KAMIS, 24 NOVEMBER 2016
JAKARTA---Ketika memberi sambutan sebelum mengumumkan pemenang ajang Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016) di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Rabu malam (23/11/2016), Direktur PPFN, Muhammad Abduh Aziz, S.S menyatakan terkejut dengan hasil yang ditunjukkan para sinematografer muda.

Karya para siswa SMA/SMK yang masuk ke panitia dan menjadi bahan seleksi dewan juri selain memperlihatkan kemampuan teknis audiovisual yang cukup baik juga memperlihatkan betapa mereka bisa memandang kebhinnekaan dalam arti sangat dalam dan begitu luas.

Direktur PPFN, Muhammad Abduh Aziz, S.S.
"Kami dewan juri sepakat, hasil karya anak-anak ini merupakan cermin kemajuan peradaban generasi muda yang memandang budaya serta perbedaan dalam bingkai besar yang disebut Bhinneka Tunggal Ika. Ditambah kejutan-kejutan alur cerita yang membuat kami terpesona," puji Abduh dalam sambutannya kepada kelima finalis LKAS 2016.

"Maksud kejutan di alur cerita itu seperti hasil karya dari Palu tentang miniatur Bali di Parigi selatan, dimana penonton dibawa hanyut dalam suasana khas Bali masa lalu dan serta merta bersama-sama terlempar ke tahun 1800 ketika pemukiman Bali itu terbentuk. Lalu ada peserta yang memulai dengan kisah budaya Jawa di Kebumen yang lengkap dengan bahasa Jawa. Penonton pun sama-sama terhenyak bahwa itu pemukiman transmigran bernama Kebumen di Lampung. Semua yang dilakukan kelima finalis murni karya ilmiah sejarah yang dikemas dalam film dokumenter yang menarik," tambah Abduh lagi.

Kenyataan yang dihadapi ini rupanya sejalan dengan apa yang sedang digagas PPFN sekarang, yakni terus menggeliat untuk menggali lebih dalam semangat kebhinnekaan melalui produksi film dokumenter sejarah adat-budaya atau peradaban Nusantara. Dan uniknya, acara LKAS 2016 adalah momentum kuat bagi PPFN untuk terus melanjutkan langkahnya.

Amir Lagandeng (kiri) guru pendamping dari SMAN 2 Palu dan Direktur PPFN Muhammad Abduh Aziz (kanan) dalam konferensi pers.
Dalam sesi tanya-jawab dengan media, Cendana News menanyakan bagaimana kelanjutan dari para pemenang LKAS 2016. Apakah hanya sebatas seremoni Rabu malam (23/11/2016) saja atau memang Kemdikbud, Direktorat Sejarah, dan PPFN mempersiapkan sesuatu bagi anak-anak muda berbakat tersebut terlepas dari hadiah biaya pembinaan yang mereka dapatkan sebagai pemenang.

"Ajang ini bukan untuk membawa mereka ke dunia film nasional atau sejenisnya, melainkan untuk menemukan metode pembelajaran sejarah bagi siswa agar tidak membosankan. Kami tidak menjual mimpi itu (dunia film nasional) kepada mereka, namun kami biarkan itu menjadi bonus saja jika memang mereka memiliki takdir ke arah itu," Abduh mengawali jawabannya.

Metode pembelajaran sejarah selama ini yang selalu dengan menghafal dan membaca sudah seharusnya dikembangkan dengan menggunakan teknologi yang sudah ada. Salah satu teknologi yang bisa digunakan adalah teknologi audiovisual. Dan LKAS 2016 sudah membuktikan serta semakin meyakinkan PPFN untuk mengambil lompatan besar terkait menggalakkan produksi film dokumenter.

Kiri: Direktur PPFN, Muhammad Abduh Aziz dalam sambutan sebelum ia mengumumkan pemenang LKAS 2016. Kanan: Pose bersama dengan Pemenang LKAS 2016 serta Dirjen Kebudayaan dan Direktur Direktorat Sejarah.
"Akan tetapi jika dikatakan mempersiapkan sesuatu, maka kami katakan memang benar kami mempersiapkan sesuatu. Karya mereka ini akan menjadi contoh karya secara nasional ke seluruh Indonesia. Itulah yang kami lakukan untuk mereka, yaitu menjadikan karya mereka sebagai contoh metode pembelajaran sejarah yang baru di masa yang akan datang," lanjut Abduh.

Harapan PPFN,  rancangan kerja sama mereka dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah maupun yang terkait lainnya dapat segera rampung agar dapat segera menjalankan pembuatan film dokumenter sejarah baik adat-budaya maupun pendidikan.

Geliat PPFN untuk mengedepankan lagi film dokumenter sejarah serta adat-budaya Nusantara mendapat apresiasi positif dari guru pembimbing salah satu sekolah finalis LKAS 2016, yaitu Amir Lagandeng dari SMAN 2 Palu, Sulawesi Tengah. Amir sangat senang jika memang PPFN bisa memproduksi kembali film-film dokumenter pendidikan. Dan dengan menjadikan karya-karya para finalis LKAS 2016 maka Amir merasa hal itu adalah sebuah penghargaan tertinggi bagi mereka yang hidup di daerah yang jauh dari keramaian kota besar seperti Jakarta.

"Sejarah itu tidak melulu tentang perang atau kerajaan. Sejarah itu bisa berupa kejadian sosial, contohnya kejadian sosial yang membentuk komunitas Bali di Parigi, Palu, atau proses sosial yang membentuk komunitas transmigran di Lampung secara turun menurun. Proses sosial itu juga sejarah," pungkas Amir menanggapi pernyataan soal rencana PPFN ke depan.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw






Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: