SELASA 22 NOVEMBER 2016

JAKARTA---Acara Ngaji Kebangsaan yang diadakan Forum Komunikasi Ulama dan Masyarakat atau FORKUM pada Senin, 21/11/2016 di Hotel Treva, Menteng,Jakarta pusat turut mengundang Ketua Patriot Garuda Nusantara (PGN), yaitu DR. H. Gus Nuril Arifin Husein, MBA atau akrab dipanggil Gus Nuril.

Gus Nuril berbicara dalam Ngaji Kebangsaan.


Gus Nuril menjelaskan arti acara 'Ngaji Kebangsaan' kepada para hadirin yang berasal dari beragam elemen masyarakat lintas agama yang hadir.

"'Ngaji Kebangsaan ini sebenarnya memiliki arti bahwa semua yang hadir bersama-sama melakukan dialog mengkaji keadaan bangsa ini. Pengkajian dilakukan dengan cara pandang Islam yang Pancasilais,"tegas Gus Nuril.

Walaupun begitu, semua hadirin menikmati dialog yang memang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diikuti oleh masyarakat lintas agama.Dalam kesempatan itu juga Gus Nuril menyoroti bagaimana tata kelola negara saat ini yang menurutnya sudah salah kaprah sehingga mengakibatkan tumbuhnya bibit-bibit perpecahan di masyarakat.

Amandemen Undang Undang Dasar 1945 dengan usaha menepikan dasar negara Pancasila menjadi sekedar pilar penyangga kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dilakukan dengan begitu masif serta terencana oleh pihak-pihak yang memang sudah jauh-jauh hari menginginkan hal itu terjadi.

Tidak tegasnya pemerintah, dalam hal ini seorang pemimpin negara, ditambah kegamangan aparat keamanan dalam bertindak juga membuat suasana semakin tidak menentu. Hal ini seakan memberi air segar bagi benih-benih perpecahan tersebut untuk tumbuh besar secara perlahan.

Praktik korupsi yang semakin gawat karena dilakukan terencana secara bersama-sama akhirnya menjadi masalah pelik.  Korupsi  ini juga menyebabkan kesenjangan sosial yang  terasa bagai jurang semakin dalam hari demi hari.

"Zaman pemerintahan Pak Harto, siapa bilang korupsi tidak ada? Korupsi itu ada, tapi tidak seperti sekarang ini. Korupsi sekarang begitu masif, hingga menjerumuskan rakyat ke jurang kemiskinan. Namun di zaman Pak Harto bisa menjaga agar seluruh rakyatnya sejahtera. Dari yang atas hingga rakyat jelata semuanya merasakan kesejahteraan itu," beber Gus Nuril.

"Apapun yang terjadi saat itu, bagaimanapun celoteh orang-orang yang tidak senang terhadap Pak Harto, tetap tidak bisa memungkiri bahwa Pak Harto adalah pemimpin tegas yang mampu mengayomi sekaligus menentramkan hati rakyat. Beliau mampu menjaga keamanan dan stabilitasnegara ini," tambah Gus Nuril.

Menurut Gus Nuril program pembangunan di era kepemimpinan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto atau akrab disapa dengan Pak Harto adalah sangat terencana dan terukur.

"Pembangunan kala itu dilakukan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) berdasarkan panduan termaktub dalam Garis Garis Besar Haluan Negara atau GBHN.  Dasar dari kesemuanya itu adalah Pancasila dengan kemurnian Undang Undang Dasar 1945 (UUD 1945) sebagai kiblat hukumnya," jelas Gus Nuril lagi.

Kiri atas/Kanan atas: Suasana Deklarasi Indonesia Damai. Kiri bawah: Gus Nuril saat diwawancara selepas acara deklarasi. Kanan bawah: Gus Shaleh saat diwawancara selepas acara deklarasi.

Dalam merancang pembangunan, Pak Harto selalu melibatkan seluruh elemen masyarakat bahkan sampai alim ulama untuk memberi masukan kepada beliau mengambil beragam kebijakan pembangunan bagi rakyat Indonesia. Namun sekarang ini semuanya seolah terbalik-balik dalamsebuah perjalanan yang tanpa arah. Perahu negara ini seolah berjalan hanya mengikuti insting saja tanpa nurani. Diawali berlayar lurus ke utara, lalu berbalik ke selatan, tiba-tiba berbelok ke barat lalu belum tuntas sudah berubah haluan lagi ke timur. Hal ini jugalah salah satu penyebab keterpurukan negara ini menurut Gus Nuril.

Sebelum lebih jauh melakukan tindakan penyelamatan, maka rakyat  Indonesia harus kembali kepada akhlak dan mentalitas Pancasila terlebih dahulu. Oleh karena itulah dalam acara Ngaji Kebangsaan FORKUM & PGN ini turut diamini hadirin dari seluruh elemen masyarakat lintas agama berupa; DEKLARASI INDONESIA DAMAI yang berisi :

1. Stop diskriminasi, mulailah toleransi.
2. Berhenti bersilat lidah, mulailah bermusyawarah.
3. Berhenti saling merendahkan, mulailah menghargai perbedaan.
4. Berhenti curiga, mulailah menyapa.
5. Stop marah, mulailah bersikap ramah.
6. Berhenti memaki, mulailah memakai hati.
7. Berhenti silang pendapat, mulailah mencari mufakat.
8. Berhenti berseteru, mulailah bersatu.
9. Berhenti menang sendiri, mulailah berbagi.
10. Berhenti mencari perbedaan, mulailah bergandengan tangan.
11. Berhenti saling menyakiti, mulailah saling menghargai.

AKU ORANG INDONESIA: selalu tersenyum, ramah menyapa, berkata jujur, tulus mendoakan, lembut menasihati dan empati.

AKU ORANG INDONESIA: melihat kebaikan, memberi perhatian, menyiratkan keramahan dan menikmati pengetahuan.

AKU ORANG INDONESIA: menjalani silaturahmi, memberi, sabar menuntun, ringan menolong, memuji dan bekerja keras.

Demikianlah deklarasi yang dibacakan seluruh hadirin bersama Gus Nuril (Ketua Patriot Garuda Nusantara) dan Gus Sholeh (Ketua ForumKomunikasi Ulama dan Masyarakat) yang dicetuskan pada Senin,21/11/2016, di Jakarta.

Harapan ke depannya dari deklarasi ini adalah sebuah kebaikan sekaligus mengembalikan mentalitas serta akhlak Pancasila masyarakat Indonesia.  Perlu digarisbawahi Islam sangat cocok dengan Pancasila.

Begitu arif para bapak pendiri bangsa ini menerjemahkan kemurnian  Islam menjadi Pancasila. Bukan berarti menepikan agama lainnya, akan tetapi adalah sebuah takdir serta jalan Tuhan juga bahwa sebagian besar penduduk Indonesia ini memeluk Agama Islam yang akhirnya melahirkan Pancasila untuk menjaga keutuhan bangsa, sekaligus menjadi pengayom serta pelindung saudara-saudara sebangsa pemeluk agama selain Islam.

Jurnalis: Miechell Koagouw/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Miechell Koagouw

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: