SENIN, 14 NOVEMBER 2016

MAUMERE --- Ratusan warga komunitas suku Mahe Natabola sejak Senin  (14/11/2016) pukul 14.00 WITA mulai mendatangi rumah adat utama komunitas suku yang terletak di tengah desa Ilimedo kecamatan Waiblama. 

Suku-suku sedang bersiap membawa perlengkapan ritual dimana babi dimasukan ke dalam keranda dan ditandu
Semua suku datang dengan membawa persembahan seperti babi, kambing, beras dan arak (Moke) serta sirih pinang. Babi diletakan di dalam sebuah kandang dari bambu dan diletakan di atas sebuah bale-bale bambu dan ditandu empat lelaki dewasa.

“Setiap suku membawa semua barang-barang tersebut dan berjalan beriringan menuju Mahe atau pusat ritual yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah adat untuk menggelar ritual adat,“ujar Damianus Goban.

Kepala desa Ilimedo kecamatan Waiblama ini kepada Cendana News saat ritual adat Senin (14/11/2016) menyebutkan, serangkaian ritual adat digelar sejak pagi hingga Selasa (14/11/2016) sore sekitar pukul 15.00 WITA dimana diakhiri dengan penyembelihan hewan.

Dalam ritual adat Gren Mahe bebernya, binatang yang disembelih hanya kambing dan babi dan semua binatang ini dipersiapkan oleh delapan suku yang ada dalam komunitas suku Mahe Natabola.

Sesampai di Mahe beber Damianus, semua perlengakapan ritual dan binatang diletakan di sebuah bale-bale bambu yang dibangun di sekitar tempat ritual. Setelah itu semua suku berkumpul di pelataran Mahe dan mulai membuat ritual memberi makan setiap leluhur suku dan Mahe.

“Biasanya acaranya berlangsung hingga pukul 03.00 WIT dini hari dan semalam suntuk semua orang akan menari bersama. Para lelaki menari di dalam pelataran Mahe sementara perempuan di luarnya,” ungkapnya.

Kaum lelaki menari bersama di pelataran Mahe bersama saat ritual adat Gren Mahe
Disaksikan Cendana News, sesampai di Mahe setelah semua perlengkapan diletakan di bale-bale bambu bertingkat dua kaum lelaki memberi makan leluhur suku di Mahe maupun di batu-batu ceper di sekeliling Mahe,

Juga dilakukan menari bersama dan semua kaum lelaki saling memukul punggung sesamanya dengan keras. Kegiatan ini dilakukan untuk melambangkan kebersamaan dan kekerabatan sehingga tidak ada orang yang marah bila dipukul dan akan membalasnya.

Kaum perempuan terlihat menari dengan menggerak-gerakan selendang yang dikalungkan di leher dan membuat gerakan maju mundur seraya badan sedikit dibungkukan. Sementara itu kaum lelaki menari membentuk lingkaran diiringi irama gong dan gendang.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: