RABU 30 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Mona (23) sehari hari sibuk di salon Santi terlihat sibuk melayani pelanggan yang berniat memotong rambut dan aktivitas tata rias dan kecantikan lainnya yang menjadi sumber penghasilan bagi dirinya. Berprofesi sebagai ahli rias dengan sebutan wanita pria (waria) yang dipandang oleh masyarakat sekitar dengan pandangan sebelah mata bahkan direndahkan.

Mona sedang bekerja di salonnya. Dia menjadi relawan bagi rekan-rekannya.
Kondisi tersebut menurut Mona merupakan hal biasa dan sudah diterimanya dengan lapang dada dan dianggap sebagai sampah masyarakat bahkan dianggap sebagai penyebar dan penular penyakit menular seksual di antaranya Rajasinga,HIV/AIDS dan penyakit lainnya berkaitan dengan kelamin. Mona bahkan mengaku dirinya sebagai waria sadar diri bahwa pandangan tentang dirinya pekerjaan sebagai tukang pangkas rambut yang dikerjakan di salon sering mendapat persepsi negatif dari masyarakat.

Ia bahkan mengaku justru terlibat dalam relawan bagi rekan rekannya yang sudah terinfeksi HIV/AIDS di wilayah tersebut khususnya kaum waria di Kecamatan Bakauheni yang saat ini jumlahnya mencapai sekitar 20 orang yang sebagian besar merupakan waria dengan profesi sebagian besar merupakan wiraswasta di bidang kecantikan.

“Kami selama ini memang dianggap sebelah mata bahkan sebagai penyebar penyakit kelamin terutama pekerjaan salon yang benar benar untuk mencari penghasilan dan tidak menawarkan fasilitas plus plus,” ungkap Mona saat dikonfirmasi Cendana News di Salon Santi yang terletak di Pasar Bakauheni Lampung Selatan,Rabu (30/11/2016)

Ia bahkan mengaku dari sekitar 20 orang waria yang ada di Bakauheni tersebut dirinya mengetahui ada yang sudah terjangkit penyakit HIV/AIDS namun dirinya secara jujur telah terlibat dalam kelompok kerja (pokja) dan relawan bagi kawan kawannya sesama waria. Ia bahkan mengaku dalam waktu dekat akan melakukan pemberdayaan masyarakat dalam hal pelatihan pembudidayaan ikan air tawar lele dan ikan koi yang ada di Desa Harapan Kecamatan Ketapang.

Mona mengaku kerap mendapat cibiran dari masyarakat terkait profesi tukang cukur di salon dengan dirinya yang dianggap dengan sebutan banci,waria atau pandangan negatif lainnya. Sebagai langkah menepis hal negatif tersebut tidak dengan frontal dirinya bahkan melakukan kegiatan positif dengan pemberdayaan diantaranya pelatihan bersama produsen kosmetik melibatkan masyarakat yang tertarik dalam bidang kecantikan termasuk rias pengantin.

Kegiatan sosial kemasyaratan diantaranya dengan terlibat dalam kegiatan sosial cukur gratis diantaranya ulang tahun Desa Bakauheni pada 2015 berhasil mencukur sebanyak 110 warga Bakauheni dan pada  2016 mencukur sebanyak 75 warga Bakauheni di Menara Siger.

Ia juga sadar pandangan negatif khususnya  tentang penyakit kelamin disikapi dengan terlibat dalam Pokja yang dibentuk dan bahkan telah ikut pemeriksaan kesehatan,darah terakhir bulan September lalu dengan hasil negatif. Ia juga selalu mengajak rekan rekan sesama waria untuk menjauhi dunia malam dan hal hal yang berkaitan dengan dunia seks bebas.

“Saya tidak munafik karena sering ada yang mencela saya karena jujur memang saya sama sekali tidak ingin memasuki dunia seperti itu dan sudah sibuk dengan pekerjaan memangkas rambut”ujarnya.

Kesibukan tersebut menurut Mona dibantu Santi, Helen, Yuli yang dalam sehari bisa melayani pelanggan untuk pangkas rambut sebanyak 20-30 orang dengan didominasi anak anak dan orang dewasa. Ia bahkan mengaku dengan jasa sebesar Rp10ribu per kepala untuk jasa cukur dan Rp50 ribu untuk perawatan kecantikan dirinya bisa meraih omzet sekitar Rp1 juta perhari. Omzet tersebut dirasanya cukup untuk ditabung bagi keperluan sehari hari dan meminimalisir untuk mendekati hal hal negatif.

Bakauheni Dikenal Zona Merah HIV/AIDS

Wilayah Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung disinyalir menjadi wilayah merah karena rentannya penyebaran penyakit menular HIV/AIDS. Kondisi tersebut dibenarkan oleh Sekretaris Desa  Bakauheni Dedi Sutomo yang mengungkapkan data tersebut diperoleh dari Kelompok Kerja (Pokja) Kabupaten Lampung Selatan khusus penanggulangan HIV/AIDS.

Sahroni mengungkapkan, rentannya daerah Bakauheni terhadap penyebaran penyakit tersebut dikarenakan menjadi daerah transit dan bahkan perilaku seks bebas yang terjadi di wilayah Bakauheni akibat maraknya aktivitas para penjaja seks komersial (PSK) yang ada di beberapa titik di Bakauheni yang menjadi lokalisasi terselubung diantaranya berupa kontrakan kontrakan dan rumah kos yang digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja yang hanya tinggal sementara di Bakauheni.

Langkah antisipasi pihak pemerintah Desa Bakauheni misalnya saja  dengan membentuk pokja dan tim pokja terdiri dari dinas kesehatan setempat, ibu ibu PKK, pemerintah desa setempat dengan sasaran utama selain memberikan masukan kepada pelaku pekerja seks juga memberi himbauan kepada tukang ojek yang menjadi alat transportasi pelaku.

Pokja tersebut bahkan  akan melakukan kegiatan sosialisasi di antaranya kepada tukang ojek yang disinyalir sebagai "guide" atau pengantar para wanita PSK tersebut. Sementara kepada para wanita ibu ibu PKK akan diberikan cara cara mendekati para PSK tersebut secara psikologis untuk pendampingan secara mental.

Dari data yang dikumpulkan oleh Pokja tersebut bahkan di wilayah Bakauheni telah dinyatakan sebanyak 17 orang positif mengidap virus HIV/AIDS. Dari total penderita tersebut bahkan sebanyak 6 orang sudah meninggal dunia. Bahkan menurut Mona pada2016 jumlah tersebut bisa mencapai kisaran 20 orang meski data tersebut harus terus diverifikasi ulang.

Selama ini lokasi yang menjadi target utama operasi pokja yang terbentuk diantaranya dermaga 3 Pelabuhan Bakauheni dan objek wisata Menara Siger di Bakauheni yang disinyalir menjadi lokasi transaksi kegiatan bisnis terselubung transaksi seks.

Salah seorang warga Bakauheni, Suciati (34) mengaku resah dengan adanya data tersebut, sebab dengan adanya beberapa warga Bakauheni yang mengindap HIV/AIDS memberikan citra buruk bagi Bakauheni.

"Kita tidak menghakimi pelakunya tapi sikap tegas instansi terkait untuk meminimalisir atau setidaknya mencegah penyebaran penyakit tersebut," ungkap Suciati.

Ia bahkan mengungkapkan minimnya kontrol sosial di masyarakat, malah cenderung membiarkan pergaulan bebas. Namun perilaku yang menyimpang terkait pergaulan bebas atau pemahaman menggunakan jasa para PSK yang beresiko masih belum disosialisasikan secara merata oleh aparat pemerintah maupun instansi terkait.

“Sempat ada kegiatan razia kos kosan dan kontrakan di wilayah Bakauheni namun sebagian penghuni kontrakan sudah mengendus adanya kegiatan razia sehingga para pelaku bisnis tersebut tidak melakukan aktifitas bahkan mengaku sebagai penjual kopi di pelabuhan,” keluhnya.

Pendapat Suciati  ini menunjukkan betapa informasi HIV/AIDS yang diterima masyarakat tidak layak sebagai informasi karena tidak akurat.

Terkait penyebaran penyakit HIV/AIDS di Lampung Selatan sebelumnya Kasi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan, Kristi Endarwati mengatakan bahwa untuk kawasan yang memiliki potensi tertinggi penyebaran kasus HIV/AIDS di Kabupaten Lampung Selatan yakni wilayah Kecamatan Bakauheni.

Menurutnya, wilayah Kecamatan Bakauheni memiliki mobilitas warga yang cukup tinggi karena menjadi jalur penyeberangan antar pulau Sumatera dan Jawa.

"Oleh karenanya untuk di puskesmas Bakauheni sudah kita lengkapi dengan klinik IMS (infeksi menular seksual)," paparnya.

Langkah untuk memberikan pengetahuan, khususnya kepada kelompok rawan tertular HIV/Aids di wilayah Bakauheni pun, Lanjut Kristi, sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan.

"Kita juga telah melakukan mobile visity ke kelompok rawan terkena penyebaran di wilayah Kecamatan Bakauheni," terangnya.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: