SELASA 8 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Angkutan darat di Pulau Sumatera masih menjadi jalur favorit bagi pencari suaka dari naegara negara Afrika dan Asia yang akan mengubah nasibnya di negara Australia atau negara negara mju lain. Beberapa pencari suaka yang memutuskan menjadi imigran sepanjang kurun tiga tahun terakhir di antaranya berasal dari negara Bangladesh, Afghanistan, Somalia, Nigeria. Petugas Kepolisian Polres Lampung Selatan dari unit pengawasan orang asing (POA) bahkan dalam kurun waktu dua bulan telah mengamankan sebanyak 13 orang imigran gelap asal Somalia yang hendak menyeberang dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Sebagian menggunakan jalur udara, darat dari negara asalnya dan selanjutnya menggunakan jalur darat di Sumatera.

Pengamanan imigran asal Somalia.

Sebagai proses penangananan lanjutan, ketiga imigran gelap asal Somalia tersebut selanjutnya diamankan di kantor Imigrasi Kelas III Kalianda Lampung Selatan. Kasubsi Infosarkom dan Wasdakim Imigrasi Kelas III Kalianda Lampung Selatan, Rio Achdar, menerangkan ketiga imigran Somalia tersebut masuk melalui Malaysia menggunakan transportasi kapal menuju Medan Sumatera Utara selanjutnya menggunakan kendaraan bus menuju ke Jakarta.

Para pencari suaka tersebut berniat mencari kantor perwakilan UNHCR di Jakarta untuk selanjutnya mencari suaka. Proses penanganan dilakukan dengan menampung sementara para imigran di kantor imigrasi Kalianda untuk selanjutnya dikirim ke rumah detensi yang dimiliki oleh imigrasi.

Kepala Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni Iptu Nawardin mengungkapkan pengawasan pintu masuk pelabuhan Bakauheni yang juga sekaligus pintu keluar Sumatera akan terus ditingkatkan terutama dalam hal pengawasan orang asing diantaranya imigran. Kejelian petugas bahkan diantaranya mengamankan sebanyak tiga pencari suaka dari negara Somalia yang akan mencari kehidupan yang layak di negara lain diamankan oleh petugas Seaport Interdiction di Pelabuhan Bakauheni dengan mengendarai bus ALS bernomor polisi BK 7471 BJ. Ketiga imigran tersebut diantaranya Istahila (22), Mandez (21), Annad (2) yang diamankan oleh petugas karena tidak memiliki dokumen keimigrasian dari negara asalnya.

"Kita koordinasikan dengan unit POA Polres Lampung Selatan dan juga pihak imigrasi untuk penanganan lanjutan karena proses keimigrasian langsung ditangani oleh Imigrasi Kelas III Kalianda,"ungkap Kapolsek KSKP Bakauheni Iptu Nawardin, Selasa (8/11/2016).

Ia mengaku pengawasan di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni oleh petugas Seaport Interdiction, KSKP dilakukan secara rutin untuk memeriksa kelengkapan dokumen penumpang dan juga mencegah penyelundupan barang terlarang dan berbahaya. Meski demikian saat ada orang asing yang melintas melalui pintu masuk pelabuhan Bakauheni dan tidak memiliki dokumen yang sah untuk masuk ke Indonesia pihaknya akan melakukan pengamanan dan berkoodinasi dengan pihak imigrasi.

Berdasarkan pemeriksaan petugas, penggunaan jalur darat yang dilakukan oleh para imigran dilakukan membaur dengan penumpang lainnnya dan membayar ongkos perjalanan yang sama dengan penumpang Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) sebesar Rp500ribu perorang. Beberapa imigran Somalia mengaku menuju Jakarta untuk selanjutnya mencari negara tujuan lain akibat kondisi politik negaranya yang tidak aman.

Selain ketiga imigran yang diamankan dalam pekan pertama bulan November, petugas unit pengawasan orang asing Sat Itelkam Polres Lampung Selatan , Brigadir Handika mengungkapkan sebelumnya  petugas juga berhasil mengamankan sebanyak 10 orang warga negara Somalia pencari suaka yang berangkat dari Medan menuju Jakarta menggunakan moda transportasi darat. Para imigran menggunakan kendaraan bus ALS bernomor polisi BK 7889 DK saat akan menyeberang bersama beberapa penumpang tujuan Jakarta.

Beberapa imigran Somalia yang telah diamankan diantaranya sebanyak empat orang perempuan dan enam orang laki laki: Ahmad (22), Daga (23), Samsam (30), Arsa (20), Hada (20), Najah (23), Muhamad Ali (30), Ahmed (17), Shafici Ahmed Shine (22) dan Halid (25). Sebagian imigran masih memiliki paspor yang lengkap dari negara asalnya meski tanpa memiliki visa dan sebagian mengaku kehilangan paspor saat melakukan perjalanan dari Malaysia menuju Indonesia.

Brigadir Handika selaku tim POA mengaku sebagian besar imigran yang berasal dari negara negara Afrika melakukan perjalanan dari negaranya untuk mencari negara lain yang lebih aman dari konflik peperangan dan politik. Upaya pengawasan terus dilakukan terutama di pintu masuk pelabuhan Bakauheni untuk meminimalisir pergerakan orang asing yang akan menuju Pulau Jawa. Ia juga menghimbau kepada pemilik perusahaan otobis untuk tidak menaikkan penumpang asal negara lain yang tidak memiliki dokumen keimigrasian yang lengkap diantaranya Paspor dan visa.

Jalur darat yang dipilih tersebut menjadi jalur yang cukup aman karena selama ini sebagian imigran dari negara negara yang dilanda konflik melarikan diri dari negaranya menggunakan perahu perahu atau kapal yang memiliki resiko tenggelam di perairan. Sementara dengan menggunakan jalur darat para imigran dapat membaur dengan penumpang asli Indonesia yang akan melakukan perjalanan menggunakan kendaraan bus.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: