SENIN 28 NOVEMBER 2016

YOGYAKARTA --- Selaras dengan filosofi desa sebagai akar pohon Indonesia, penguatan serta kemandirian desa menjadi prasyarat utama terciptanya kesejahteraan umum. Untuk itu diperlukan berbagai upaya, salah satunya melalui pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). 

pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bina Swadaya, Bambang Ismawan.
Dalam konsepnya  BUMDes dibentuk dengan orientasi terbentuknya kewirausahaan sosial yang mandiri, meliputi pengembangan usaha dan mencerdaskan kehidupan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan desa serta kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Orientasi tersebut bisa tercapai dengan baik dan demokratis, jika tiga pilar utamanya berjalan sinergis. Tiga pilar utama itu adalah tata pemerintahan yang baik, terdiri dari masyarakat atau Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Pemerintah (Desa/Kabupaten) dan pihak ketiga (Swasta).

"Pembangunan bisa bersifat adil dan mandiri, jika dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa yang partisipatif dan berwatak kewirausahaan sosial, mandiri serta berkelanjutan," jelas pegiat kewirausahaan sosial yang juga merupakan pendiri Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bina Swadaya, Bambang Ismawan, dalam keterangan persnya terkait rencana digelarnya Festival BUMDes Nasional Desember mendatang, Senin (28/11/2016).

Menurut Bambang, BUMDes memiliki peran penting dan strategis dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Sementara itu, BUMDes juga telah berkembang di hampir semua wilayah di Indonesia. Dua hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Festival BUMDes Tingkat Nasional yang akan dilangsungkan di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 7-9 Desember 2016, mendatang.

Bambang menjelaskan, festival tersebut akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti seminar dan workshop, menghadirkan narasumber dari Direktorat Jenderal Kementerian Desa Tertinggal, para praktisi dan pengelola BUMDes serta sejumlah tamu negara dari perwakilan Perhimpunan Organisasi Solidaritas Ekonomi Kerakyatan Asia (Asian Solidarity Economy Council/ASEC).

"Dalam workshop nanti masyarakat bisa saling belajar tentang pengetahuan yang dibutuhkan seperti pengembangan keuangan mikro, pengembangan kelompok Swadaya Masyarakat, teknologi tepat guna, rantai pasok serta pengembangan produk dan  jasa lokal yang spesifik," ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Sosiologi Universitas Indonesia, Prof. Paulus Wirutomo, yang turut terlibat dalam kepanitiaan festival BUMDes itu, menambahkan, tujuan digelarnya workshop dalam festival tersebut adalah transfer pengetahuan dari BUMDes yang telah berhasil serta para praktisi agribisnis kepada BUMdes lain yang sedang tumbuh atau baru berdiri dan masyarakat luas.

"Diharapkan festival ini akan menjadi wahana saling belajar dan berjejaring bagi berbagai kalangan seperti Pemerintah Daerah, Desa, para pakar, pengusaha, Perguruan Tinggi, LSM dan sebagainya, sekaligus ajang sosialisasi dan promosi BUMDes kepada kalangan masyarakat luas secara nasional," ujarnya.

Selain seminar dan workhsop, Festival BUMDes Nasional 2016 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, juga akan menyajikan beragam produk lokal unggulan dalam sebuah bazar dan pameran BUMDes terbaik di Indonesia.

Jurnalis: Koko Triarko/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: