KAMIS, 10 NOVEMBER 2016

MALANG---Dalam peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini Kamis (10/11/2016), siswa siswi Madrasah Aliyah (MA) Almaarif Singosari, Kabupaten Malang mencoba untuk mementaskan sebuah Drama Kolosal berjudul 'Perang Suci 10 November'. Sebanyak 170 pelajar turut menjadi pemeran dalam drama kolosal yang di helat usai melaksanakan upacara Bendera peringatan Hari Pahlawan.


"Semua pemeran drama kolosal Perang Suci 10 November ini berasal dari siswa siswi jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial MA Almaarif," jelas sutradara drama, A.Aminulloh kepada Cendana News.

Ia menjelaskan bahwa dalam drama kolosal yang berdurasi 50 menit tersebut menceritakan peranan para santri pada peperangan 10 November. Cerita ini diangkat karena menurutnya, tidak akan terjadi perang 10 November jika tidak ada peran santri di dalamnya.

"Agar lebih terasa suasana sejarahnya, kita atur halaman sekolah ini seperti kondisi Surabaya tempo dulu yang digunakan sebagai tempat peperangan. Selain itu kita juga munculkan replika Hotel Yamato berbentuk tiga dimensi," ujar siswa kelas XII IPS III tersebut.

Disebutkan, dalam drama kolosal Perang Suci 10 November terdapat penggambaran beberapa tokoh yang diperankan dalam drama tersebut diantaranya yaitu KH. Hasyim Asy'ari, Bung Tomo dan Sukarno. Tidak hanya itu, mereka juga menampilkan penggambaran Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, Laskar Putri dan Laskar Merah Putih.

"Naskah drama ini kami susun berdasarkan buku-buku sejarah serta informasi yang di berikan oleh para guru. Sedangkan untuk dapat mementaskan drama ini kami membutuhkan waktu persiapan latihan selama 16 hari,"pungkasnya.

Sementara itu menurut salah satu guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Abdul Qodir Hamid, pementasan drama Perang Suci 10 November ini sekaligus sebagai upaya pelurusan sejarah yang selama ini di kaburkan atau bahkan dihilangkan oleh pihak-pihak dalam kaitannya dengan kepentingan politik.

Lebih lanjut ia menceritakan bahwa motif sebenarnya sehingga terjadi perang suci 10 November adalah fatwa jihad yang disampaikan oleh KH.Hasyim Asy'ari.

"Jadi ketika Belanda membonceng tentara sekutu tiba di Surabaya. Bungkarno kemudian datang ke KH.Hasyim Asy'ari untuk meminta fatwa dari beliau,"ucapnya. 

Dari situ kemudian KH.Hasyim Asy'ari menyatakan bahwa umat Islam radius 94 Kilometer dari arah Surabaya, wajib ikut angkat senjata mempertahankan Surabaya sebagai bagian dari kemerdekaan Republik Indonesia. 

"Dimana hal tersebut merupakan bagian dari jihad fisabilillah,"jelasnya.

Ia juga menyatakan bahwa di lingkungan Almaarif sendiri terdapat petinggi dari Laskar Sabilillah.

"Pendiri yayasan Almaarif ini yaitu KH. Maskur adalah salah satu panglima dari laskar Sabilillah," pungkasnya.






Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: