MINGGU, 20 NOVEMBER 2016 
JAKARTA---Festival Seni Budaya Nusantara yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara (Kermahudatara) di Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada 19/11/2016 sungguh meriah. Dalam acara itu, turut pula disematkan pin Pancasila dari Gerakan Masyarakat Gotong Royong Pancasila (Gema Gong Pancasila) kepada seluruh pengurus DPN Kermahudatara berikut dua tokoh yang diuloskan, yakni H. Hasan Jamrud dan Dr. Ir. H. Marzuki Usman.

Penyematan pin Pancasila dari Gema Gong Pancasila merupakan apresiasi bagi seluruh pihak yang terlibat dalam acara tersebut karena telah melakukan pelestarian adat-budaya untuk mempersatukan Nusantara sehingga dinilai melakukan pengamalan Pancasila khususnya sila ketiga, yang berbunyi Persatuan Indonesia.

Didaulat memberikan sambutan pertama, H. Hasan Jamrud, tokoh masyarakat Pulau Buru sekaligus Ketua Forum Masyarakat Pulau Buru Bersatu menyampaikan salam hormat setinggi-tingginya untuk seluruh pemuka adat maupun tokoh masyarakat seluruh Indonesia. Persatuan dan saling menjaga hubungan baik adalah hal penting yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen adat Nusantara.

Pose bersama selepas acara Festival Seni Budaya
Nusantara DPN Kermahudatara di Anjungan Sumatera Utara, TMII. Sebuah simbol agar budaya Indonesia tetap bersatu menghadapi era kebebasan dunia 2020 mendatang. 
"Kami dari Maluku khususnya Pulau Buru mendukung sepenuhnya Bhinneka Tunggal Ika dengan menjadikan Pancasila sebagai azas perekatnya. Pancasila dan NKRI adalah harga mati, dengan adat-budaya sebagai batu pondasi dari semuanya," demikian pernyataan kuat dari tokoh masyarakat Pulau Buru itu.

Sedangkan dalam kata sambutannya, Dr. Ir. H. Marzuki Usman, pria yang mewakili perhimpunan adat Jambi sekaligus sebagai pemerhati adat serta budaya Nusantara, menyatakan harapannya bahwa budaya Nusantara harus tetap menjadi tuan di negeri sendiri. Artinya ketika menyambut 2020 maka merupakan saat pintu kebebasan dunia terbuka sepenuhnya. Satu hal yang amat disayangkan jika adat-budaya Indonesia tidak bisa terjaga kelestariannya.

"Jangan sampai makanan Sumatera dibuat oleh orang asing lalu dipromosikan ke luar negeri dan jangan sampai pula budaya Kalimantan dieksploitasi ke luar negeri oleh bangsa lain. Pelaku budaya Nusantara
harus orang Indonesia. Oleh karena itu, mari lestarikan, cintai, serta menyayangi adat-budaya negeri sendiri," imbau Marzuki Usman.

Kebahagiaan terpancar usai mengikuti acara yang merefleksikan tantangan kompleks bangsa Indonesia hingga 2020 mendatang. 
Tantangan ke depan bangsa ini teramat berat. Banyak pihak yang mencoba memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara masyarakat. Akan tetapi jika seluruh elemen masyarakat bisa bersatu di bawah satu azas yaitu Pancasila, maka tidak ada satu orang pun yang dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara orang Indonesia. Demikian pesan dari Ketua Umum Gema Gong Pancasila, Wardi Jien, SH, selesai menyematkan pin Pancasila kepada seluruh pengurus DPN Kermahudatara serta dua tokoh yang diuloskan Kermahudatara.

Ketua Umum DPN Kermahudatara juga menyampaikan keprihatinannya atas beberapa kejadian belakangan ini baik di Jakarta maupun seluruh Indonesia. Bencana serta ancaman disintegrasi bangsa tidak bisa dibiarkan terjadi di negara ini. Oleh karena itu semua pihak, khususnya elemen-elemen adat seluruh Nusantara harus bersatu demi menegakkan kemurnian cita-cita pendirian NKRI serta perjuangan memerdekaan NKRI dari para penjajah.

"Selain itu, pembinaan sadar adat-budaya harus terus dilakukan kepada para remaja atau generasi muda bangsa ini. Jangan sampai budaya bangsa hancur, apalagi budaya bangsa Indonesia sampai diakui maupun dicuri bangsa lain. Jadi, mari bersama-sama merapatkan barisan untuk masa depan yang lebih baik," pungkas Panggabean.

Acara Festival Seni Budaya Nusantara DPN Kermahudatara membuktikan bahwa masih ada elemen-elemen adat Indonesia yang peduli akan masa depan budaya bangsa. Sehingga hal ini seharusnya menjadi pecut bagi elemen masyarakat lainnya untuk menyatukan persepsi dan barisan demi menyelamatkan adat-budaya bangsa Indonesia menyambut dibukanya pintu kebebasan dunia di tahun 2020 mendatang.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: