JUMAT, 25 NOVEMBER 2016
YOGYAKARTA---Selain menyatakan perlunya peningkatan daya saing melalui sertifikasi produk dan tenaga kerja, para Ekonom PP ISEI mengingatkan adanya ancaman besar di era MEA. Ancaman itu adalah masuknya jutaan tenaga kerja asing bersertifikat ke Indonesia. Ancaman ini dirasa sangat nyata, mengingat investor asing yang nanti masuk ke Indonesia memasukkan tenaga kerjanya ke dalam satu paket perjanjian kerjasama investasi.

Dalam acara penutupan Konferensi Internasional Federasi Asosiasi Ekonomi Asean (Federation of Asean Economic Association/FAEA) ke-41 di Yogyakarta, Jumat (25/11/2016), Ekonom Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat, Dr. Aviliani, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia.
 
Dr Aviliani (kiri) menjelaskan mengenai kemungkinan eksodus 400 juta pengangguran China ke Indonesia.

Menurutnya, saat ini di negara China terdapat 400 juta pengangguran yang bisa menjadi ancaman, karena mereka mengarah untuk bekerja ke Indonesia. Apalagi, tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia itu adalah tenaga kerja terlatih atau terampil (skilled labour). Sedangkan tenaga kerja Indonesia yang ke luar negeri mayoritas bukan yang terlatih.

Ancaman masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia, lanjut Aviliani, menjadi ancaman yang nyata, karena ke depan perusahaan luar negeri yang masuk menjadi investor di Indonesia sudah satu paket, yaitu investasi dan tenaga kerja.

Selain itu, Aviliani juga mengatakan, hal yang perlu diamati adalah tenaga kerja asing yang terlatih bisa mengerjakan lima pekerjaan sekaligus, sedangkan tenaga kerja Indonesia hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan saja, sehingga produktivitas tenaga kerja asing tersebut memang lebih tinggi.

Dengan adanya ancaman itu, Aviliani mengatakan, perlu segera melakukan sertifikasi tenaga kerja Indonesia di semua sektor. Pasalnya, kata Aviliani, dari 128 juta angkatan kerja di Indonesia, saat ini hanya 5 persen saja yang sudah tersertifikasi.

"Sementara itu, kebanyakan tenaga kerja Indonesia di luar negeri saat ini bukan tenaga kerja yang terlatih atau bersertifikat, sehingga tidak termasuk dalam perjanjian Asean," tegasnya.

Terkait tenaga kerja asing yang bisa menjadi ancaman bagi Indonesia itu, Edy Suandi Hamid menambahkan,  Indonesia memang menjadi negara yang mempunyai daya tarik bagi para pekerja asing. Di tahun 2013 saja, katanya, tenaga kerja dari Malaysia di Indonesia ada sebanyak 4.942 orang.

"Indonesia berada di peringkat keenam di dunia sebagai negara yang paling diminati oleh tenaga kerja asing," pungkas Edy.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: