SABTU, 19 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Ratusan ekor burung berkicau berbagai jenis asal Kabupaten Sibolga Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tujuan Semarang Jawa Tengah, diamankan petugas Balai Karantina Pertanian Kelas I Lampung, wilayah kerja Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Menurut penyidik BKP Bakauheni, Buyung Hadiyanto, ratusan ekor burung kicau dan burung hias berbagai jenis tersebut, rencananya hendak diseberangkan menggunakan bus penumpang antar kota antar provinsi (AKAP) yang akan memakai jasa penyeberangan kapal Ferry melalui Pelabuhan Bakauheni. Burung diamankan petugas dalam razia rutin di pintu masuk pelabuhan dan ditemukan di bagasi barang saat petugas melakukan penggeledahan pada bus penumpang tersebut.

Buyung Hadiyanto yang mendampingi penanggungjawab Kepala Kantor BKP Lampung, Drh. Azhar menerangkan, ratusan ekor burung tersebut diangkut dalam keranjang-keranjang buah dengan masing-masing mencapai sekitar 10-15 ekor setiap keranjang. Petugas yang menghentikan bus ALS bernomor polisi BK 7471 DJ warna hijau kombinasi tersebut, sempat memeriksa kelengkapan dokumen dan fisik keranjang buah yang dibawa meski pengemudi yang kendaraannya menjadi alat angkut bisa menunjukkan dokumen. Namun, petugas mencurigai dokumen yang dibawa untuk melalulintaskan ratusan ekor burung tersebut.


Tempat penyitaan ratusan jenis burung yang menyalahi prosedur dokumen.

"Awalnya kita lakukan pengecekan dan saat diperiksa, ternyata pengemudi yang mengangkut keranjang buah berisi ratusan ekor burung tersebut bisa menunjukkan dokumen karantina wilayah asal. Namun tanggalnya sudah kadaluwarsa dan ini menyalahi aturan," ungkap Buyung Hadiyanto saat dikonfirmasi Cendana News, Sabtu (19/11/2016).

Dokumen kedaluwarsa yang dimaksud Buyung, di antaranya dokumen karantina tersebut tertulis  25 Oktober 2016 asal Sibolga, sementara ratusan ekor burung tersebut dikirim pada 18 November. Berdasarkan data dan pemeriksaan, ratusan ekor burung yang diamankan di antaranya terdiri dari 14 box yang berisi 5 box burung jalak, 8 box berisi burung ciblek, 1 box berisi burung kutilang, 1 box berisi burung pokasi, 1 box berisi burung srindit, 1 ekor tengkek buto, sisanya sebanyak 5 kardus berisi burung cucak ranting dan cucak mini.


Bus yang ternyata membawa dokumen sudah kedaluwarsa.
 Sebagai upaya pengamanan sementara, puluhan box tersebut segera dibawa ke kantor karantina Bakauheni untuk proses selanjutnya menunggu pemilik melengkapi dokumen karantina dan jika tidak bisa melengkapi maka akan dilepasliarkan. Selain pengamanan perlalulintasan ratusan ekor burung tersebut dipastikan menyalahi aturan Undang-undang Karantina meski burung-burung tersebut bukan kategori hewan yang dilindungi namun dokumen yang dibawa sudah kedaluwarsa.

"Meski demikian, kami tetap akan beri batas waktu selama tiga hari bagi pemilik burung untuk melengkapi dokumen. Namun jika batas waktu yang diberikan tak bisa dipenuhi, maka terpaksa kami lepasliarkan karena khawatir semakin banyak yang mati," ungkap Buyung.

Keranjang buah tempat menyimpan ratusan ekor burung yang bernilai mahal.
Pengiriman satwa jenis burung tersebut, menurut Buyung Hadiyanto, terbukti melanggar UU No 16 tahun 1992 tentang Karantina Ikan, Hewan dan Tumbuhan yang terdapat pada pasal 6 huruf (a) di mana pengiriman satwa tersebut tidak dilaporkan petugas karantina. Ditambah dikhawatirkan satwa yang dibawa menggunakan bus penumpang tersebut akan menjadi sumber penyakit bagi penumpang dalam kendaraan karena merupakan jenis media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK).

Ia mengimbau kepada perusahaan oto bus yang mengangkut satwa apa pun harus melengkapi dokumen karantina sesuai yang dipersyaratkan di antaranya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), surat izin pengepul dari BKSDA daerah asal, serta membayar tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sesuai yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 2016 tentang jenis dan tarif atas penerimaan negara bukan pajak yang berlaku di Kementerian Pertanian.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi





Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: