SELASA, 8 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi biogas merupakan jawaban atas ancaman kelangkaan sumber energi fosil di masa depan, sekaligus solusi pencegahan kerusakan alam akibat penggunaan energi fosil. Saat ini, bahkan kelangkaan energi fosil mulai dirasakan, juga dampak kerusakan alam yang menimbulkan anomali cuaca.

Meninjau instalasi biogas 
Mengingat dampak dan ancaman itulah, berbagai upaya mendapatkan sumber energi baru terbarukan dilakukan oleh negara-negara di dunia yang peduli terhadap kelestarian alam, salah satunya Indonesia. Sejumlah negara yang tergabung dalam sebuah lembaga pembangunan berkemanusiaan (Humanistic Institute for Development Cooperation/HIVOS) berupaya menjaga kelestarian alam melalui berbagai program pengembangan energi baru terbarukan, seperti biogas dari limbah kotoran sapi.

Di Indonesia, HIVOS bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Terbarukan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, memasyarakatkan pembentukan kelompok-kelompok ternak sapi yang membuat instalasi biogas. Salah satunya peternak sapi di Dusun Gulon, Srihardono, Pundong, Bantul, yang dikunjungi Wakil Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, Selasa (8/11/2016).

Dalam kunjungan itu, Titiek Soeharto tiada merasa ragu mendekati tempat instalasi biogas di kandang sapi milik Tugiyo, guna melihat langsung sistem kerja biogas yang mampu memandirikan peternak sapi dalam hal kebutuhan sumber daya gas, pupuk organik dan bahkan listrik, karena biogas tersebut juga mampu diolah menjadi listrik untuk kebutuhan sehari-hari seperti menyalakan lampu dan sebagainya. 

Di sela kunjungan kerja Titiek Soeharto, Koordinator Rumah Energi Biru (Biogas Rumah) Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah yang merupakan mitra kerja HIVOS di Indonesia, Wiliam Leang menjelaskan, biogas sebenarnya hanya salah satu program energi baru terbarukan yang dikembangkan di wilayah Pulau Jawa. Sedangkan di luar Jawa, Rumah Biru mengembangkan sumber energi baru terbarukan dengan sumber daya dari tenaga air dan surya.

Wiliam menjelaskan, instalasi biogas limbah sapi dibuat dengan membangun kubah beton penampung limbah sapi dalam tanah. Kotoran sapi termasuk urine dialirkan ke kubah dan terjadi fermentasi yang menghasilkan gas metan. Jika gas metan sudah penuh, maka akan menekan ampas limbah sapi keluar dari kubah, yang kemudian ampas limbah sapi itu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

Untuk menghasilkan gas metan yang baik, jelas Wiliam, idealnya limbah sapi dicampur air dengan perbandingan satu banding satu. Artinya, satu ember kotoran sapi dicampur satu ember air, diaduk dan kemudian dialirkan ke dalam kubah.

"Kubah biogas bisa dibuat dengan beragam ukuran kapasitas mulai dari 4 hingga 12 meter kubik. Sedangkan untuk menghasilkan biogas itu, sedikitnya dibutuhkan 30 kilogram kotoran sapi," jelasnya.

Wiliam menjelaskan manfaat biogas
Saat ini, menurut Wiliam, antusiasme para peternak sapi untuk membuat biogas sangat besar. Hanya saja, kata Wiliam, tingginya biaya pembuatan kubah menjadi kendala. Untuk kubah limbah kapasitas empat meter kubik, membutuhkan dana Rp.8 Juta. Sekedar untuk meringankan para peternak, kata Wiliam, pihaknya mensubsidi biaya pembuatan instalasi biogas sebesar Rp. 2 Juta.

"Sejauh ini tidak ada kendala dari pemanfaatan limbah sapi menjadi biogas ini. Hanya masalah biaya saja yang bagi petani dirasa memberatkan,"pungkasnya.
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: