RABU, 23 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Sejumlah pedagang di pasar tradisional di Lampung mengaku ikut merasakan imbas dari kenaikan harga cabai yang terjadi dalam kurun satu bulan terakhir. Sejumlah pedagang bahkan mengaku ikut terimbas negatif dengan semakin menurunnya daya beli masyarakat, stok yang tak terjual, bahkan hingga harus menanggung rugi akibat harga cabai yang mahal. Salah satu pedagang di Kecamatan Talangpadang Kabupaten Tanggamus, Santi (45), mengaku saat ini justru yang mengakibatkan kepanikan di kalangan pembeli adalah adanya pemberitaan di media terkait mahalnya harga cabai merah. Akibatnya, pedagang justru mengetahui kenaikan harga tersebut dari media massa baik televisi, media online dan media cetak yang membuat para pedagang ikut berlomba-lomba menaikkan harga yang awalnya justru berasal dari para petani cabai yang sudah ikut menaikkan harga.

Udin mengungkapkan, selain cabai merah yang bisa mencapai harga Rp 60 ribu-Rp75 ribu per kilogram, harga bawang merah juga mengalami kenaikan hingga tembus di angka Rp 40 ribu. Ia mengungkapkan, kondisi di lapangan memang saat ini terdapat banyak petani yang memilih menanam tanaman pangan lain selain cabai di tengah musim hujan yang terus melanda. Selain itu kondisi bencana banjir dan longsor mengakibatkan distribusi barang menjadi terhambat yang berimbas kepada mahalnya beberapa komoditas pertanian.

"Kalau melihat situasi dari mulai distributor tanaman cabai di Lampung Barat, Tanggamus juga sudah naik. Selain faktor distribusi, yang menjadi alasan naik adalah berita di sejumlah media massa. Hal itu menjadikan harga cabai merah dan bawang menjadi naik secara otomatis. Kami, para pedagang, juga harus ikut menaikkan harga," ungkap Santi saat dikonfirmasi di pasar tradisional Kecamatan Talang Padang, Rabu (23/11/206).

Potret pedagang cabai di Tanggamus yang menghadapi naik-turun harga secara tak menentu.
Santi berharap kepada media agar bisa bersikap bijaksana dalam memberitakan kenaikan harga cabai. Sebab, ia mengungkapkan, dominasi pemberitaan kenaikan harga cabai lebih besar dibandingkan saat harga cabai atau komoditas lainnya turun. Sebab dengan adanya kenaikan harga cabai justru bukan pedagang yang diuntungkan, melainkan para spekulan atau pemodal besar yang telah menjual cabai dengan harga yang sebelumnya lebih murah. Ia bahkan mengakui, membeli sebagian besar cabai yang dijual dari petani di Gisting Kabupaten Tanggamus harganya mahal, namun petani belum bisa menikmati untungnya. Karena harus membayar biaya operasional mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, penyemprotan, hingga pasca panen.

Salah satu pembeli, Yani (34), mengaku sebelum berangkat ke pasar telah mengetahui kenaikan harga cabai dari sejumlah pemberitaan di televisi. Kenaikan itu di antaranya karena faktor cuaca, ketersediaan pasokan dan faktor-faktor lain yang di antaranya diakibatkan para spekulan. Namun akibat kebutuhan yang masih memerlukan cabai merah, dirinya terpaksa membeli cabai merah meski dengan jumlah yang lebih sedikit dibanding sebelumnya.

"Kalau harganya murah biasanya belinya banyak. Tapi saat ini harga sedang mahal, makanya belinya sedikit dan jelang akhir tahun malah bisa lebih mahal," ungkap Yani.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh salah satu petani cabai di pekon Gisting Atas Tanggamus, Kelik (40). Ia mengaku, harga cabai merah memang mahal, namun harga tersebut sudah ada di tingkat pedagang tradisional di sejumlah pasar. Sementara itu, ia mengaku, harga cabai merah di tingkat petani tidak mencapai harga maksimal seperti yang ada di pasar. Ia bahkan menyebut beberapa tengkulak membeli cabai merah dengan harga Rp 30-40 ribu sementara di pasaran bisa mencapai harga Rp 60-70 ribu.

"Kalau kita dengar di media massa memang harganya mahal. Tapi kalau kita mau lihat ke petani tetap saja petani rugi sementara yang untung ya para pemodal yang membeli cabai dari kita. Terkadang mereka menimbun dan menyimpan sambil menunggu harga tinggi baru dilepas di pasaran," ungkap Kelik.

Sebagian petani di Tanggamus banting stir menanam produk non-cabai.
Ia bahkan mengakui, penurunan harga cabai masih kurang menjadi pemberitaan. Itu merugikan petani. Sebab menurutnya, harga cabai sebetulnya berada dalam rentang yang wajar dan bergerak datar bila dibandingkan dengan saat harga naik dan kemudian turun. Maka harga cabai cenderung stabil. Ia beralasan sulit menyimpan komoditas cabai bagi petani tradisional seperti dirinya sebab ia mengaku cabai bukan merupakan barang yang bisa disimpan lama.

"Kalau kami punya teknologi dalam menyimpan cabai, tentunya akan kami simpan menunggu harga bagus tapi yang punya justru para pengepul atau pedagang besar. Ya meski harga naik kami tetap saja impas bahkan cenderung rugi," ungkap Kelik.

Sebagian petani di Tanggamus bahkan lebih memilih menanam komoditas sayuran lain di antaranya kubis, kol, dan berbagai tanaman yang berumur pendek dengan sistem penjualan yang lebih cepat. Sementara beberapa petani cabai merah masih mempertahankan penanaman cabai dengan diselingi menanam komoditas lain di antaranya tomat, kacang panjang, dan juga brokoli. Apalagi wilayah Tanggamus memiliki iklim yang sangat cocok untuk budidaya sayuran.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: