JUM'AT, 4 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Thalassemia merupakan sebuah kelainan darah akibat faktor genetik atau keturunan, yang menyebabkan protein dalam sel darah merah atau yang disebut hemoglobin, tidak bisa berfungsi normal. Pada anak, kelainan itu bisa menghambat pertumbuhan dan bahkan kematian. Sementara, kelainan darah tersebut juga tak bisa disembuhkan.


Demikianlah thalassemia, yang ternyata banyak dialami anak-anak di Yogyakarta. Salah satunya, Siti Nashita Humaira (8), anak pertama dari pasangan Bagus Pramudijono dan Asih, warga Kampung Kranon, Umbulharjo, Yogyakarta. Siti sudah dua tahun ini diketahui mengidap kelainan darah itu, dan harus menjalani terapi tranfusi darah setiap tiga minggu sekali.

Ditemui di Ruang Kemoterapi Anak, Gedung Kanker Terpadu Tulip RSUP Dr. Sardjito, Sleman, Jumat (4/11/2016), Bagus mengatakan, pada awalnya ia dan isterinya tak menyadari jika anak pertamanya itu mengidap kelainan darah. Hanya saja, Bagus merasa curiga, karena sang anak sering sekali mengalami flue, dan berat badannya kurang serta pertumbuhannya sangat lambat.

"Setelah dilakukan cek darah, baru diketahui kalau anak saya mengalami thalassemia", ujarnya.
Sebagai penyakit bawaan atau keturunan, kata Bagus, thalassemia tak bisa disembuhkan. Satu-satunya cara hanya dilakukan terapi berupa transfusi darah, untuk menambah hemoglobin dan harus dijalani seumur hidup.


Humas RSUP Dr. Sardjito, Suntoro, mengakui, cukup banyak anak-anak di Yogyakarta mengalami thalassemia. Karena tak bisa disembuhkan dan harus menjalani tranfusi darah secara berkala seumur hidup, lanjutnya, pihaknya pun berupaya memberikan pelayanan yang menyenangkan dan menghibur, agar anak-anak tidak merasa sedang berobat.

"Salah satunya dengan mengadakan hiburan seperti atraksi magic atau sulapan, yang telah beberapa kali ini diadakan bekerjasama dengan Majelis Duha Sakinah", ujarnya.

Berbagai hiburan itu, kata Suntoro, tidak hanya sekedar menghibur. Namun, juga bisa merangsang panca indra pasien dan menstimulus secara mental sehingga menambah semangat bagi pasien anak-anak.


"Hiburan itu sangat penting diberikan, mengingat pasien yang masih anak-anak, agar tak merasa sedang berobat, melainkan sedang bermain", ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Duha Sakinah, Lia Amalia, mengatakan, pihaknya secara berkala memang selalu melakukan aksi sosial dengan bagi-bagi sedekah berupa nasi boks, termasuk kepada para orangtua pasien thalassemia. Karena pasiennya merupakan anak-anak, katanya, maka dalam aksi sosialnya itu pihaknya juga menyuguhkan hiburan berupa atraksi magic atau sulapan.

Thalassemia yang tak bisa disembuhkan, tentu saja akan menjadi beban bagi para penyandang dan orangtua. Tidak hanya dari sisi keuangan, melainkan juga dari aspek lain seperti kesusahan yang harus dialami oleh penderita. Karena itu, Asih pun berpesan kepada yang belum terlanjur menikah, agar memeriksakan darah sebelum menikah.

Pasalnya, kata Asih, thalassemia sebagai kelainan bawaan, dipengaruhi oleh kondisi kesehatan orangtua. Jika pasangan suami-isteri ternyata merupakan pembawa sifat kerusakan hemoglobin, maka 25 Persen kemungkinan anaknya akan mengalami thalassemia.

"Maka, sekarang ini ada persyaratan test darah sebelum menikah, yang salah satunya untuk mencegah agar tidak menghasilkan keturunan yang berpenyakit bawaan", pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: