JUMAT, 25 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Para ekonom dari Negara-negara ASEAN menyimpulkan, kecenderungan global saat ini mengarah pada gaya proteksionisme yang menjadi tantangan dalam mewujudkan kerjasama regional di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Selain itu, juga disimpulkan perlunya menjadi contoh dalam mewujudkan pasar tunggal yang mampu menyejahterakan warganya.

Edy Suandi Hamid
Hal demikian diungkapkan Panitia Pelaksana Konferensi Internasional Federasi Asosiasi Ekonomi ASEAN (Federation of ASEAN Economic Association/FAEA) ke-41, Edy Suandi Hamid, dalam keterangannya usai penutupan konferensi tersebut di Yogyakarta, Jumat (25/11/2016).

Edy menjelaskan, kecenderungan pada gaya proteksionisme sebagaimana Inggris yang kemudian keluar dari Uni Eropa (Brexit -red) dan Amerika yang berniat keluar dari Trans Pacific menjadi tantangan bagi ASEAN untuk lebih percaya diri membangun kerjasama ekonomi agar mampu bersaing.

"Upaya meningkatkan kepercayaan diri salah satunya bisa dilakukan dengan perbaikan kualitas kebijakan persaingan usaha yang sehat, perundang-undangan yang memudahkan usaha sekaligus melindungi konsumen," ujar Edy.

Sementara itu, Sekretaris Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI), Dr. Aviliani menambahkan, Indonesia menguasai 40 persen dari populasi penduduk di ASEAN, sehingga jangan sampai hanya menjadi pasar saja. 

Disebutkan, peningkatan daya saing mutlak diperlukan, di antaranya dengan melakukan sertifikasi tenaga kerja dan tidak hanya mengandalkan ekspor komoditas saja, namun harus segera mendorong adanya produksi komoditas yang bernilai strategis.

FAEA ke-41 di Yogyakarta berlangsung tiga hari sejak 23-25 November 2016, diikuti oleh perwakilan 7 Negara ASEAN, yaitu Indonesia sebagai tuan rumah, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Philipina. Empat pilar ekonomi yang telah disepakati dalam membangun pasar ekonomi di era global MEA menjadi pembahasan pokok.

Empat pilar ekonomi itu adalah Pasar Tunggal dan Basis Produksi, Kawasan Ekonomi Berdaya Saing Tinggi, Kawasan dengan Pembangunan Ekonomi yang Setara, dan Kawasan Terintegrasi Penuh dengan Ekonomi Global.
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: