SABTU, 26 NOVEMBER 2016
YOGYAKARTA---Bong Supit Bogem di Kalasan, Sleman, tak hanya terkenal karena sudah lama berdiri, namun juga karena dipercaya proses sunatannya cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebihan. Bong Supit Bogem masih mempertahankan cara tradisional sehingga mendapatkan penghargaan Anugerah Budaya dari Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta.

Hingga sekarang, banyak warga dari berbagai daerah masih merasa lebih puas menyunatkan anaknya di Bong Supit Bogem. Tidak hanya warga dari Yogyakarta, melainkan juga warga luar daerah dan bahkan luar Pulau Jawa. Setiap musim libur sekolah, dipastikan ratusan anak-anak antri menunggu disunat di Bong Supit Bogem yang didirikan oleh almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo sejak 1939.

"Ayah kami dulu belajar menyunat dari seorang mantri kesehatan Belanda. Makanya, dulu sebutannya juru supit atau bong supit," jelas Basuki Harjono, putera kesembilan almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo, Sabtu (26/11/2016).

Basuki Harjono yang kini membuka praktik di kawasan Kelapa II Wetan, Ciracas, Jakarta Timur.
Basuki mengisahkan, di zaman pendudukan Jepang dan Belanda, sangat sulit mendapatkan obat penyembuh luka. Karenanya, saat itu digunakan cara-cara tradisional seperti putih telur, air gula kelapa atau gula batu yang dicairkan untuk menghambat pendarahan dan mempercepat keringnya luka bekas sunatan. Namun demikian, lanjut Basuki, seiring perkembangan zaman Bong Supit Bogem juga mengikuti perkembangan dunia medis yang mengutamakan aspek sterilisasi luka dan higienitas. Pasalnya, agar luka cepat kering dan sembuh itu kuncinya memang harus steril dan higienis yang ditunjang dengan pemberian obat.

"Cara kami dikatakan masih tradisional, juga bukan berarti kami masih menggunakan cara-cara lama dalam menyunat. Tetap mengikuti perkembangan, meski ada beberapa hal yang masih kami pertahankan sebagai tradisi," jelasnya.

Sementara berkait proses sunatan yang dianggap cepat sembuh, Basuki mengatakan jika hal itu juga tergantung kondisi anak. Berdasar kanpengalaman, ada beberapa kasus yang membutuhkan proses pemotongan kulit dua kali atau satu kali. Hal inilah yang membuat lama penyembuhan berbeda-beda.

Bupati Sleman, Sri Purnomo, menjenguk peserta sunatan massal yang diselenggarakan Bong Supit Bogem belum lama ini.
"Kalau hanya satu kali pemotongan, tentu lukanya akan lebih cepat sembuh," jelasnya.

Sebagai bong supit yang paling lama berdiri sejak sebelum zaman kemerdekaan, Bong Supit Bogem menjadi tempat sunatan bagi para keluarga raja dan tokoh besar di negeri ini. Menurut Basuki, beberapa cucu Presiden Soeharto juga disunat oleh almarhum Raden Ngabehi Noto Pandoyo.

"Almarhum ayah pernah bercerita sering dipanggil ke Cendana. Bahkan juga almarhumah Ibu Tien Soeharto pernah menanam Pohon Keben di sini. Tapi, sayang sudah tidak ada pohonnya, karena lokasinya sekarang terkena pelebaran Jalan Raya Yogyakarta-Solo. Kami juga tidak menyimpan foto-foto kenangan zaman dulu, karena di zaman itu kamera tidak semudah sekarang," ungkap Basuki.

Bong Supit Bogem saat ini diteruskan oleh putera keturunan Raden Ngabehi Noto Pandoyo. Basuki sendiri sebagai putra kesembilan, membuka praktik di kawasan Kelapa II Wetan, Ciracas, Jakarta Timur. Sedangkan di Bogem, Kalasan, Sleman, diteruskan oleh tiga saudaranya yang lain, yaitu Bardo Djumeno, Sutomo dan Budiharjanto.

"Kami sembilan bersaudara. Empat laki-laki dan lima perempuan," pungkasnya.

 Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: