SELASA 22 NOVEMBER 2016

BALI---‎Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau lebih dikenal AirNav Indonesia menjadi tuan rumah Pelaksaan Civil Air Navigation Services Organization (CANSO) Asia Pacific Safety & ‎Operations Working Group Meeting 2016. Sebanyak 60 peserta dari 14 negara hadir dalam pertemuan yang diselenggarakan di Bali, 22-23 November 2016.

Direktur Utama AirNav Indonesia, Bambang Tjahjono (kiri) dan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetyo.

Sebanyak 14 negara yang hadir dalam pertemuan ini adalah Australia, Singapura, Uni Eropa, Jepang, Thailand, Taiwan, Selandia Baru, Vietnam, Filipina, Indonesia, Nepal, Bangladesh, Maladewa dan Papua Nugini.

"Ini kali pertama AirNav menjadi tuan rumah pelaksanaan acara CANSO regional Asia Pasifik. Sebagai perusahaan pelenggara pelayanan navigasi penerbangan yang baru berusia empat tahun, namun dengan tanggung jawab besar untuk mengelola ruang udara Indonesia, penting bagi AirNav untuk terlibat dalam kerja sama regional seperti ini," kata Direktur Utama AirNav Indonesia, Bambang Tjahjono, Selasa 22 November 2016.

Seluruh anggota CANSO, Bambang melanjutkan, melayani 85 persen ruang udara di dunia. Untuk itu, dalam pertemuan ini ada beberapa hal yang dibahas, di antaranya kolaborasi ADS-B, impelentasi AIDC, kolaborasi manajemen lalu lintas penerbangan dengan metereorologi hingga penerapan Air Traffic Flow Management (ATFM).

Indonesia, Bambang melanjutkan, saling berbagi data dari ADS-B dengan negara tetangga. "Terutama dengan FIR yang berdekatan, kolaborasi ADS-B penting dilakukan. Misalnya Australia menggunakan beberapa data ADS-B kita, dengan juga sebaliknya," terang Bambang.

Sejumlah kawasan yang perlu melakukan ini adalah ruang udara di atas Laut China Selatan, Samudera Hindia dan Teluk Benggala. Selain itu, dalam pertemuan ini negara-negara yang hadir akan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam bidang pelayanan dan keselamatan navigasi penerbangan.

Menurut Bambang, kerja sama antar operator navigasi penerbangan dibutuhkan mengingat kawasan Asia Pasifik dalam 20 tahun mendatang diprediksi akan menjadi pemimpin pertumbuhan lalu lintas penerbangan dunia, di mana diperkirakan terjadi pertumbuhan sebesar 5,7 persen setiap tahun.

"Jumlah penumpang dan lalu lintas penerbangan terus bertambah dan penerbangan merupakan salah satu kontributor utama dalam pertumbuhan ekonomi. Karenanya penting operator navigasi penerbangan untuk melakukan efisiensi, meningkatkan produktifitas serta tetap mempertahankan level pelayanan dan keselamatan," kata Bambang.

Sejumlah inovasi dan program yang dilakukan suatu negara akan disampaikan dalam pertemuan ini. AirNav Indonesia sendiri akan menyampaikan program-program yang telah dilakukan selama dua tahun terakhir untuk meningkatkan keselamatan navigasi penerbangan Indonesia.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetyo menjelaskan, dalam kurun waktu yang masih muda, tugas AirNav Indonesia sudah sangat banyak. Untuk itu, peningkatan teknologi navigasi sangat penting untuk dilakukan. "Ini untuk meyakinkan dunia bahwa Indonesia memberikan pelayanan baik dalam navigasi penerbangan, peralatan modern dan lainnya," ujar Suprasetyo.

"‎Kita menjembatani kerja sama dengan negara lain, contoh dengan Amerika Serikat dan Eropa untuk peningkatan pelayanan teknologi dan efisiensi. Kami juga menyediakan peralatan berbasis online," tambahnya.

Jurnalis: Bobby Andalan/Editor; Irvan Sjafari/Foto: Bobby Andalan
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: