JUMAT, 18 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Kebutuhan akan bibit berbagai jenis tanaman bagi lahan kritis, lahan produktif, dan lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi perhatian Dr. Ir. Hilman Nugroho, Dirjen Pengendalian DAS dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Republik Indonesia. Ia mengakui, kebutuhan akan bibit berbagai jenis tanaman terutama tanaman kayu keras untuk konservasi, reboisasi, maupun produksi dan rehabilitasi DAS tidak akan terpenuhi tanpa adanya upaya penyiapan bibit bermutu, massal dan bisa disediakan dengan cara cepat, seragam, serta efesien. Saat mengunjungi lokasi pembibitan permanen Balai Pengelolaan DAS Way Seputih-Way Sekampung (BBDAS-WSWS) di Desa Karangsari, ia bahkan berkesempatan meninjau proses penyiapan jutaan bibit di lokasi tersebut.

Dr. Ir. Hilman Nugroho menyebut, kunci kesuksesan konservasi hutan di Indonesia tak bisa dilepaskan dari penyiapan bibit yang juga dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan menyiapkan lahan khusus di Register 1 Way Pisang, Lampung Selatan. Sebab, menurutnya, saat ini jutaan bibit diperoleh dari persemaian permanen tersebut untuk berbagai jenis tanaman reboisasi, produksi, dan industri yang disediakan secara cuma-cuma bagi masyarakat. Sesuai dengan prosedur permintaan yang dipersyaratkan. Penyediaan bibit secara cepat dan efesien tersebut, menurut Dirjen pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK RI tersebut, bisa tercapai dengan adanya alat khusus yang disebut dengan media semai cetak (MSC).

"Bayangkan, kalau sistem pembuatan bibit masih dikerjakan dengan sistem lama menggunakan polybag maka akan sangat lama. Hasilnya sedikit dan juga lebih memakan banyak biaya. Sementara menggunakan teknik MSC akan lebih efisien dan menghasilkan bibit yang sangat banyak," terang Dr. Ir. Hilman Nugroho didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Ir. Sutono MM, di persemaian permanen Desa Karangsari, Jumat (18/11/2016).



Dr. Ir. Hilman Nugroho, Dirjen pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia mencoba penggunaan alat media semai cetak (MSC) dan meninjau beberapa area pembibitan permanen.


Dr. Ir. Hilman Nugroho bahkan berkesempatan menjajal penggunaan mesin yang didesain khusus dan menjadi hak paten penemunya, yakni Idi Bantara, yang menciptakan alat yang dikenal dengan MSC tersebut. Proses pembuatan media semai cetak dilakukan dengan membuat campuran berbagai media tanam. Di antaranya tanah liat dan tanah gembur dengan campuran pupuk dari bahan limbah kotoran gajah Sumatera, sisa sabut kelapa dan bahan lainnya. Setelah dicetak menjadi sebuah kotak tanah yang ditempatkan dalam media khusus, media tersebut bisa menjadi tempat menanam bibit berbagai jenis tanaman sebanyak 70-90 batang yang berusia sekitar 2-3 minggu. Proses yang sederhana tersebut, bahkan terbukti telah menghasilkan bibit nyaris mencapai 2 juta sepanjang tahun 2014-2015 untuk berbagai jenis tanaman.

Seusai melakukan proses pembuatan media semai cetak, Dr. Ir. Hilman Nugroho juga mengikuti proses lanjutan pembuatan bibit di lokasi persemaian hingga sebuah bibit bisa dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam.  Ia juga meninjau beberapa area di persemaian permanen di antaranya mother plant green house (rumah bahan baku pembuatan bibit), germination house (rumah untuk proses perkecambahan), rooting area (proses penangkaran bibit stek), shaded area vegetatif (bangunan dengan areal naungan agar bibit tak terkena sengatan matahari langsung), shaded area generatif (bangunan dengan areal naungan untuk bibit lanjutan yang berumur muda), serta beberapa area lain untuk proses pembuatan bibit hingga bibit siap tanam.

Sesuai dengan peruntukannya untuk pusat pembibitan bagi masyarakat, ia berharap sistem media semai cetak tersebut bisa juga diterapkan di wilayah lain dan saat ini sudah diterapkan di Kabupaten Tanggamus yang juga memiliki pusat persemaian permanen serupa. Penggunaan media semai cetak tersebut terbukti efektif dan efisien untuk menghasilkan bibit yang diperlukan untuk penanaman di sekitar DAS serta di berbagai wilayah lain untuk penghijauan. Salah satu hasil dari proses pembibitan permanen di antaranya menyiapakan bibit bagi tanaman mangrove yang digunakan sebagai tanaman penahan abrasi di pantai Timur Lampung di antaranya di wilayah Kecamatan Mataram Baru Lampung Timur.

Berkat media semai cetak tersebut, Dr. Ir. Hilman Nugroho bahkan menyebut lokasi persemaian permanen tersebut pada tahun 2016 ini mampu menghasilkan sebanyak 2.400.000 batang bibit dengan rincian 1.769.750 batang tanaman kayu dan 630.250 batang bibit tanaman buah. Permintaan dari masyarakat dalam setengah tahun terakhir didominasi oleh permintaan bibit sengon yang digunakan untuk tanaman investasi mencapai 800.000 batang disebar ke berbagai kabupaten di provinsi Lampung.

Sementara itu, penggagas alat MSC, Idi Bantara, mengaku alat yang dibuatnya telah mendapat pemesanan dari berbagai tempat pembibitan perseorangan atau kelompok di Indonesia. Alat yang mampu menghasilkan ratusan bibit dalam sehari tersebut menurutnya dijual dengan sistem pesanan karena saat ini belum diproduksi massal. Selain belum cukup dikenal masyarakat penggunaan alat tersebut memerlukan pembelajaran khusus di antaranya sebagian pembeli melakukan praktek langsung di lokasi persemaian permanen dengan sistem pelatihan tata cara pengaplikasian alat media semai cetak.

"Saat ini, memang saya membuat berdasarkan pesanan dan harganya relatif murah untuk satu paket. Tidak lebih dari dua juta dan penggunaannya pun mudah," ungkap Idi Bantara.

Ia mengaku, selain menggunakan teknik pembuatan bibit menggunakan media semai cetak, dirinya tetap menggunakan cara pembibitan manual menggunakan polybag dan memanfaatkan limbah sisa botol air mineral atau limbah plastik lain yang bisa digunakan untuk pembibitan. Khusus untuk botol plastik ia bahkan mengaku sangat cocok untuk proses pembibitan biji atau tanaman mangrove yang digunakan untuk penghijauan kawasan pesisir Lampung.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi



Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: