JUM'AT, 4 NOVEMBER 2016

SURABAYA --- Bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melalui Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LPP-MPHP) Bantul, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) rancang desain alat deteksi kesegaran ikan, khususnya ikan tuna. Kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh ITS yang diwakili Ketua LPPM ITS, Prof. Dr. Ir. Adi Soeprijanto, MT., dengan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan KKP, Ir. Nugroho Aji, MS., di ruang rapat pimpinan Rektorat ITS, Jumat (4/11/2016).


Prof. Dr. Ketut Buda Artana ST., M.Sc., Wakil Rektor IV ITS Bidang Penelitian, Inovasi dan Kerjasama, mengatakan, ITS menyambut baik adanya jalinan kerjasama mengenai prototipe monitoring kesegaran ikan ini. “Bahkan ITS berencana turut membantu untuk mendukung poros maritim dunia terkait isu yang pernah diberikan oleh KKP,” ujarnya. Dalam perjanjian tersebut, tambah Ketut, ITS akan mengakomodasi riset penentuan parameter uji kesegaran ikan melalui perubahan citra mata ikan dan bau serta pengujian kinerja dan analisa sistem alat dengan menggunakan fasilitas laboratorium komputasi multimedia ITS.

Pada tahap awal kerjasama ini, Zainal Arifin, perwakilan dari LPP-MPHP Bantul menjelaskan, pihaknya bersama ITS akan melakukan penelitian terkait dengan desain alat deteksi kesegaran ikan non destruktif pada ikan tuna. 

“Potensi tuna di laut kita sangat besar, karena itu untuk melindungi konsumen sekaligus juga nelayan saat memasok hasil tangkapan mereka, alat deteksi ini diharapkan dapat membantu peningkatan produksi ikan tuna untuk kepentingan lebih besar lagi,” jelasnya.


Zainal menambahkan, selama ini pemeriksaan hanya dilihat secara fisik, yang kerap kali saat akan dikonsumsi ikan tersebut sudah rusak. Dengan menggunakan alat ini, maka kepastian ikan masih dalam kondisi segar, layak konsumsi atau malah sudah rusak akan terdeteksi lebih awal. “Cara kerjanya, dengan mendeteksi melalui sensor bau dari kandungan alat amoniak pada ikan serta sensor citra gambar untuk mata ikan. Ikan diletakkan pada alat itu, kemudian lewat sensor akan diketahui, apakah ikan itu memang masih dalam kategori segar, layak konsumsi atau bahkan dikategorikan rusak,” katanya.

Sementara itu, Ketua LPPM ITS, Adi Soeprijanto, berharap, melalui riset ini ITS bersama jajaran KKP RI tidak hanya dapat menciptakan alat untuk kepentingan riset, tapi bisa sampai pada upaya komersialisasi dalam proses hilirisasi hasil-hasil penelitian.

Jurnalis : Nanang Wp / Editor : Rayvan Lesilolo / Foto : Nanang Wp
Bagikan:

Rayvan Lesilolo

Berikan Komentar: