MINGGU, 20 NOVEMBER 2016
JAKARTA---Babak final Festival Seni Budaya Nusantara yang diadakan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara atau Kermahudatara di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 19/11/2016 menampilkan beragam aksi menarik para pelaku budaya cilik dan remaja.

Dalam rangka peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2016, maka Festival Seni Budaya Nusantara yang bertajuk Bhinneka Tunggal Ika ini turut mengusung misi besar, yaitu mengembalikan fungsi adat di tubuh masyarakat Nusantara melalui gerakan besar pelestarian budaya Nusantara.

Dengan mengangkat, melestarikan serta mengedepankan seni budaya asli Nusantara maka sama saja dengan memperkuat jati diri bangsa Indonesia. Jika hal itu sudah ditanamkan sejak usia dini para generasi muda maka ke depannya bangsa ini tidak akan mengalami kehancuran. Karena seni budaya beserta adat istiadat yang terikat di dalamnya sebagai satu kesatuan merupakan pondasi dasar suatu bangsa.

Aksi luar biasa dari lima remaja lucu membawakan tari berburu
khas Papua.
Mengutip pernyataan seorang Pemimpin Besar Republik Indonesia, "Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi.
Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat-budaya Nusantara yang kaya raya ini," demikian pernyataan yang pernah dilontarkan Bung Karno.

Menerjemahkan pernyataan Bung Karno, maka Ketua Umum DPN Kermahudatara, H.P. Panggabean S.A, M.A., mengatakan bahwa sudah jelas Indonesia memiliki jati diri. Adat-budaya itulah jati diri bangsa Indonesia, sehingga perlu selalu sadar agar semakin memahami betapa kemajemukan adat-budaya merupakan kekayaan sekaligus jati diri bangsa Indonesia.

"Melalui acara ini, DPN Kermahudatara mencoba berkata kepada seluruh bangsa Indonesia dan kepada dunia bahwa inilah adat-budaya Nusantara. Inilah kami, bangsa Indonesia, inilah jati diri kami," ucap Panggabean atau akrab disapa Opung ini.

"Selain itu, festival seni budaya tahunan yang kami adakan secara rutin ini merupakan wahana pembangunan karakter bagi generasi muda untuk tumbuh menjadi pribadi yang mengenal baik sekaligus memahami
budayanya sendiri," sambung Opung.


Grup vokal lagu pop daerah Kupang NTT membawakan lagu Maumere.
Apa yang diutarakan Ketum DPN Kermahudatara memang menjadi kenyataan. Seluruh peserta tampak menyuguhkan penampilan luar biasa sebagai bukti komitmern mereka untuk mengenal, melestarikan sekaligus menjadikan adat-budaya masing-masing sebagai jati diri mereka. Festival dibuka dengan manortor oleh remaja Tapanuli dengan begitu apik. Bahkan ada keunikan yang cukup membanggakan karena banyak di antara mereka yang membawakan tarian lintas suku. Salah satu contoh adalah kumpulan
anak-anak remaja yang keseluruhannya berasal dari Jawa, Sunda, Padang, membawakan tari berburu khas Papua dengan sangat luar biasa.

Masih banyak lagi kegiatan festival selain suguhan tari tradisional, yakni musik tradisional dan grup vokal lagu-lagu pop daerah Indonesia. Komunitas grup vokal remaja Kupang, NTT, menjadi salah satu favorit pengunjung saat membawakan lagu Maumere dengan begitu mempesona. Bahkan sekumpulan grup vokal asal Cileungsi, Bogor, mampu membawakan lagu rakyat Papua Yamko Rambe Yamko dengan sempurna lengkap bersama gerak olah tubuh layaknya penari Papua.

Ketua Panitia, George Fadly M pun menyatakan kegembiraan atas kelancaran acara serta animo dari peserta festival. Bahkan penyatuan beragam adat-budaya yang terjadi melalui acara ini begitu mengagumkan.

"Hari ini seolah tidak terlihat perbedaan agama dan suku. Semua membaur menjadi satu dalam kebhinnekaan sebagai suatu bangsa besar yakni bangsa Indonesia. Lihat sendiri bagaimana tadi remaja-remaja bukan orang Papua asli namun mampu membawakan tari kreasi Papua dengan sempurna," papar George.

Selain memberikan trofi, panitia pun menyertakan hadiah berupa uang pembinaan bagi setiap pemenang festival ini.

"Total hadiah tidak penting untuk dibicarakan, akan tetapi bagaimana kreasi para remaja ini sanggup membelalakkan mata Indonesia dan dunia, itu yang terpenting. Siapa pun yang menang maupun kalah tidak akan mampu merubah bahwa remaja-remaja yang berpartisipasi dalam acara ini semuanya adalah pemenang sejati," demikian pungkas Ketua Umum DPN Kermahudatara, H.P. Panggabean S.A, M.A.

Acara festival ini dipuncaki dengan pemberian penghargaan adat dari DPN Kermahudatara kepada dua tokoh yang masing-masing dicermati sangat berjasa mengangkat budaya Nusantara sekaligus merekatkan kemajemukan baik suku, adat-budaya maupun agama di tengah-tengah masyarakat. Mereka berdua adalah H. Hasan Jamrud tokoh masyarakat dari Pulau Buru dan Dr. Ir. H. Marzuki Usman, M.A. mantan
Menteri Negara Pariwisata, Seni dan Budaya Indonesia era Presiden BJ. Habibie serta Menteri Kehutanan dan Perkebunan Indonesia era Presiden Abdurrachman Wahid.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor : Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: