RABU, 30 NOVEMBER 2016
MAUMERE---Apel Nusantara Bersatu telah berlangsung khidmat dan meriah. Apel tersebut berlangsung di lapangan umum Kota Baru Maumere, Rabu (30/11/2016), dimulai pukul 09.00 WITA. Dalam orasi Kebangsaaan, Wa Ode Pripta, siswi SMPN1 Maumere membawakan cerita tentang seorang kakek pejuang kemerdekaan yang merasa miris melihat situasi dan kondisi negeri ini yang penuh carut marut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme serta berbagai aksi terorisme serta penyalahgunaan narkoba yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa marak terjadi. Selain itu, saat ini terjadi berbagai aksi yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Martinus Laga dari PMKRI cabang Maumere menekankan komitmen pemuda yang sudah disampaikan saat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Satu kesatuan yang sudah disepekati ini, perlu dipertahankan.

Jajaran aparat, tokoh masyarakat, dan tetua adat berkumpul bersama berkomitmen merawat kebhinekaan.
“Sumpah Pemuda dengan jelas mengatakan kita semua satu, untuk itu saya tekankan bahwa kami para pemuda akan menjaga sumpah ini dan kami akan melawan segala tindakan yang ingin memecah belah persatuan bangsa,” tegas Martinus.

Oscar Mandalangi Parera, budayawan sekaligus perwakilan dari tokoh masyarakat menekankan pentingnya menjaga 4 Konsensus Kebangsaan. Kabupaten Sikka pun kata Oscar, juga dibangun dari berbagai suku, agama, ras dan golongan.

Peserta upacara lengkap dari berbagai elemen masyarakat.
“Tidak boleh ada warga kelas satu dan warga kelas dua, kita semua adalah warga bangsa ini, warga Kabupaten Sikka. Negeri ini tidak boleh terpecah belah oleh apa pun,” tegasnya.

Sedangkan Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga,SP mengucapkan penghargaan kepada TNI/Polri dan elemen masyarakat yang menyelenggarakan apel ini. Sebagai bangsa Indonesia kita patut bersyukur sebab bangsa ini sudah mulai diperhitungkan di kancah internasional.

Sebagai bangsa yang majemuk, tandas Rafael, selalu ada konflik horisontal dan vertikal yang bernuansa SARA. Oleh karenanya perlu dicari solusi bijak untuk dapat mengatur secara lini seluruh kehidupan yang sudah dirintis oleh para pendiri bangsa ini.

“Saat ini pemahaman generasi muda terkait konsensus kebangsaan mulai mengalami penurunan. Upaya memecah belah NKRI saya harapkan tidak boleh terjadi di Sikka,” ungkapnya.

Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, mengibaratkan negeri ini merupakan sebuah bangunan rumah yang dibangun pendiri bangsa. Tiang-tiangnya adalah masyarakat yang melahirkan TNI dan Polri untuk menjaga rumah yang sudah dibangun dari berbagai ancaman dari dalam maupun dari luar. Walau dirongrong oleh berbagai kelompok kepentingan baik dari dalam dan luar, namun rumah kita yang dibangun dari keanekaragaman bisa bertahan. Mimpi kita satu Sikka harus terus dijaga dan dirawat agar Bhinneka Tunggal Ika dan Bhinneka Tunggal Sikka tetap terjaga.

“Saya mengajak seluruh elemen bangsa agar keberagaman kita menjadi semakin kokoh dan menjadi modal untuk membangun Indonesiaku, Indonesiamu, Indonesia kita bersama,” pungkasnya.

Disaksikan Cendana News, hadir dalam kegiatan ini Wakil Bupati Sikka, Drs.Paolus Nong Susar, Ketua DPRD Sikka Rafael Raga, SP,  Danlanal Maumere Kolonel Marinir Firman Johan, Dandim 1603 Sikka Letkol Inf.Abdullah Jamali, SIP serta Wakapolres Sikka Kompol Ibrahim Saleh. Juga hadir anggota PMKRI, GMNI, PMII dan HMI Sikka, pelajar, dan mahasiswa, para kepala dinas dan badan, camat, lurah, para pemimpin dari 5 agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta personil Kodim 1603 Sikka, Lanal Maumere, TNI AU, Brimob Detasemen Pelopor Maumere dan Polres Sikka, beserta istri masing-masing.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary


Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: