SELASA, 22 NOVEMBER 2016
JAKARTA---Suatu ketika, Sayyidina Umar pernah mendapati rumah seorang Yahud yang diubah menjadi masjid oleh umat. Lalu saat orang datang ke tempat tersebut, beliau mengambil tulang unta lalu digaris lurus di hadapan orang-orang tersebut. Yang terjadi selanjutnya, masjid tersebut dipugar kembali menjadi rumah
milik orang Yahudi seperti sedia kala. Demikian ungkap Gus Nuril ketika diwawancarai awak media.

"Sebuah contoh nilai-nilai keadilan dalam Islam yang sejak dahulu sudah ditanamkan para sahabat Nabi Muhammad SAW agar umat Islam memahami nilai-nilai tersebut dengan baik. Bukan karena mayoritas lalu bisa bertindak sesuka hati, itu tidak dibenarkan dalam Islam," ungkap Gus Nuril saat Ngaji Kebangsaan NKRI dan Pancasila Harga Mati di Jakarta, Senin kemarin (21/11/2016).

Tugas alim ulama dalam hal menanamkan nilai-nilai Islam yang sebenar-benarnya kepada umat adalah sangat berat. Butuh kesabaran serta butuh keteguhan hati. Dengan posisi umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia maka hal itu adalah rahmat yang luar biasa dari Tuhan. Namun rahmat Tuhan tersebut bukan serta merta menjadikan umat Islam menjadi umat yang menghakimi baik terhadap sesamanya maupun terhadap  non-Islam.

Gus Nuril dalam sesi wawancara dengan wartawan menjelaskan mengenai visi Ngaji Kebangsaan.
"Saya seorang Madura dan suatu rahmat bahwa saya terlahir sebagai Islam. Itu takdir saya. Lalu ada sahabat saya yang lain terlahir sebagai suku berbeda dengan agama misalnya Kristen, Buddha, Hindu, atau lainnya. Apakah itu pilihan kami semua? Tentu tidak. Apakah itu bukan rahmat Tuhan? Tentu itu suatu rahmat sekaligus takdir Tuhan bagi masing-masing umat manusia. Ini yang harus dipahami terlebih dahulu," sambung Gus Sholeh, Ketua FORKUM, masih di acara Ngaji Kebangsaan.

Alim ulama harus menunjukkan kepada seluruh umat lintas agama dan lintas suku bagaimana nilai-nilai Islam itu adalah untuk mengayomi serta membawa keteduhan bagi seluruh umat manusia.

Gus Sholeh (kanan) saat memberikan pemaparan sebelum Ngaji Kebangsaan dimulai bersama Gus Nuril (kiri).
Oleh karena itulah, Gus Nuril dan Gus Sholeh melalui Patriot Garuda Nusantara (PGN) dan Forum Komunikasi Ulama dan Masyarakat (FORKUM) mencoba untuk menggagas kembali atau mengembalikan posisi sekaligus fungsi ulama sebagai pihak yang selalu memberikan contoh ketauladanan yang baik kepada masyarakat. Penekanan selanjutnya dari kedua ulama tokoh Islam Pancasilais tersebut adalah setelah ulama bisa kembali pada tempatnya sebagai pengayom dan pembina masyarakat, maka ulama melanjutkan perjuangan sebagai penopang keberhasilan pembangunan yang tentunya bertujuan untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

"Jadi mari sama-sama membangun negeri ini. Mari kritisi jika ada ketidakberesan. Ayo sama-sama kembali memahami Pancasila yang sangat Islami, demikian pula sebaliknya bahwa Islam adalah sangat Pancasila. Pemerintah dan masyarakat harus bersatu padu saling melengkapi membangun negeri ini. Jika pemerintah memiliki itikad baik maka masyarakat harus mengimbanginya dengan memberi pemerintah kepercayaan, begitu pula sebaliknya," pungkas Gus Sholeh.

Terkait rencana demonstrasi Aksi Bela Islam pada 2 Desember 2016 mendatang, maka Gus Nuril menyatakan hal tersebut sah saja dilakukan jika benar-benar datang dari hati tulus ikhlas bertujuan  memperdamaikan. Menjadi tidak Islami adalah jika terjadi kembali kerusuhan seperti yang sudah-sudah. Dalam hal itu maka pemerintah, khususnya aparat keamanan, diminta mengambil tindakan tegas, karena yang membuat kerusuhan itu adalah bukan mengatasnamakan Islam. Begitu kata Gus Nuril.

Penetapan tersangka terhadap pelaku penistaan sudah ditangani oleh pihak kepolisian sehingga tinggal dikawal saja tanpa harus mengadakan demonstrasi dengan kekerasan, karena Islam bukan sebuah kekerasan. Lalu pelaku-pelaku penistaan terhadap Pancasila juga sedang dalam kajian kepolisian untuk ditindaklanjuti.

Spanduk Ngaji Kebangsaan.
"Bagi yang tidak suka dengan Pancasila, itu hak mereka, namun sebaiknya tidak perlu membuat kekacauan di negara yang sedang morat-marit dalam kemiskinan ini. Dan sebagai tambahan, kapan negara ini mau maju jika hanya mengurusi masalah demonstrasi saja. Marilah berpikir jernih, serta ulama harus turun tangan memberikan pengertian kepada masyarakat," pungkas Gus Nuril.

Seluruh elemen bangsa harus bersatu melepaskan kepentingan-kepentingan apa pun untuk turun tangan menyelamatkan bangsa yang dicintai bersama yaitu bangsa Indonesia. Darurat narkoba, darurat terorisme, darurat disintegrasi bangsa, darurat kemiskinan, darurat korupsi, adalah hal-hal yang harus ditangani bahu membahu antara ulama, masyarakat, dan pemerintah.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagaow
 
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar: