JUM'AT 4 NOVEMBER 2016
LAMPUNG---Peningkatan produksi ternak terus dilakukan oleh Kementerian Pertanian salah satunya dengan memperbanyak bibit sapi muda. Salah satu program yang digulirkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Kabupaten Lampung Selatan Cecep Khaerudin di bidang peternakan dengan menggulirkan program sapi wajib pembuahan (Siwab). 


Pelaksanaan siwab yang telah dilaksanakan di beberapa daerah dengan tekhnik Insemenasi Buatan (IB) juga akan dilakukan di salah satu sentra peternakan di Lampung Selatan yakni di Kecamatan Tanjungsari. Khusus program tersebut Cecep mengaku menargetkan sebanyak 10.000 ekor sapi betina akan memperoleh program sapi wajib pembuahan.

Ia mengungkapkan program yang digulirkan Kementerian Pertanian dalam program sapi induk wajib bunting akan dipusatkan di Kecamatan Tanjungsari yang dikenal sebagai sentra peternakan sapi di Kabupaten Lampung Selatan.   Cecep menegaskan target siwab yang akan dilaksanakan di Lampung Selatan sebanyak 10.000 ekor kebuntingan dengan tekhnik insemenasi buatan (IB) dan selanjutnya akan menyebar ke beberapa kecamatan.

Harapannya produksi ternak sapi di Lampung Selatan bisa lebih ditingkatkan seiring dengan laju konsumsi daging yang meningkat dan sebagian besar pasokan berasal dari Kabupaten Lampung Selatan.

Program tersebut menurut Cecep untuk menjaga kelestarian produksi sapi khususnya di Lampung Selatan yang dikenal sebagai salah satu lumbung ternak di Sumatera. Meski demikian ia mengakui produksi bibit dari Lampung Selatan sebagian terserap ke luar wilayah Lampung. Meski demikian sesuai peraturan daerah maka dilakukan pelarangan terhadap indukan produktif terutama betina untuk dijual keluar Lampung Selatan karena indukan produktif menjadi aset dalam program swasembada ternak di Lampung Selatan.

"Penggunaan tekhnik IB dilakukan untuk menjaga presentase pembuahan karena dengan sistem alami lebih lama dan dengan program IB maka nanti diharapkan serentak akan melakukan panen anakan sapi atau dikenal dengan panen pedet,"ungkap Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan, Cecep Khaerudin, saat dikonfirmasi Cendana News,Jumat (4/11/2016).

Kecamatan Tanjungsari sebagai salah satu sentra peternakan sapi di Kabupaten Lampung Selatan diketahui menjadi sumber plasma nuftah untuk jenis sapi peranakan ongolo (PO). Sebagai kawasan pembibitan dan produksi sapi lokal varietas peranakan ongole atau PO populasi sapi di kawasan ini sebanyak lima ribuan ekor dengan jumlah peternak sebanyak 40-an kelompok. Kawasan tersebut sebagai kawasan sentra peternakan rakyat juga didukung dengan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk penelitian dan pengembangan peternakan.

Berdasarkan data Kabupaten Lampung Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan sapi andalan Lampung. Populasi sapi di kabupaten ini bahkan sebanyak 110 ribu ekor lebih dan jumlah tersebut sekitar 85 ribuan ekor merupakan varietas atau jenis sapi PO. Kawasan Kecamatan Tanjungsari yang dicanangkan sebagai kawasan sentra peternakan rakyat merupakan salah satu upaya Lampung untuk mendukung program swasembada daging nasional.

Upaya untuk menyukseskan program sapi wajib pembuahan tersebut menurut Cecep Khaerudin yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan tersebut di antaranya dengan memberdayakan tenaga insemenasi buatan (IB). Ia mengakui khusus di Kabupaten Lampung Selatan hingga saat ini terdapat sebanyak 60 tenaga IB yang memiliki kemampuan dalam proses insemenasi buatan untuk program sapi wajib pembuahan untuk membantu peternak dalam upaya menjaga kesehatan ternak dan pola peternakan yang baik.

"Tenaga IB yang kita miliki memang masih minim namun semaksimal mungkin kita berdayakan karena khusus untuk IB memang membawahi beberapa kecamatan sementara untuk tugas kesehatan disiapkan khusus tenaga medis khusus untuk hewan ternak," ungkap Cecep Khaerudin.

Salah satu petugas kesehatan dan IB yang bertugas di wilayah Kecamatan Penengahan, Ketapang dan Rajabasa, Rekiansyah, mengaku saat ini dirinya sudah melakukan pendataan di sejumlah kecamatan terkait ternak sapi dan kambing yang hendaka mendapat proses insemenasi buatan. Sebagian peternak sengaja memanggilnya via telepon untuk melakukan proses pembuahan pada ternak yang dimiliki oleh masyarakat.

Kondisi tersebut menurutnya berdasarkan situasi di beberapa wilayah tidak adanya pejantan kambing, sapi unggulan dan berkualitas yang mampu mengawini sehingga produksi bibit atau anakan sapi harus dilakukan dengan sistem IB.

Beberapa jenis bibit insemenasi buatan dari pejantan unggulan diantaranya dari jenis limousine, simental,peranakan ongol (PO), Brahman, Brangus hingga FA. Kesiapan untuk proses IB tersebut diharapkan mampu melanjutkan proses produksi ternak yang ada di Lampung Selatan yang selama ini menggantungkan proses reproduksi secara alami yang lebih lama waktunya.

Sebelumnya pemerintah pusat berjanji akan sesegera mungkin memberdayakan peternak sapi guna mengurangi impor daging sapi dari luar negeri. Ini merupakan langkah menuju swasembada pangan. Bahkan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman,mengungkapkan program sapi wajib pembuahan dengan cara inseminasi buatan ditargetkan mencapai tiga juta ekor.

Rumah Potong Hewan Lamsel Potong 10 Ekor Perhari

Keseriusan dalam pengembangan sektor peternakan juga dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan mengoperasikan rumah potong hewan (RPH) di Desa Kota Dalam Kecamatan Sidomulyo. Kadisnakkeswan Kabupaten Lampung Selatan, Cecep Khaerudin mengungkapkan saat ini RPH yang berada di tepi Jalan Lintas Sumatera tersebut memiliki kemampuan memotong sapi sebanyak 10 ekor perhari meski dalam prosesnya menyesuaikan kebutuhan pasar yang hanya membutuhkan sebanyak 2-3 ekor sapi per hari.

"Saat ini kan kita melihat kebutuhan beberapa pasar yang ada di Lampung Selatan dan kebutuhan sapi yang dipotong di RPH tersebut masih dikisaran dua hingga tiga ekor sapi terutama pada hari biasa,"ungkap Cecep.

Ia mengaku pada hari biasa kebutuhan akan daging sapi dan konsumsi daging sapi masih terbatas diserap oleh sebagian besar rumah makan dan warung. Sementara untuk konsumsi masyarakat umum masih memilih jenis konsumsi daging ayam dan daging lainnya. Peningkatan akan terjadi saat menjelang hari raya keagamaan tertentu.

Lokasi rumah potong hewan yang berada di dekat perusahaan penggemukan sapi (feedlotter) PT Juang Jaya Abdi Alam bisa memberi sarana dalam proses pemotongan sapi. Sebab selama ini proses pemotongan sapi dilakukan di kota Bandarlampung. Selain itu ke depan ia mengaku proses pengiriman daging sapi bisa dilakukan dari tempat tersebut.


Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar: