JUMAT 25 NOVEMBER 2016

LAMPUNG-Maraknya aksi vandalisme dengan cara melakukan pencoretan, melukis, mengecat di dinding, bangunan serta pohon di sejumlah tempat wisata yang ada di Lampung Selatan diminimalisir dengan cara bijak dan unik oleh pengelola destinasi wisata Tanjung Tua Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan.

Batu curhat yang ada di lokasi wisata Tanjung Tua sebagai cara mengurangi aksi vandalisme di fasilitas publik dan pohon.
Cara unik yang digagas oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dengan menyediakan batu curahan hati atau dikenal dalam bahasa gaul anak anak muda "batu curhat" di destinasi wisata Tanjung Tua yang mulai dikenal luas di media sosial karena memiliki banyak spot menarik. Spot menarik tersebut di antaranya menara pandang yang juga sebagai mercusuar, tebing eksotis, lokasi memancing, atau tempat bersantai di bawah pohon pohon pantai dan rumah rumah pohon di sekitar lokasi.

Menurut Didi Hodidi (34) selalu pengelola dan ketua Kelompok Sadar Wisata Tanjung Tua, awalnya kegiatan mengumpulkan lempeng lempeng batu yang ada di sekitar pantai dilakukan untuk memberi penunjuk arah beberapa lokasi yang sering dikunjungi saat berada di Tanjung Tua. Namun seiring berjalannya waktu dengan semakin dikenalnya Tanjung Tua yang booming di jejaring sosial Path, Instagram, Twitter, Facebook membuat pengunjung membludak. 

Dampaknya banyak pengunjung yang senang datang ke lokasi tersebut dan selanjutnya merekam jejak dengan menulis di dinding-dinding batu, bahkan pohon yang ada di Tanjung Tua. Tak mau merusak alam dan membuat aksi vandalisme semakin meluas, Didi mengajak rekan rekannya untuk mengumpulkan batu batu lempeng, bulat dengan berbagai ukuran dan diberi tulisan.

"Awalnya kami bikin tulisan tulisan unik, selanjutnya setiap pengunjung ada yang meminta ikut menuliskan isi hatinya bahasa anak muda sekarang curahan hati bentuknya doa, harapan atau uneg uneg di sini dan ditulis di batu yang sudah disediakan dan dikumpulkan di satu lokasi agar bisa dibaca,"ungkap Didi Hodidi saat dikonfirmasi Cendana News di lokasi wisata Tanjung Tua Desa Bakauheni, Jumat (25/11/2016).

Puluhan batu bahkan sebagian ditempatkan pada lokasi berbeda dimaksudkan untuk mengingatkan kepada pengunjung untuk tidak melakukan aksi vandalisme di sejumlah tempat wisata, tak hanya di Tanjung Tua melainkan di beberapa destinasi wisata di tempat lain. Cara tersebut menurut Didi terbukti efektif bahkan pengelola menyediakan cat khusus dan alat tulis yang bisa digunakan oleh pengunjung setelah itu melakukan aktivitas berfoto bersama di lokasi tersebut.

Menggunakan Kembali Kayu Bekas

Media lain yang digunakan untuk mengekspresikan diri di lokasi wisata di tepi pantai tersebut menurut Didi Hodidi diantaranya menggunakan sarana kayu kayu bekas yang terbawa arus di sepanjang pantai. Kayu yang sebagian berupa papan dipotong dengan berbagai ukuran sebagian digunakan sebagai penyangga untuk memasang berbagai macam tulisan. Sementara kayu kayu besar digunakan sebagai kursi atau meja untuk tempat bersantai bagi pengunjung yang datang di destinasi wisata Tanjung Tua.

Sejumlah papan  sebagai himbauan menggunakan kayu bekas yang terbawa arus laut di Pantai Tanjung Tua.
Sebagian kayu, bambu yang menepi oleh arus bahkan digunakan oleh Pokdarwis untuk membuat beberapa rumah panggung yang bisa digunakan pengunjung untuk bersantai. Sebagian digunakan untuk pembuatan mushola di atas pohon yang hanya ada di lokasi wisata Tanjung Tua. Pemanfaatan batu, kayu bekas juga berlaku pada sampah lain diantaranya sandal, sepatu serta alas kaki beragam corak yang menepi karena dibuang sembarangan dan terbawa ombak. Pengelola sengaja mengumpulkan dalam karung karung bekas yang bisa digunakan pengunjung untuk membentuk formasi menyerupai hati.

"Formasi hati ini juga memiliki makna agar pengunjung mencintai lokasi wisata ini, ungkapan hati karena banyak yang datang adalah remaja yang sedang jatuh cinta dan tanda cinta secara umum,"ungkap Didi Hodidi.

Penggunaan bahan bahan bekas untuk didaur ulang menjadi karya seni dan juga barang barang bermanfaat tersebut diungkapkan Didi menjadikan destinasi wisata tersebut lebih bersih. Selain tidak ada aksi nakal pengunjung yang melakukan aksi vandalisme di sejumlah tempat juga diberikan tempat sampah khusus agar tidak membuang sampah sembarangan. Terkait cara kreatif tersebut, salah satu pengunjung destinasi wisata

Tanjung Tua, Viviani (23) mengaku sangat mengapresiasi sebab dirinya masih menjumpai banyak pengunjung tidak menyadari pentingnya menjaga tempat wisata. Ia bahkan mengungkapkan destinasi wisata Menara Siger yang terkenal pun sudah menjadi korban aksi vandalisme di semua bagian. Pengunjung yang datang bahkan sengaja melakukan aksi mencoret dinding dengan beberapa alat tulis yang sengaja dibawa sebelum mendatangi destinasi wisata tersebut.

"Langkah yang bijak memang dengan cara menyediakan tempat khusus untuk berekspresi salah satunya dengan papan atau batu batu curhatan untuk mengurangi tangan tangan jahil berkarya di tempat yang tak biasa,"ungkap Viviani.

Ia bahkan mengungkapkan cara terbaik untuk menghindari merusak sejumlah destinasi wisata diantaranya tanpa membuang sampah sembarangan, tidak mengambil bagian bagian tertentu di lokasi wisata dan hanya mengabadikan melalui kamera. Kesadaran tersebut menurut Viviani memang hanya dimiliki oleh segelintir orang karena boomingnya sebuah temat wisata yang rata-rata timbul karena adanya peran media sosial.

Aksi vandalisme di lokasi wisata Menara Siger dengan mencoreti dinding menggunakan spidol,cat oleh pengunjung.
Kepala Desa Bakauheni, Sahroni, menegaskan akan semakin memperbaiki fasilitas dan akses menuju ke lokasi destinasi wisata Tanjung Tua. Ia bahkan mencatat saat akhir pekan jumlah pengunjung ke lokasi wisata tersebut semakin meningkat bahkan sejak Jumat pemancing dari berbagai daerah sudah berdatangan untuk menginap di Tanjung Tua dan melakukan aktivitas memancing. Ia berharap selain bisa menjadi tempat wisata yang menyenangkan, nyaman, warga sekitar juga bisa mendapatkan dampak positif keberadaan lokasi wisata tersebut. Sebab sebagian besar warga bisa melakukan aktifitas berjualan, menawarkan jasa perahu, atau menjadi juru parkir.

"Keberadaan tempat wisata ini sebagai sebuah kesempatan bagi warga untuk meningkatkan perekonomian dan bila perlu menjual suvenir berkaitan dengan tempat ini yang akan menambah penghasilan,"terang Sahroni.

Ia juga mengaku mengalokasikan Dana Desa yang diperoleh untuk perbaikan infrastuktur jalan agar pengunjung tidak kesulitan mencapai lokasi. Meski saat ini jalan yang digunakan hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua namun masyarakat yang berniat mengunjungi Tanjung Tua masih cukup antusias terutama kaum muda di akhir pekan untuk menikmati suasana tenang Selat Sunda.

Sampah dari laut berupa sendal,sepatu yang jumlahnya mencapai ribuan dikreasikan menjadi bentuk hati.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: