SELASA, 15 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Kejadian miris menimpa seorang bocah usia 1,5 tahun asal Kampung Pucangsawit, Jebres, Solo, Jawa Tengah, berinisial JM. Bocah yang belum bisa bicara itu disiksa oleh majikan orangtuanya dengan cara sadis, mulai dari disiram kopi panas, gigi mungilnya dipatahkan dengan tang atau catut dan bahkan digiling dengan mesin cuci.

Sartini menunjukkan berkas laporan perkaranya 
Dengan diantar oleh salah seorang tetangganya dari Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, Sartini (36) mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SKPT) Kepolisian Daerah DI Yogyakarta, Selasa (15/11/2016), malam ini. Sartini yang juga ditemani sejumlah kerabat dan rekan, melaporkan penganiayaan sadis yang menimpa anaknya, JM, yang baru berusia 1,5 tahun.

Kepada petugas, Sartini menjelaskan jika putranya tersebut disiksa oleh majikannya berinisial AC dengan cara sadis dan berkali-kali sejak bulan Juni-Juli 2016. Sartini mengatakan, penyiksaan terhadap anaknya itu dilakukan di dua lokasi berbeda, karena AC yang merupakan majikannya berpindah rumah.

Menurut Sartini, penyiksaan mulai terjadi di rumah majikannya di Klaten, Jawa Tengah, dan terus berlanjut ketika majikannya itu berpindah rumah di Dusun Samalo, Patalan, Jetis, Bantul. Mengharukan, bocah usia 1,5 tahun itu disiksa dengan sadis di depan mata Sartini, ibunya, dan istri pelaku yang tak berdaya mencegah penyiksaan itu.

"Anak saya disiksa mulai dari dipukul dengan tangan kosong, dimasukkan kulkas besar selama satu jam lamanya, gigi dipatahkan dengan tang, kemaluannya disiran kopi panas, dua jari kaki kanan diikat dengan karet gelang selama satu malam, dipaksa makan sambal pedas, kedua tangan diikat dan dipancangkan di pintu, hidung ditendang dan ditaruh di atas lemari tinggi selama berjam-jam", jelas Sartini.

Jari menyatu akibat diikat karet gelang
Akibat penyiksaan itu, JM kini mengalami trauma. Setiap melihat kulkas takut, dan tulang hidungnya patah sehingga pernafasannya terganggu. Selain itu juga mengalami bekas luka bakar di perut serta dua jari kaki kanannya menyatu akibat diikat karet gelang.

Sartini mengatakan, AC melakukan penyiksaan itu karena menganggap anaknya sebagai pembawa sial yang menyebabkan usaha AC bangkrut. 
Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: