KAMIS 24 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Malam Apresiasi Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016 (LKAS 2016)bertempat di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, selain dihadiri jajaran Kemdikbud maupun Direktorat Sejarah Kemdikbud RI, juga disempurnakan oleh penampilan serta orasi kebangsaan untuk Bhinneka Tunggal Ika dari artis berdarah Papua, Edo Kondologit.

Penyanyi berdarah Papua, Edo Kondologit memberikan penampilan luar biasa dalam Pesan kebangsaan dari Papua di Malam Anugerah LKAS 2016, Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.
Suasana malam di Usmar Ismail Hall, Jakarta yang tenang mendadak pecah terbelah-belah oleh lengkingan suara tinggi khas penyanyi Edo Kondologit. Tampil menggunakan busana pria tradisional Papua dalam balutan nuansa kasual, Edo berhasil menyihir sekitar 300 orang mahasiswa dan elemen masyarakat yang memadati Usmar Ismail Hall, Jakarta, Rabu malam, 23/11/2016.

Lagu medley pertama yang diambil dari lagu daerah Madura, Sulawesi kemudian ditutup lagu daerah Papua berjudul " Sajojo " benar-benar mengejutkan para hadirin. Penampilan prima Edo yang tidak terlihat lelah dalam melakukan eksplorasi-eksplorasi nada membuat banyak hadirin berdecak kagum.

" Salam Kebangsaan saudaraku semua. Hitam kulit dan keriting rambutku, aku Indonesia," teriak Edo menyapa hadirin yang disambut riuh.

Selesai membawakan medley lagu daerah, Edo Kondologit menenangkan suasana menjadi hening sejenak melalui orasi kebangsaan yang sudah disiapkannya.

Edo menuturkan kekayaan sejarah adalah kemewahan yang dimiliki bangsa Indonesia. Pendidikan masa lampau mengandung begitu banyak nilai-nilai kearifan lokal yang memperkaya ranah berpikir seluruh bangsa Indonesia. Kekayaan tersebut nantinya membentuk sikap, watak dan kepribadian anak bangsa dari suku maupun agama berbeda dalam memandang perbedaan tersebut sebagai sebuah kesatuan sekaligus kekayaan bangsa.

Edo Kondologit dengan visualisasi budaya Indonesia mengiringi penampilannya.
Namun yang terjadi belakangan ini membuat Ibu Pertiwi menangis. Sesama  anak bangsa dari tanah yang sama, dari air yang sama dan hidup dibawah langit yang sama seolah saling mengoyak satu sama lain. Masing-masing datang dengan " siapa saya " dan " siapa kamu ". Padahal seharusnya,sebagai negara yang dipersatukan dalam Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika maka tidak ada saya dan kamu lagi, melainkan maju bersama sambil berteriak lantang " Ini kami, bangsa Indonesia!"

Orasi kebangsaan Edo diatas membawa hadirin yang berawal dari menyimak hingga mendadak bergemuruh membuat bergidik siapapun yang ada di sana.

Lanjut Edo melalui Lomba Kreasi Audiovisual Sejarah 2016, maka Film dokumenter sejarah kebangsaan yang dihasilkan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa sekaligus berperan mencerdaskan anak bangsa.

"Kekayaan sejarah bangsa Indonesia menopang sebuah mekanisme besar kelahiran sebuah bangsa, yakni bangsa Indonesia. Oleh karena itu saudaraku, mari rawat indonesia ini dalam sebuah bingkai indah bernama Bhinneka Tunggal Ika," demikian Edo menutup orasi kebangsaannya.

Sejurus kemudian, Edo langsung mengajak seluruh hadirin berdiri untuk bersama-sama menyanyikan sebuah lagu berjudul " Gebyar-gebyar " buah karya musisi legendaris Indonesia, Gombloh.

"Jika ada kasih didalam hatimu, maka katakan aku cinta kau, dan jika ada cinta di hatimu maka katakan aku cinta Indonesiaku," tutup Edo untuk diikuti seluruh hadirin sambil mengajak semua satukan tekad dan kekuatan menjaga keutuhan bangsa Indonesia dari perpecahan.

Edo Kondologit dan seluruh hadirin yang memadati Usmar Ismail Hall, Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta.

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Irvan Sjafari



Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: