MINGGU, 13 NOVEMBER 2016

LAMPUNG --- Kegiatan Festival Way Kambas (FWK) XVI yang digelar rutin setiap tahun oleh pemerintah Kabupaten Lampung Timur dan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) diikuti oleh ribuan masyarakat dan didominasi oleh peserta adventure trail, para pengunjung dari luar wilayah yang sebagian merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang datang secara rombongan dan juga para peserta perlombaan yang diorganisir oleh panitia. Selain itu lokasi lahan parkir yang biasanya sepi terlihat diramaikan oleh pedagang makanan dadakan, souvenir serta cinderamata khas TNWK diantaranya penjual kaos, boneka serta pernak pernik berkaitan dengan satwa gajah.


Festival yang diselenggarakan setiap tahun tersebut menurut salah satu warga Way Jepara, Ansori (34) diakuinya nyaris tak memiliki kemajuan yang cukup berarti dan hanya bersifat seremonial tanpa persiapan yang memadai dari panitia atau pihak terkait. Kondisi tersebut ungkapnya karena ia sudah bisa menilai perhelatan tersebut selama beberapa kali penyelenggaraan Festival Way Kambas yang dianggapnya tak memberi dampak signifikan terhadap kondisi lokasi, akses jalan, infrastruktur penunjang baik bagi gajah serta pengunjung yang berniat mengikuti festival tersebut.

"Saya sempat senang karena festival ini kembali digelar namun seperti tahun tahun sebelumnya meski gaungnya sudah mendunia namun nyaris semua infrastruktur yang ada tidak memadai, terkesan dipaksakan dan bahkan sebagian tidak membuat nyaman pengunjung,"ungkap Ansori warga Way Jepara yang ditemui Cendana News di Taman Nasional Way Kambas, Minggu (13/11/2016).

Kondisi tidak nyaman tersebut dirasakan pengunjung sejak pintu masuk yang dikenal dengan plang ijo. Selain kondisi jalan yang cukup memprihatinkan terutama bagi pengendara kendaraan pribadi dengan akses jalan yang rusak, jalan becek karena hujan, kemacetan parah karena sistem pengaturan jalan yang seadanya membuat pengunjung terasa berada di tengah kota yang disuguhi dengan kemacetan parah. Kondisi tak nyaman semakin diperparah dengan turunnya hujan saat gelaran FWK XVI digelar sementara fasilitas tempat berteduh minim sehingga masyarakat harus berteduh di tenda tenda darurat akibat keterbatasan tempat berteduh.

Selain kondisi tersebut ia mengaku kondisi lahan parkir yang semrawut terutama saat perhelatan motor adventure dengan banyaknya kendaraan roda dua lalu lalang membuat pemilik kendaraan pribadi kesulitan mengelluarkan kendaraan yang diparkir. Selain itu keberadaan fasilitas vital berupa toilet umum pun hanya disediakan dengan kondisi darurat berupa toilet portable yang digunakan dengan kondisi air terbatas. Selain itu beberapa tempat atraksi gajah yang selama ini digunakan terkesan tidak terawat dengan atap atap bangunan yang jebol dan juga sudah tidak terawat.

Terkait kondisi tersebut kepala Taman Nasional Way Kambas Subakir tidak dapat dikonfirmasi sementara perhelatan Festival Way Kambas ke-16 yang ditutup pada Mingu (13/11) lokasi konservasi gajah terlihat disesaki pengunjung dari berbagai wilayah. Lokasi lahan parkir yang hanya bisa memuat ratusan kendaraan pun disesaki kendaraan sehingga terpaksa sebagian kendaraan melakukan parkir di bahu jalan dengan kondisi jalan yang masih terbuat dari batu onderlagh.

Salah satu bloger asal Jakarta sekaligus fotografer, Vivi (29), awalnya ia mengaku membayangkan kondisi TNWK layaknya sebuah taman safari atau tempat wisata berkonsep alami dengan fasilitas pendukung yang memadai. Sebelum datang ia sudah melihat lihat dari beberapa situs terkait kondisi taman nasional tersebut dan berharap akan memperoleh sensasi yang menyenangkan saat berkunjung ke lokasi tersebut namun dirinya mengalami kehujanan, perjalanan yang tak nyaman dengan kondisi jalan yang tak memadai.

"Awalnya dari gerbang sudah cukup senang melihat kondisi jalannya sangat halus namun itu hanya beberapa kilometer saja seterusnya jalanan sangat memprihatinkan dan ini terkesan iven yang dipaksakan tanpa ada persiapan matang,"ungkap Vivi.

Ia berharap panitia dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, pihak pengelola TNWK bisa belajar dari pengalaman tahun tahun sebelumnya terutama TNWK merupakan salah satu taman nasional yang menjadi "wajah" Indonesia dalam hal taman nasional terutama konservasi gajah. Sementara itu ia mengaku akan menuliskan kondisi nyata taman nasional yang dialaminya tersebut diantaranya infrastruktur yang memadai dan juga kondisi lingkungan dan penataan di lokasi pusat pelatihan gajah yang belum cukup representatif dalam penyelenggaraan iven yang digadang gadang akan menyedot wisatawan domestik dan manncanegara tersebut.


Sementara itu perhelatan Festival Way Kambas XVI tahun 2016 ditutup dengan kegiatan pelepasan Fox hunting signal Way Kambas oleh Bupati Lampung Timur Chusnuina Chalim dan Zaeful Bukhari dan juga festival buah segar yang digadang gadang membagikan buah segar kepada masyarakat sebanyak lima ton buah segar. Beberapa buah segar yang dibagi bagikan kepada masyarakat umum tersebut diantaranya buah pisang, mangga, pepaya, nanas, sawo dan buah naga. Khusus untuk kegiatan fox hunting signal Way Kambas disebut sebanyak 4 peserta berasal dari negara jiran Malaysia dengan kondisi Taman Nasional Way Kambas yang jauh dari harapan pengunjung.

Perhelatan yang digadang mendunia tersebut juga dikeluhkan beberapa jurnalis lokal dan nasional terutama beberapa fasilitas pendukung yang tak memadai. Sangga , salah satu jurnalis yang meliput kegiatan tersebut mengaku kesulitan untuk mengirim berita dari lokasi akibat keterbatasan sinyal telekomunikasi terutama internet sehingga dirinya harus keluar sekitar 10 kilometer dari lokasi untuk mengirim berita.

"Ke depan seharusnya berbagai persiapan harus dibuat matang oleh panitia terutama iven ini sangat bagus namun hanya bersifat seremonial semata dan masih jauh dari kesan festival yang membuat nyaman pengunjung,"ungkap Sangga.

Kekecewaan pengunjung terhadap kondisi perhelatan Festival Way Kambas ke-16 setidaknya terobati terutama bagi pengunjung yang baru pertama kali berkunjung ke lokasi tersebut. Selain bisa menikmati perjalanan menantang berkilo kilometer, pengunjung bisa melakukan swa foto (selfie) dengan satwa dilindungi Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) terutama siswa siswa sekolah yang selama ini belum melihat gajah. Beberapa atraksi gajah pun bisa disaksikan dengan oleh oleh dokumentasi foto sebagai tanda pernah berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas sekaligus membeli sejumlah oleh oleh berupa boneka gajah atau kaos bergambar gajah.
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: