SABTU, 26 NOVEMBER 2016
YOGYAKARTA---Bong Supit kenamaan sejak zaman Jepang di Desa Bogem, Kalasan, Sleman, menggelar sunatan massal melibatkan anak-anak kurang mampu dari berbagai daerah, Sabtu (26/11/2016). Sunatan massal digelar sebagai tasyakuran atas diterimanya Anugerah Budaya yang diberikan oleh Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta.

Lebih dari 100 anak usia Sekolah Dasar, bahkan juga ada beberapa yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak, mengikuti sunatan massal yang diadakan oleh Juru Supit atau Bong Supit Bogem. Gelar sunatan massal dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Sleman, Sri Purnomo dan Sri Muslimatun, bersama jajaran dan muspika setempat.

Bupati Sleman Sri Purnomo menyalami sejumlah anak yang ikut sunatan massal.
Dalam sambutannya, Bupati Sleman, Sri Purnomo, sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, terlebih atas diterimanya Anugerah Budaya dari Pemerintah Daerah DI Yogyakarta kepada almarhum Raden Ngabehi (R.Ngb.) Noto Pandoyo, sebagai Bong Supit Bogem sekaligus cikal bakal Bong Supit yang terkenal hingga sekarang. Selain sebagai bong supit, lanjut Sri Purnomo, almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo juga merupakan abdi dalem Raja Kesultanan Yogyakarta di masa Sultan Hamengku Buwono IX. Banyak para pangeran dari Kesultanan Yogyakarta maupun dari Kesunanan Surakarta melakukan sunatan di Bogem.

"Anugerah Budaya yang diberikan kepada almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo dalam kategori Pelestari Adat dan Tradisi, diberikan atas dedikasi almarhum sebagai bong supit yang sudah mengabdi kepada masyarakat sejak zaman penjajahan," ungkap Sri Purnomo.

Bupati Sleman Sri Purnomo mengajak berbincang-bincang sejumlah anak yang ikut sunatan massal.

Sri Purnomo juga berharap, semoga penerus yang ada di Bong Supit Bogem bisa menjaga dan merawat  adat dan tradisi di tengah perkembangan zaman modern. Sri Purnomo juga menyampaikan pesan kepada para peserta sunatan massal, agar lebih giat belajar guna mencapai cita-cita.

Dalam sejarahnya, Bong Supit Bogem telah ada sejak zaman Jepang dan Belanda di tahun 1939. Sebagai bong supit paling tua dan terkenal mampu menyunat tanpa banyak luka dan darah serta cepat sembuh. Bong Supit Bogem pun menjadi rujukan tempat sunatan para pangeran.

Bardo Jumeno, putra kelima almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo.
Putra kelima almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo, Bardo Djumeno (62), mengatakan, Anugerah Budaya yang diberikan Pemerintah Daerah DI Yogyakarta menambah semangat bagi keluarga untuk meneruskan dan menjaga eksistensi adat dan tradisi.

"Sejak awal berdiri, sudah banyak keluarga kenamaan yang menyunatkan anak dan cucunya di sini. Termasuk Keluarga Cendana atau cucu-cucu mendiang Presiden Kedua RI, Soeharto," ungkapnya.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko




Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: