SENIN, 28 NOVEMBER 2016
MAUMERE--Apel gelar pasukan dilaksanakan dalam rangka membangun komitmen dan kerjasama yang sinergis di antara semua elemen untuk tetap menjaga dan memelihara kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada  umumnya dan masyarakat Kabupaten Sikka khususnya agar tetap aman, tenteram, damai, dan tertib. Demikian disampaikan Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera, saat memimpin apel gelar pasukan di lapangan Kota Baru Maumere, Senin (28/11/2016) pagi.


Bupati Sikka Drs.Yoseph Ansar Rera.
Dikatakan Ansar, sapaannya, apel gelar pasukan sangatlah penting dan strategis untuk mengetahui berbagai kesiapan, baik kesiapan personil, peralatan, maupun sistem dan metode kerja yang akan digunakan dalam rangka mengantisipasi terjadinya berbagai masalah yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat Kabupaten Sikka ini.

“Apel ini sangat relevan dilakukan di tengah situasi bangsa ini yang sedang megalami berbagai cobaan serius yang kalau tidak disikapi dan dikelola dengan baik serta bijaksana akan membawa dampak buruk bagi penyelenggaraan pemerintahan ke depan,” tegasnya.

Suasana apel gelar pasukan di Lapangan Kota Baru Maumere.
Sebagaimana diketahui bersama, lanjut Ansar, kehidupan demokrasi di Indonesia telah memberi ruang kebebasan bagi masyarakat untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat dan itu dijamin oleh undang-undang. Kebijakan ini menyebabkan timbulnya proses transformasi nilai-nilai yang tidak saja positif tetapi juga negatif, apabila dilakukan tidak sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. Salah satu permasalahan yang disinyalir sedang terjadi di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, ungkap mantan Sekda Ende ini, semakin menguatnya pemikiran sektoral, pemikiran yang terkotak-kotak yang hanya mengutamakan kepentingan kelompok dan golongannya.


Apel gelar pasukan di lapangan Kota Baru Maumere.
“Tindakan ini cenderung mengabaikan kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan nasional,” terangnya.

Selain itu Ansar mengatakan, aksi nyata gerakan radikalisme dan terorisme yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia sangat berpotensi mengancam keamanan, kententraman, dan ketertiban masyarakat serta berpotensi mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, tandasnya, sudah saatnya kita perlu meningkatkan kewaspadaan dini di masyarakat agar mampu mendeteksi berbagai bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan sedini mungkin dalam rangka menciptakan kondisi yang aman dan kondusif demi kelancaran pembangunan nasional.

“Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara aspek keamanan merupakan prasyarat utama yang sangat hakiki dalam menjamin kelangsungan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, “ ungkapnya.

Ancaman aktual akhir-akhir ini semakin nyata terjadi di beberapa daerah dan tidak tertutup kemungkinan bisa saja terjadi di Sikka sehingga Ansar meminta semua harus tetap waspada dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegahnya sejak dini agar wilayah Kabupaten Sikka tetap menjadi wilayah yang aman dan kondusif.

"Pentingnya keamanan menjadi sesuatu yang harus kita jaga, kita pelihara bersama," ucap mantan Wakil Bupati Sikka ini. Hal itu bisa tercapai dengan melakukan cara membangun jejaring dan komunikasi yang intens di antara seluruh tingkatan pemerintahan, mulai dari desa atau kelurahan, kecamatan hingga kabupaten.

“Kita harus mampu membangun komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk dapat mencegah terjadinya aksi-aksi kejahatan dan teror di bumi nian Sikka ini,” pesannya.

Perkembangan terkini di tengah masyarakat kita, sebut Ansar, telah memunculkan fenomena menarik yang menjelaskan terjadinya pergeseran dalam implementasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pergeseran ini, bebernya, cenderung membuka peluang untuk terciptanya gesekan dan memunculkan konflik di tengah masyarakat yang majemuk ini. Hal ini semakin diperparah dengan kondisi tatanan budaya kita yang mulai bergeser, yang cenderung memberikan peluang berkembangnya berbagai bentuk kekerasan dan tindakan kriminal.

“Oleh karena itu, kecermatan kita dalam melihat, menangkap dan menganalisa fenomena ini tidak hanya kepada akibat dari apa yang terjadi, tetapi seharusnya lebih kepada sumber dan pemicu terjadinya gesekan tersebut,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: