KAMIS 17 NOVEMBER 2016

LAMPUNG---Kalkun merupakan sejenis unggas yang dikembangbiakkan untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai sumber konsumsi daging oleh sebagian peternak di Kabupaten Pringsewu. Hanya saja budidaya atau peternakan ayam jenis ini belum seperti ayam jenis petelur dan jenis pedaging. Secara umum perkandangan kalkun sama dengan perkandangan ayam namun karena bobot badan kalkun yang lebih besar daripada ayam biasa sehingga kepadatan kandang kalkun berbeda dengan kandang ayam jenis lain.

Kalkun yang dibudidayakan dalam kandang.

Demikian diungkapkan Bambang Cahyo Murad yang sejak beberapa tahun lalu melakukan peternakan jenis kalkun. Bersama sang isteri M.R. Mustika Jati ia mulai mengembangkan ternak kalkun sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan budidaya kalkun yang mulai banyak dilirik oleh masyarakat sebagai hobi dan sekaligus sebagai sumber penghasilan.

Bambang Cahyo Murad bahkan mengaku untuk mengupayakan budidaya ayam berukuran besar tersebut telah menyediakan lahan khusus yang jauh dari perkampungan warga lain dan membentuk areal yang disebutnya dengan Rumah Kalkun. Ia mengaku rumah kalkun yang dijadikannya tempat untuk beternak ayam kalkun dikenal dengan nama Mitra Alam sekaligus menjadi tempat bagi masyarakat yang akan mengenal lebih dekat tata cara budidaya ayam kalkun baik bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau masyarakat umum yang secara khusus ingin menekuni budidaya kalkun.

"Awalnya memang ingin ternak untuk dimanfaatkan sendiri sekaligus menyajikannya dalam kuliner berbahan daging kalkun tapi lama kelamaan banyak orang yang juga ingin memelihara kalkun lalu belajar di rumah kalkun dan membeli bibit kalkun di sini,"ungkap Bambang Cahyo Murad saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (17/11/2016).


Bambang Cahyo Murad Sang Penggagas Budidaya Kalkun.

Ia mengaku sama dengan budidaya ayam jenis lainnya, ayam kalkun jika dikembangkan dengan baik akan menjadi sumber penghasilan bagi peternaknya meski perawatan dan pemeliharaan kalkun relatif harus lebih intensif untuk mendapatkan hasil yang baik.  Harga yang relatif mahal mulai dari bibit membuat budidaya ayam kalkun masih sebatas untuk ternak hias dan belum banyak dibudidayakan. Sebagai langkah untuk memperkenalkan kalkun Bambang bahkan terus membudidayakan kalkun dengan tekhnik penetasan modern untuk memperoleh telur dan menetaskannya agar bisa melakukan regenerasi ayam kalkun yang dibudidayakannya.

Prospek Bisnis  Kalkun


Prospek bisnis kalkun menurut  Bambang  cukup bagus karena saat ini saja kata Bambang untuk daging ayam kalkun siap diolah di jual sekitar Rp70 ribu/kg, sedangkan untuk harga ayam kalkun hidup di jual antara Rp50—55 ribu/kg bahkan untuk jenis tertentu dan menyesuaiakan umur bisa mencapai Rp150 ribu per ekor. Harga yang relatif menjanjikan tersebut nyaris sebanding dengan harga daging sapi dan bisa menjadi pilihan bagi peternak untuk mendapatkan sumber pasokan daging selain daging sapi dan daging kambing.

Ia mengungkapkan menggagas rumah kalkun sebagai sebuah peternakan kalkun sekaligus tempat belajar budidaya kalkun yang ada di Kabupaten Pringsewu. Rumah Kalkun atau yang dikenal dengan Mitra Alam tersebut berada di Jalan Betara Desa Sukoharjo I, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung berjarak kurang lebih 50 km dari kota Bandar Lampung. Selain digunakan sebagai tempat peternakan ayam kalkun, lokasi yang menarik dengan sebuah embung menyerupai danau lengkap dengan alam perbukitan dan perkebunan membuat peternakan miliknya sering dikunjungi orang.

Aktivitas yang sering dilakukan diantaranya menikmati keindahan lokasi peternakan ayam kalkun yang berada diantara embung menyerupai danau, menikmati kuliner berbahan baku ayam kalkun, serta untuk belajar beternak kalkun dari pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S) yang dikelola Bambang Cahyo dan keluarganya. Selain peternakan kalkun pribadi areal yang ditempatinya tersebut sekaligus menjadi pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya, di rumah kalkun ini memiliki populasi kalkun yang relatif banyak.

Kalkun anakan setelah masa penetasan.


Populasi saat pada September ini mencapai sekitar 600 ekor dan sebelumnya bahkan pernah mencapai 1000 ekor (dari anakan hingga menjadi induk induk). Ayam Kalkun yang memiliki nama ilmiah Melleagris Galopavo ini bahkan dijual dalam dalam bentuk hidup/bibit, sudah dipotong/karkas dan siap saji (kalkun gulling/panggang, sate steak serta berbagai jenis olahan lain).

"Tamu yang berkunjung ke tempat kami tak hanya dari sekitar Lampung tetapi ada juga yang berasal dari luar negeri d iantaranya Belanda serta negara lain," ungkap Bambang berlatar belakang sarjana pertanian.

Bambang Cahyo Murad mengaku saat ini ternak kalkun miliknya di peternakan hanya sekitar kurang dari 600 ekor dengan variasi usia: dari anakan sampai yang sudah siap panen/potong. Ia mengaku sebagai kelompok P4S Mitra Alam sebagian kalkun juga dipelihara oleh kelompok yang tersebar di beberapa kepala keluarga. Beberapa bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu beratapkan genteng berada disela sela pohon mangga, kelengkeng, pisang dan kelapa serta kakao yang tumbuh subur meskipun musim kemarau.

Selain dibudidayakan dengan cara intensif pengaturan lokasi kandang juga dilakukan dengan sistem pembatasan bahkan pengunjung yang akan melihat lihat lokasi kandang harus mengenakan masker dan sarung tangan dan menggunakan disinfektan untuk menghindari terkena paparan penyakit. Selain menjadi lokasi pembudidayaan pengunjung juga bisa melihat dari dekat proses budidaya ayam kalkun mulai dari penentasan telur kalkun hingga kalkun dewasa serta cara pemeliharaan kalkun yang ada di rumah kalkun tersebut.

"Proses peternakan kalkun dimulai dari penetasan dengan mesin penetas, kalkun umur beberapa minggu dan kalkun yang sudah berusia beberapa bulanan dipisah dalam kandang yang berbeda. Di sini juga menjadi lokasi indukan untuk bibit kalkun,"ungkap Bambang.


Cara Pemeliharaan

Unggas berbulu menyerupai burung Merak tersebut dipelihara dalam kandang kandang dengan perlakuan khusus, makanan yang dijaga kebersihannya dan bahkan dibuat sendiri oleh pemilik ternak kalkun dengan formula organik. Beberapa tanaman sebagai bahan baku makanan organik pun ditanam disekitar kandang diantaranya tanaman ginseng serta tanaman lain sebagai sumber protein alami.

Puluhan kandang yang berisi kalkun tersebut kini menjadi sebuah pusat pelatihan kalkun baik kalangan peternak yang ingin beternak kalkun, pelajar serta mahasiswa yang ingin belajar budidaya kalkun serta penikmat kuliner yang ingin merasakan kuliner kalkun. Maria Tyas, salah seorang praktisi pembudidaya  menyebutkan kalkun bisa diolah menjadi produk olahan diantaranya kalkun guling, kalkun panggang, steak, sate, soto, nugget, rolade, bakso, goreng tepung, soto, rendang bahkan nasi goreng kalkun pun menjadi sangat istimewa.


Maria Tyas, seorang praktisi pembudidayaan kalkun.




Sebagai langkah pengembangan, Bambang mengaku Rumah Kalkun bekerjasama dengan beberapa pemilik restoran, rumah makan, kafe serta usaha katering di wilayah Lampung yang menyajikan menu olahan daging kalkun. Sementara bagi yang ingin menikmati olahan daging kalkun di Rumah Kalkun pengunjung bisa menikmatinya di dangau sambil menikmati embung yang juga menjadi lokasi pemancingan berbagai jenis ikan emas, nila, patin, lele.


Potensi Agrowisata dan Eduwisata

Bambang bahkan sudah menyiapkan visi ke depan menjadikan rumah kalkun sebagai rumah edukasi untuk masyarakat serta pihak yang ingin belajar beternak kalkun. Selain itu sasaran bagi para pelajar membuat Bambang terus menata Rumah kalkun untuk menjadi lokasi Edu-Agrowisata. Sebuah konsep yang sedang berjalan dan terus dilakukan pembenahan.

"Kami tidak hanya beternak kalkun semata tapi konsep Edu Agrowisata akan menjadi daya tarik untuk berkunjung ke lokasi ini baik dari kalangan pelajar, mahasiswa serta masyarakat umum,"ungkap Bambang.

Sejauh ini pemasaran daging kalkun yang cukup menjanjikan memang masih dalam kalangan terbatas, yaitu masih melayani pesanan di hotel-hotel atau masyarakat menengah keatas. Namun demikian kedepan akan terus diupayakan menembus pangsa pasar untuk kalangan biasa. Bambang mengakui selama ini memang belum ada rumah makan khusus yang menggunakan daging kalkun baik di Pringsewu ataupun di Bandarlampung.

Bambang mengakui jika di lihat dari prospek budi daya ternak kalkun sesungguhnya adalah peluang usaha yang sangat bagus karena ternak hewan ini masih sangat jarang di masyarakat. Menurutnya, ternak ayam kalkun selama ini memang hanya dijadikan sebagai unggas hiasan, namun belum dimanfaatkan dagingnya sebagai bahan pangan. Harga penjualan dari mulai bibit hingga bisa diolah menjadi produk makanan diakuinya lebih mahal dibanding ternak jenis lainnya, namun ia berharap dengan semakin banyak masyarakat yang membudidayakan kalkun harganya bisa lebih murah dan memasyarakat.

"Memang masih kurang diminati karena masih susah memperoleh bibitnya, harganya relatif mahal maka pengembangan yang saya lakukan salah satunya untuk memperbanyak bibit dan agar masyarakat bisa ikut memelihara,"ungkap Bambang.

Sebagai pusat pelatihan pertanian dan perdesaan swadaya (P4S) Bambang ke depan ingin menjadikan lokasi tersebut bukan sekedar sebagai peternakan namun bisa menjadi tempat edukasi. Konsep Edu Agrowisata yang diharapkan memberi nilai positif bagi pengunjung dari berbagai kalangan dan setelah meninggalkan rumah kalkun bisa mendapatkan ilmu untuk bidang pertanian maupun peternakan.

Salah satu warga Gedongtataan, Suhadi, yang membeli indukan kalkun mengaku membeli satu kalkun pejantan dan dua ekor betina yang akan dikembangkan di rumahnya. Ia mengaku telah beberapa kali belajar cara membudidayakan kalkun di peternakan kalkun yang dikembangkan oleh Bambang dan berniat memelihara beberapa kalkun meski selama ini dirinya telah bertahun tahun memelihara ayam jenis bangkok.

"Sebelum saya membeli bibit saya sudah menyiapkan beberapa kandang sederhana karena kebetulan lokasi yang saya miliki juga sangat strategis dengan sumber pasokan air yang cukup baik,"ungkap Suhadi.

Ia mengakui prospek budidaya kalkun memang belum dikenal bahkan sebatas hanya menjadi ayam peliharaan untuk ayam hias. Beberapa bibit yang disiapkan dengan cara membeli dari rumah kalkun diharapkannya mampu berkembang biak dengan baik selain budidaya ayam bangkok yang sudah ditekuni Suhadi selama beberapa tahun.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: