KAMIS, 24 NOVEMBER 2016

CATATAN JURNALIS, LAMPUNG --- Pengabdian para guru yang disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa hingga kini masih terus dikenang. Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November menjadi momen untuk melihat pengabdian mulia mereka dan melihat situasi terkini dengan melihat nasib para guru yang ada di beberapa tempat terpencil. Sebagian anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) bahkan telah melakukan kegiatan dalam rangkaian peringatan hari guru diantaranya bakti sosial donor darah, ziarah serta mengunjungi pensiunan guru yang telah berjasa dalam pendidikan di daerahnya masing masing.

Penulis bersama guru di Pulau Sebuku Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan
Profesi guru yang mulia dalam karya dan pengabdian tersebut membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memperingati Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2016 bekerjasama dengan asosiasi profesi guru seperti Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Persatuan Guru Nahdatul Ulama (Pergunu) masih mengambil tema HGN tahun ini yakni: Guru dan Tenaga Kependidikan Mulia Karena Karya. Tema hari guru yang masih sama dengan tahun sebelumnya merupakan semangat dan dinilai relevan dengan kebijakan pemerintah dalam menghargai profesi guru dan tenaga kependidikan menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan beradab di tengah tengah percaturan global.

Sikap mulia karena karya juga ditunjukkan oleh para guru yang mengajar di beberapa daerah terpencil di wilayah Provinsi Lampung. Berdasarkan catatan khusus jurnalis Cendana News, setidaknya ada beberapa guru yang tetap mengajar di tengah keterbatasan dan berada di wilayah yang terpencil di wilayah Lampung. Salah satunya adalah Suhaimi, guru di SDN Sebuku Pulau Sebuku Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan, Lusia Yuli Hastiti di SMP PGRI Lampung Timur dan Rosida di SDN Way Haru pekon Way Haru Kebupaten Pesisir Barat Lampung. Ketiganya merupakan guru yang berada di beberapa tempat terpencil di wilayah Lampung.

Cendana News secara khusus mengunjungi ketiganya dalam waktu berbeda dengan satu kesimpulan akses yang sulit dengan menggunakan perahu bermesin dengan waktu tempuh sekitar setengah jam menuju Pulau Sebuku mengunjungi Suhaimi (45) sang guru di SDN Sebuku, menempuh perjalanan sekitar empat jam untuk menuju SDN Way Haru di Pesisir Barat tempat Rosida (38) mengajar sebagai guru honorer dan menempuh perjalanan melewati hutan Register 38 di Lampung Timur untuk melihat kondisi sekolah dan kegiatan mengajar Lusia Yuli Hastiti (27), guru honorer di sebuah SMP PGRI di Kecamatan Marga Sekampung.

Perahu milik Suhaimi untuk aktifitas mengajar di Pulau Sebuku
Kondisi yang memprihatinkan dalam kacamata penulis yang membandingkan dengan sekolah sekolah di dekat ibukota kabupaten hingga provinsi menunjukkan betapa tingginya pengabdian para guru tersebut. Setidaknya dalam diri tiga guru yang ada kunjungan Cendana News dengan status PNS, guru honorer tersebut sama sama mengajar di tempat yang sangat jauh. Meski demikian para guru tersebut memiliki hati yang mulia dengan tetap memiliki harapan untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa yang memiliki harapan untuk masa depan melalui pendidikan.

Suhaimi yang juga merupakan kepala sekolah di SDN Sebuku merupakan warga daratan Pulau Sumatera, namun tugas negara menempatkannya sebagai guru yang tinggal di pulau terpencil. Ia yang memiliki keluarga sebagian besar di wilayah daratan Pulau Sumatera bahkan akan menyeberang saat ada keperluan dan sebulan sekali pulang untuk mengunjungi keluarganya. Semangat pengabdian lelaki tersebut juga tak hanya ditunjukkan sebagai seorang guru melainkan sebagai masyarakat di pulau dengan menjadi tokoh dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia mengaku saat ini sebagai guru mengaku tetap melakukan karya untuk mengajar anak anak yang ada di tempat terpencil dan hanya memiliki sekolah hingga jenjang SD tersebut. Para siswa bahkan hanya akan menunggu menikah dan jika ingin melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi maka rela pergi ke Sumatera dengan cara indekos.

Suhaimi bahkan mengaku normalnya di Pulau Sebuku sudah ada sekolah dengan sistem satu atap bahkan mungkin hingga tingkat SMA namun karena keterbatasan belum bisa direalisasikan. Meski demikian ia mengaku akan tetap mengabdi di pulau terpencil tersebut jauh dari keluarga. Siang mengajar dan saat sore hari bekerja sebagai nelayan dengan menggunakan perahu ketinting satu satunya yang dimiliki. Layaknya warga biasa dengan sarung dan membaur dengan masyarakat, Suhaimi bahkan tak terlihat layaknya guru yang ada di perkotaan saat ini. Kesahajaan dan semangat mulia mengabdi yang membuatnya tetap bertahan di pulau yang dianggap sebagai tepat pembuangan bagi guru guru yang dianggap tak dibutuhkan di Sumatera.

Kisah guru atau pengajar selanjutnya adalah Rosida, pengajar di wilayah Pekon Way Haru sebuah sekolah SDN 1 Way Haru pekon Way Haru merupakan sekolah bagi sebanyak 100 siswa yang belajar dengan beralaskan tanah, berdinding papan dan beratapkan asbes yang sudah bocor di beberapa bagian. Meski berada ratusan kilometer dari ibukota Kabupaten di Krui yang merupakan ibukota Kabupaten Pesisir Barat namun semangat pengabdian para guru diantaranya Margono, M.Yuzni, Rosida, Surohman, Herca Etra, Mukhlas, Wandi dan Nada Naseha tetap mengajar seperti layaknya para guru di sekolah lain. Bahkan di sekolah tersebut baru sang kepala sekolah yang sudah menjadi PNS sementara sebagian besar guru lainnya tetap sebagai tenaga honorer.

Rosida, salah seorang guru di SDN Way Haru Kabupaten Pesisir Barat Lampung
Para guru tersebut bahkan baru bisa pergi ke ibukota kabupaten dalam urusan urusan penting akibat akses yang harus menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer dari tempat mereka mengajar. Sebagai daerah yang baru saja mengalami pemekaran dari Kabupaten Lampung Barat sektor pendidikan dan tenaga pengajar menjadi sebuah persoalan yang perlu diperhatikan termasuk kesejahteraan para guru tersebut.

Selaian keterbatasan tempat kegiatan belajar mengajar dengan sekolah hanya terdiri dari dua lokal, kelas yang disekat sekat namun tak mengurangi semangat para pendidik tersebut. Bahkan salah satu kendala di pekon tersebut diantaranya dirasakan oleh para siswa dan guru dengan kondisi jalan berlumpur saat hujan dan menyulitkan warga melakukan aktifitas sehari hari terutama saat musim hujan berlangsung sepanjang bulan November hingga bulan Desember ini.

Saat hujan turun bahkan para siswa yang sebagian masih belajar pada kelas rangkap dimana satu kelas diisi beberapa kelas tersebut harus rela berbasah basahan dan pindah ke kelas sebelah. Belum adanya sekolah permanen dengan batu bata atau sarana pendidikan yang memadai tak menyurutkan niat Rosida untuk mengabdi di ujung Pesisir Barat yang berbatasan dengan kawasan hutan Tampang dan Belimbing (Tambling) yang dikenal dikelola oleh Tomy Winata yang merupakan taipan Indonesia tersebut.

Guru ketiga yang menjadi inspirasi bagi para tenaga guru atau pendidik adalah Lusia Yuli Hastiti, lulusan agrotekhnologi salah satu universitas negeri di Lampung ini bahkan rela menjadi tenaga honorer untuk mendidik anak anak di wilayahnya. Selain berprofesi sebagai guru pengajar di sekolah ia pun mendirikan rumah belajar yang digunakan anak anak usia SD,SMP untuk belajar di rumahnya hingga malam hari. Sebuah pekerjaan tak biasa yang dilakukan sepanjang hari dari pagi hingga malam oleh seorang guru honorer dengan tanpa mengharapkan tanda jasa.

Tidak salah jika peringatan hari guru tahun ini mengambil tema "Mulia Karena Karya". Tanpa tanda jasa namun pekerjaan mulia para guru terutama di tempat tempat terpencil dengan segala kesulitan serta suka duka tersebut menjadi semangat bagi para pahlawan tanpa tanda jasa tersebut.

Lusia yang mengajar di pedalaman Lampung Timur
Catatan tiga kondisi para pendidik di tiga kabupaten di Provinsi Lampung diantaranya Suhaimi di Pulau Sebuku Lampung Selatan, Lusia Yuli Hastiti di Kabupaten Lampung Timur dan Rosida di Kabupaten Pesisir Barat yang berada di pedalaman menunjukkan semangat juang para guru di tengah keterbatasan. Berada jauh dari "peradaban" tanpa akses internet, listrik dan fasilitas lain yang guru lain rasakan di perkotaan tidak membuat para guru tersebut patah semangat dan tetap memiliki semangat mulia untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa yang memiliki hak untuk menikmati pendidikan. Biarlah para anak didik mereka mengenang para pendidik tersebut sebagai PAHLAWAN TANPA TANDA JASA dan memuliakan karya mereka.
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: