JUMAT 25 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Semakin banyaknya berbagai kegiatan seni dan budaya di banyak daerah, ternyata memberi dampak positif bagi meningkatnya minat belajar seni di kalangan anak-anak. Hal ini sebagaimana tampak dari perkembangan signifikan di sebuah Sanggar Belajar Tari di Sleman.

Dewi Listyaningrum, seorang guru Tari di Sanggar Tari Kembang Sakura Dusun Masen Baru, Sinduadi, Mlati, Sleman.  Dewi menunjukkan sertifikat sanggar.
Sejak adanya Dana Keistimewaan (Danais) di DI Yogyakarta, berbagai pentas seni dan budaya semakin masif diadakan. Seiring dengan itu, animo belajar seni tradisional meningkat signifikan. Hal demikian dikatakan Guru Tari di Sanggar Tari Kembang Sakura Dusun Masen Baru, Sinduadi, Mlati, Sleman, Dewi Listyaningrum.

Ditemui di sanggarnya, Jumat (25/11/2016), Dewi mengatakan, saat ini di sanggar tari yang dikelolanya ada sebanyak 145 murid. Padahal, pada awal berdirinya sanggar tersebut pada 2009, hanya ada 11 murid anak-anak dari usia 6-12 tahun. Jumlah murid kemudian berkembang pesat ketika banyak acara seni budaya digelar di banyak daerah sebagai salah satu pelaksanaan amanat Undang-undang Keistimewaan DIY yang ditopang oleh anggaran yang sangat besar melalui Dana Keistimewaan.

Namun demikian, kata Dewi, meningkatnya jumlah murid di sanggarnya juga tidak lepas dari beragam prestasi yang pernah diraih anak-anak didik Sanggar Tari Kembang Sakura. Selain itu, kata Dewi, nama Kembang Sakura juga membuat masyarakat penasaran.

"Nama Kembang Sakura ini merupakan perpaduan budaya Jawa dan Jepang, karena di sanggar ini anak-anak tidak hanya diajari menarikan tarian lokal saja, tapi juga diajari menarikan sejumlah tari tradisional Jepang dan bahasa Jepang," katanya.

Menurut Dewi, seni dan bahasa sangat berkait erat. Melalui bahasa, katanya  seseorang bisa mempelajari budaya bangsa lain sebagai upaya pengembangan dan pelestarian. Dengan menguasai bahasa asing, dalam hal ini Jepang, jelas Dewi, juga akan meningkatkan nilai jual bagi seorang penari.

Dengan jumlah murid 145 orang terdiri dari usia 6-25 tahun, Dewi yang pernah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) jurusan tari itu membagi muridnya ke dalam 6 kelas. Setiap tahun sekali, para murid akan diuji untuk kenaikan kelas. Guru penguji berasal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dosen ISI dan para seniman.

"Dengan guru penguji dari praktisi kedinasan dan akademisi, penilaian naik kelas menjadi obyektif. Ini juga merupakan keharusan bagi sanggar yang sudah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwista, dan sedikitnya juga menjadi nilai jual dari sebuah sanggar," ungkap Dewi.

Dengan berbagai prestasi yang pernah diraih, misalnya juara satu tingkat nasional festival keprajuritan tahun 2015, Dewi mengaku sebenarnya tidak sengaja mendirikan sanggar tari. Waktu itu pada 2009, kata Dewi, ada beberapa anak tetangga yang minta diajari menari untuk pentas seni di acara peringatan hari kemerdekaan RI.

"Berawal dari melatih anak-anak itu, orang mengira saya membuka sanggar. Lalu, ada beberapa orang yang datang untuk mendaftar. Saya terima saja dan akhirnya saya membuka sanggar beneran," katanya.

Perihal menambahkan pelajaran bahasa Jepang, Dewi mengaku juga hanya ingin memanfaatkan dan menularkan kemampuannya berbahasa Jepang yang dipelajarinya sewaktu kuliah di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Ternyata, kata Dewi, masyarakat menganggap pembelajaran bahasa dan tari Jepang itu sebagai nilai lebih.

"Penguasaan bahasa asing sangat menunjang prestasi penari. Ini karena seringkali para penari juga akan menari di tengah penonton luar negeri. Selain itu, penguasaan bahasa asing meski hanya sedikit, sangat membantu memahami budaya lain," katanya.

Sementara itu, beberapa tari tradisional Jepang yang diajarkan di Sanggar Kembang Sakura, antara lain Tari Bon Odori yang merupakan tarian musim panas di Jepang dan Tari Awa Odori, serta Yo Sa Kwe yang mirip tarian Saman asal Sumatera karena ada lagunya.

Menurut Dewi meski lebih fokus kepada seni tari kreasi beberapa tari tradisional Nusantara juga diajarkan sebagai ilmu dasar.  Tari yang diajarkan tari klasik seperti Gambyong dari Surakarta, Tari Nawung Sekar dan Tari Golek dari Yogyakarta, Tari Pendet dari Bali, Tari Badindin dan Tari Saman serta Tari Pasambahan Minang dari Sumatera.

Menurut Dewi, tak ada kesulitan untuk mengajarkan tari-tarian itu kepada anak-anak usia 6-12 tahun. Jika anak berbakat, menurutnya, dalam waktu satu bulan seorang anak bisa menguasai satu jenis tarian.

Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko



Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: