SABTU, 19 NOVEMBER 2016
YOGYAKARTA---Dalam dua pekan ini, warga di sejumlah daerah di Jawa cukup dibuat khawatir dengan adanya gempa yang dirasa sering terjadi. Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika DI Yogyakarta mencatat, sejak dua pekan ini memang terjadi peningkatan frekuensi kegempaan.
Selama dua pekan ini, BMKG DIY mencatat telah terjadi 9 kali gempa yang cukup terasakan getarannya. Dimulai sejak gempa di Jawa Timur seperti Pacitan dan Malang, dan terakhir pada Jumat kemarin, gempa cukup besar terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Staf Observasi Geofisika BMKG DIY, Ari Sungkowo, ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (19/11/2016), menjelaskan, gempa di Gunungkidul diakuinya cukup besar, mencapai 5,2 Skala Richter dan getarannya terasakan di sejumlah wilayah di antaranya Bantul, Sleman, Yogyakarta, Magelang di Jawa Tengah dan Ponorogo di Jawa Timur.

Ari Sungkowo menjelaskan mengenai sebaran gempa yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia belakangan ini.

Meski diakui terjadi peningkatan frekuensi gempa dalam dua pekan ini, Ari mengimbau kepada warga agar tetap tenang, namun waspada. Jika ada kabar tentang akan terjadinya gempa besar atau tsunami, warga diminta untuk tidak langsung percaya dan mengklarifikasi kebenarannya.
"Dari sembilan kali gempa kemarin tidak ada yang berpotensi tsunami," tegasnya.

Sementara itu, berkait kemungkinan terjadi gempa lebih besar, Ari menjelaskan, potensi gempa tersebut memang ada. Namun, adanya potensi gempa itu bukan berarti kemudian gempa akan terjadi dalam waktu dekat atau lama.

"Dikatakan ada potensi itu karena kita memang berada di atas lempeng bumi Euro Asia dan Indo Australia, yang sewaktu-waktu memang bisa menimbulkan gempa," katanya.

Lebih jauh, Ari menjelaskan, sembilan kali gempa yang terjadi dalam dua pekan ini merupakan gempa subdiksi atau tumbukan lempeng Euro Asia dan Indo Australia di selatan Jawa. Gempa tersebut, menurutnya, berbeda dengan gempa besar yang terjadi pada 27 Mei 2006 di Yogyakarta yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang.

Tempat pemantauan fenomena kegempaan di Gunungkidul Yogyakarta.

"Gempa 27 Mei 2006 itu merupakan gempa tektonik atau gempa yang disebabkan oleh patahnya batuan di bawah tanah yang diperkirakan akibat pergerakan besar Sungai Opak. Maka disebut gempa tektonik. Kerusakannya cukup besar karena terjadi di darat, sedangkan sembilan kali gempa dalam dua pekan ini terjadi di laut," ungkapnya.

Selain itu, lanjut Ari, sembilan kali gempa dalam dua pekan ini dinilai wajar, karena masih dalam satu jalur lempeng Euro Asia yang sama, yang membentang dari sepanjang Pantai Barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Bali, dan Sulawesi.

Meningkatnya frekuensi gempa tersebut juga dinilai masih normal, sehingga Ari menegaskan, warga tidak perlu resah, namun tetap waspada dan mengenali lingkungan.

"Jangan percaya isu, terutama terkait potensi tsunami. Karena ada beberapa syarat yang harus ada untuk gempa yang berpotensi tsunami. Antara lain besarannya yang mencapai 7 SR, kedalamannya dangkal atau kurang dari 30 kilometer, dan adanya deformasi di bawah permukaan atau patahan lempeng yang naik dan banyak lagi lainnya," pungkasnya.

Jurnalis: Koko Triarko/ Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: