RABU, 30 NOVEMBER 2016
YOGYAKARTA --- Perbedaan, keberagaman dan pluralitas, sejak dahulu telah ada dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, sekarang ini perbedaan itu semestinya harus sudah menjadi sesuatu yang indah. Ibarat sebuah lukisan, yang justru indah karena terdiri dari bermacam- macam warna.

Demikianlah kebhinekaan di mata seorang seniman lukis, Antok Abri, yang turut terlibat dalam Aksi Bhinneka Tunggal Ika Nusantara Bersatu di Kota Yogyakarta, Rabu (30/11/2016). Pelukis yang juga merupakan Staf Guru Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang kini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 di Kasihan, Bantul, itu mengatakan, dengan situasi sekarang ini akhirnya kita harus intropeksi, bahwa kebersamaan itu perlu.


Antok Abri seniman yang turut aksi Bhinneka Tunggal Ika di Yogya.
Dalam aksi yang diadakan bersama seluruh komponen masyarakat tersebut, Antok bersama 100 lebih pelukis lainnya dari berbagai daerah menggelar acara melukis bersama bertajuk Sketsa Bersama Nusantara Bersatu. Dengan menggelar kain sepanjang 100 meter, ratusan pelukis menuangkan gagasan atau perasaan dan pemikirannya tentang kebhinekaan ke dalam sebuah sketsa.

"Acara ini bukan karena terkait kondisi keberagaman saat ini yang dianggap meresahkan, tetapi karena menjaga kebhinekaan itu sudah menjadi komitmen kami, karena pada prinsipnya lukisan itu adalah aneka keindahan warna," ungkapnya.

Para seniman dalam aksi Sketsa Bersama Nusantara Bersatu.
Antok yang bernama asli Riyanto Ruswandoko itu menambahkan, bahwa seniman itu selalu merespon situasi. Dan, pluralitas, keberagaman atau kebhinekaan itu menjadi inspirasi menarik yang dalam aksi kebhinekaan ini dituangkan ke dalam sktesa.

"Ini sebenarnya sudah lama terpikirkan, dan kemudian saat ini kebetulan ada aksi kebhinekaan. Kalau ada sesuatu yang dianggap meresahkan terkait kebhinekaan itu mungkin perasaan pribadi masing-masing saja," ujarnya.

Gelar Sketsa Bersama Nusantara Bersatu dilangsungkan di sepanjang trotoar di barat  Monumen SO 1 Maret 1949, Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta. Ratusan seniman lukis berderet rapi dan menuangkan gagasannya tentang keberagaman di atas kain yang digelar memanjang ke utara dan selatan.

Antok mengatakan, hasil dari aksi sketsa bersama itu akan dipajang di pagar kawasan Monumen SO 1 Maret 1949, dan pada bulan depan akan dipamerkan lagi di Galeri SMSR.

Jurnalis: Koko Triarko / Editor: Satmoko / Foto: Koko Triarko
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: