JUM'AT, 11 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA---Candi Prambanan bukan hanya menjadi saksi zaman Mataram Hindu Kuno. Namun juga saksi perjalanan bangsa ini, yang terlihat dari proses perjalanan pemugaran tahap demi tahap sejak zaman Pemerintahan Hindia Belanda hingga Presiden Kedua RI, Soeharto. 


Candi Prambanan yang termahsyur di seluruh dunia, telah menarik kedatangan banyak tokoh bangsa dari berbagai negara. Keberadaannya menjadi kitab peradaban tidak hanya bagi Indonesia, melainkan juga umat manusia di dunia. 

Eksistensi Candi Prambanan sebagai sumber ilmu pengetahuan, jauh dari sekedar hanya obyek wisata, sudah pasti juga tergantung dari kepedulian para pemimpin di negeri ini. Tanpa kepedulian Pemerintah dan seluruh warga Indonesia, khususnya warga sekitar candi, sekiranya Candi Prambanan dan candi-candi lainnya mustahil masih bisa dinikmati hingga kini.


Dalam catatan sejarahnya, Komplek Candi Prambanan sudah ditemukan keberadaannya sejak tahun 1733 oleh seorang pegawai VOC Belanda yang saat itu berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah, C.A. Lons. Tetapi, selama 100 tahun lebih candi tersebut dibiarkan terlantar. Baru pada tahun 1885, J.W. Ijzerman mulai melakukan pembersihan komplek candi tersebut dari timbunan tanah, khususnya yang menutupi bilik Candi Siwa. Namun, pembersihan yang dilakukan secara metodologis oleh Ijzerman itu tak dilengkapi dengan dokumentasi.

Kegiatan pembersihan dan upaya pemugaran itu kemudian dilanjutkan oleh J. Groneman, yang melengkapinya dengan foto-foto Cephas, khususnya pada relief Candi Siwa. Namun, lagi-lagi upaya tersebut juga tak dilengkapi catatan sistematis, sehingga menyulitkan proses pemugaran berikutnya.

Kendati demikian, upaya pemugaran awal yang dilakukan itu memberi titik terang bagi para arkeolog di masa berikutnya. Jerih payah Ijzerman dan Groneman lalu dimanfaatkan oleh Van Earp, yang pada tahun 1902-1903 berhasil memperbaiki bilik Candi Siwa dengan cara mengembalikan reruntuhan batu-batu ke tempat aslinya. Kemudian pada tahun 1915, relief-relief difoto ulang oleh Van Stein Callenfels yang dibantu oleh L. Poerbatjaraka guna mengidentifikasi Candi Siwa.

Seiring dengan situasi politik di masa penjajahan Belanda, pemugaran secara metodologis mulai dilakukan sejak 1918, ketika FDK Bosch menugaskan P.J. Perquin di bawah Oudheidkundig Dienst, untuk menyusun kembali Candi Siwa. Tugas itu lalu pada 1935 diteruskan oleh V.P. Van Romondt yang dibantu oleh P.H. Van Coolwijk, Soehamir, dan Samingun.


Zaman yang terus berkembang dan berganti penguasa di negeri ini, upaya pemugaran Candi Prambanan terus berlanjut. Di era pendudukan Jepang, selama 3 tahun pemugaran diteruskan oleh Samingun dan Soewarno. Dan, pada tahun 1946, kegiatan upaya pemugaran terhenti, karena Pemerintah Hindia Belanda berusaha kembali menjajah Indonesia. 

Sesudah masa sulit di era penjajahan, pemugaran Candi Prambanan dilanjut lagi pada tahun 1953. Pada tahun inilah pemugaran Candi Siwa dinyatakan selesai, dan pada 20 Desember 1953 diresmikan oleh Presiden Perrama RI, Soekarno.

Dalam masa pemugaran Candi Siwa itu, sebenarnya sejak tahun 1951 juga telah dilakukan penyusunan percobaan pada Candi Brahma dan Candi Wisnu, namun proses pemugarannya baru bisa dilakukan pada tahun 1977.

Seperti diketahui, di era 1945 hingga 1960-an, bangsa ini masih didera oleh segala bentuk penjajahan. Dimulai dengan agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia, lalu juga Perang 10 November 1945 di Surabaya, dan Pemberontakan Gerakan 30 September 1965 yang melanda seluruh Indonesia.

Tahun demi tahun berganti, era kepemimpinan di tanah air juga berganti. Namun, pemugaran Candi Prambanan terus bersambung. Setelah selesai pemugaran, Candi Siwa, upaya pemugaran kemudian mulai menyentuh Candi Brahma yang berada di Halaman I, sebagai titik awal pekerjaan besar, karena sebelumnya belum pernah tersentuh. Candi Brahma pun kemudian selesai dipugar pada tahun 1987 dan diresmikan oleh Prof. DR. Haryati Soebadio pada 23 Maret 1987. 

Sementara itu, pemugaran Candi Wisnu yang memakan waktu kurang lebih 9 tahun sejak 1982, selesai dipugar pada tahun 1991. Candi Wisnu kemudian diresmikan oleh Presiden Kedua RI, Soeharto, pada 27 April 1991. Tak lama kemudian pada tahun yang sama, tiga Candi Wahana, yaitu Candi Garuda, Candi Nandi dan Candi Angsa, juga selesai dipugar dan diresmikan lagi oleh Presiden Soeharto pada 20 Februari 1993.

Sebagai saksi sejarah bangsa ini, Candi Prambanan tak hanya menorehkan jejak era kepemimpinan negeri ini sejak zaman Belanda, Jepang, Soekarno dan Soeharto. Namun juga menjadi saksi bencana besar yang terjadi pasca Pemerintahan Soeharto, yaitu bencana gempa bumi yang merusakkan beberapa bangunan Candi Prambanan itu.


Seperti diketahui, gempa tektonik berkekuatan 5,9 Skala Ricter mengguncang sebagian besar wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006, silam. Gempa yang terjadi pada pukul 05.55 WIB itu mengakibatkan kerusakan struktural (miring, runtuh, dan deformasi vertikal horisontal) maupun kerusakan material meliputi retak, patah, pecah, dan mengelupas yang cukup parah pada beberapa bangunan Candi Prambanan.

Rehabilitasi pun kemudian dilakukan secara berkala berdasarkan prioritas tingkat kerusakan, yang dimulai dengan merehabilitasi Candi Garuda, Candi Nandi, Candi Brahma, Candi Wisnu, Candi Angsa, dan Candi Apit Selatan. Keseluruhan proses rehabilitasi itu kemudian selesai dilakukan, dan diresmikan pada 19 Oktober 2014 oleh Wakil Presiden RI, Boediono.

Kini, Prasasti Purna Pugar Pasca Gempa 27 Mei 2006 dipasang bersebelahan dengan Prasasti Purna Pugar Candi Wisnu di sisi utara pintu masuk Candi Prambanan.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Koko Triarko
 

Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: