanya, Truk. Sebaiknya kau suruh mundur Ahok itu dari kancah Pilkada. Daripada rakyat malah melakukan amuk kepada Ahok. Lebih aman jika Ahok segera dipenjara. Safarinya ke berbagai tempat malah bisa membahayakan keselamatan nyawanya dari ancaman manusia tanpa otak yang ingin membunuh Ahok!”

“Iya, Reng. Aku jadi mengerti sekarang dan telah mendapatkan pencerahan. Ahok ternyata adalah musuh NKRI dan Pancasila, Reng.”

“Kalau misalnya Ahok bilang Anda dibohongi pakai Das Kapital Karl Marx, mungkin malah banyak orang menyukai dia, Truk. Komunisme kan musuh Pancasila. Harusnya, Ahok berkampanye Anda Dibohongi Para Komunis! Itu baru benar, Truk.” 

“Iya, Reng. Kalau Ahok tidak segera dipenjara, mendingan aku ikut Demonstrasi besar-besaran lagi saja, Reng. Aku setuju pikiranmu. Ini kebodohan Ahok secara pribadi. Tak ada kaitannya dengan agama Islam atau Kristen, Cina atau Pribumi.”

“Bagus, Truk. Kamu mulai bijak. Tuhan itu melihat manusia dengan takaran benar dan salah, bukan kalah dan menang. Menang-kalah, kaya miskin, tidak menjadi bahan pertimbangan Tuhan terhadap hamba-Nya. Kalau Ahok salah, meskipun pendukungnya adalah Partai Pemenang Pemilu dan yang sedang berkuasa, sebaiknya segera dipenjarakan.”

“Sepakat, Reng. Ahok harus segera masuk penjara seperti yang dialami HB Jassin dengan kasus cerpen Kipanjikusmin, Arswendo dengan kasus Polling Monitor, Lia Eden, Ahmad Mushadeq, Gafatar, dan kasus kelompok PKI Kediri yang menginjak-injak Al-Quran di Pesantren Kanigoro!”

“Terakhir, Truk. Ini penting! Kamu harus tahu sejarah munculnya pasal 156 A KUHP adalah inisiatif Presiden Soekarno sang Proklamator!”

“Kok bisa? Bung Karno ayahnya ibunda kita Megawati kan?”

“Iya, Truk. Ayah Bu Mega sangat keras dalam soal penistaan agama. Saat itu, setelah peristiwa Penistaan Agama di Kanigoro oleh PKI pada awal Januari 1965, Presiden Soekarno menandatangani Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS tentang Pencegahan Penyalahgunaan/dan atau Penodaan Agama. Dasar penetapan Presiden ini kemudian dimasukkan dalam Pasal 156 a KUHP kita. Hal itu dilakukan Soekarno, belajar dari kasus pelecehan Nabi Muhammad pada 1918 oleh koran harian Djawi Hisworo yang memuat artikel yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Tulisan di koran tersebut berbunyi Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem AVH, minoem Opium, dan kadang soeka mengisep Opium. Peristiwa itu memunculkan barisan Tentara Kanjeng Nabi Muhammad yang berdemonstrasi hingga 35.000 orang.”

“Jadi, Proklamator kita pendiri Partai Nasional Indonesia sangat memusuhi orang yang menista agama ya, Reng?

“Betul, Reng. Kita harus meneladani prinsip konstitusi Bung Karno sebagai Bapak Bangsa. Apa Pak Syafii Ma’arif dan Kyai Musthofa Bisri yang sangat membela Ahok mengerti berbagai sejarah penistaan ini, Truk?”

“Aku tidak tahu, Reng. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Yang penting, kita yang goblok, tidak berpendidikan tinggi, dan manusia abangan yang tidak mengerti alif bengkong ini, sudah sepakat bahwa Ahok adalah Penista Agama. Semoga, secepat mungkin dipenjara agar rakyat tidak resah.”

Akhirnya, Petruk dan Gareng berdamai, saling meminta maaf. Mereka juga membangunkan Bagong dan segera meminta maaf. Mereka sepakat untuk menegakkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis
Thowaf Zuharon, Penulis Buku Ayat-ayat yang Disembelih dan Penyuka Wayang


Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: