SENIN 14 NOVEMBER 2016

PONOROGO---Kebijakan pemerintah yang mengijinkan impor mata cangkul dari Tiongkok ternyata menjadi keberkahan sendiri bagi para petani. Pasalnya, menurut informasi dari beberapa penjual alat pertanian, cangkul impor memiliki kualitas bagus dan harga terjangkau.

Parjono penjual cangkul di Pasar Balong, Ponorogo.
Salah satu penjual alat pertanian di Jalan Pahlawan, Puji Rahayu menjelaskan cangkul impor cepat laku dibanding cangkul produksi dalam negeri.

"Cangkul impor itu cepat habis dan barangnya jarang ada, jadi sering diburu petani," jelasnya kepada Cendana News, Senin (14/11/2016).

Harga untuk mata cangkul impor dibanderol Rp70-80 ribu, sedangkan cangkul dalam negeri buatan pabrik dihargai RP35-40 ribu dan untuk cangkul buatan masyarakat Blitar dihargai Rp 150-200 ribu.
"Kualitasnya bagus yang impor, lebih tebal dan rata matanya, kalau buatan pabrik itu tipis jadi sering 'gripis' (aus.red), nah yang dari Blitar ini bagus juga tapi harganya kemahalan," ujarnya.

Puji menambahkan meski kebijakan pemerintah mengijinkan impor cangkul dari Tiongkok berlangsung Juni-Desember 2016, keberadaan cangkul impor ini sudah ada sejak 10 tahun terakhir.

"Cangkul impor ini sebenarnya sudah ada lama disini, sekitar 10 tahun," cakapnya.

Penjual alat pertanian di Pasar Balong, Parjono membenarkan ucapan Puji Rahayu. Banyak petani lebih memilih cangkul impor dibanding cangkul lokal.

"Petani kan cari yang awet, jadi lebih milih impor. Apalagi barangnya sulit didapat jadi sering rebutan," tuturnya.

Pemasok cangkul lokal biasanya berasal dari Jogja, Surabaya, Kediri dan Blitar. "Kalau di Ponorogo itu di Kecamatan Pulung biasanya, tapi saya tidak tahu tepatnya dimana, salesnya cuma bilang dari Pulung saja," pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Charolin Pebrianti
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: