SABTU, 26 NOVEMBER 2016
KETAPANG---Satu individu bayi orang utan dievakuasi petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat dalam hal ini Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL-Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang. Evakuasi satwa yang dilindungi undang-undang konservasi ini bersama Polsek Kendawangan dan YIARI-Ketapang.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang BKSDA Kalbar, Ruswanto menyatakan, jenis satwa orang utan  (pongo pygmaeus) ini diberi nama oleh pemiliknya: Boy. Diketahui jenis orang utan ini adalah jantan dengan usia 1 tahun.

“Lama dipelihara 10 bulan. Kondisi satwa sehat,” kata Ruswanto, Sabtu (26/11/2016).

Satu individu orang utan dievakuasi petugas Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang BKSDA Kalbar.

Ia menjelaskan, satwa ini berasal dari penyerahan masyarakat setempat bernama Bahriah yang berprofesi swasta dan beralamat di Desa Air Hitam Hilir, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pemelihara orang utan ini mengaku sekitar sepuluh bulan yang lalu, satu individu orang utan kecil didapatkan terpisah dari induknya di Bagan saat pergi ke ladang. Kondisi satwa telah berkurang sifat liarnya karena diperlakukan seperti anak manusia.

“Kemudian atas kesadaran yang bersangkutan, beliau menyerahkan satwa orang utan ini kepada petugas Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL-SKW I Ketapang,” ujarnya.

Selanjutnya, sebagai upaya animal welfare satwa langsung dititiprawatkan untuk direhabilitasi di YIARI- Ketapang hingga dapat kembali ke habitat aslinya di hutan.

“Untuk jenis satwa orang utan selama ini merupakan satwa favorit peliharaan. Ini merupakan penyerahan secara sukarela dari masyarakat yang ke-19 kepada BKSDA Kalimantan Barat selama kurun waktu tahun 2016 sampai hari ini,” ucapnya menjelaskan.

Petugas mendata orang utan yang diserahkan.
Ia menambahkan, hal ini mengindikasikan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di habitat alamnya.  Dalam animal welfare tercatat ada beberapa jenis satwa lain dilindungi yang juga diserahkan secara sukarela.

“Tindakan semacam ini sekaligus mencerminkan hasil dari upaya kegiatan konservasi, secara preventif-persuasif. Baik yang berkaitan dengan patroli, sosialisasi, penyuluhan maupun represif penegakan hukum yang selama ini terus dilakukan,” pungkasnya.

Jurnalis: Aceng Mukaram / Editor: Satmoko / Foto: Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang BKSDA Kalbar
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: